Sunday, July 22, 2012

BAB 2 Kenny


II. KENNY: From Rags to Riches

Salam kenal.

Gua sebenarnya pengen ngenalin nama gue ke kalian. Tapi gua malu, karena nama gua adalah nama yang paling pasaran se-Indonesia raya ini. Ya kalo bukan yang paling pasaran setidaknya nomer dua paling pasaran. 

Tau nggak nama apa yang paling pasaran se-Indonesia? Agus! Gua yakin kalian pasti punya temen yang namanya Agus. Entah itu di sekolah, kampus, tempat fitness, sodara, atau tetangga. Pasti deh ada yang namanya Agus. 

Tapi nama gua bukan Agus. Nama gua Anto. 

Nah, gua juga yakin nama ini juga gak kalah pasarannya dengan Agus. Dimana-mana pasti ada aja yang namanya Anto. Gua sebenarnya gak suka dipanggil Anto, karena nama asli gue sebenarnya cukup keren: Kenny Arianto Wijaya. 

Gua kalo kenalan ke orang-orang pasti pake nama Kenny. Tapi entah kenapa orang-orang lebih suka memanggil gue Anto. Gak di rumah, gak di sekolah, dimana-mana gua selalu kenalan pake nama Kenny tapi kemudian orang-orang lebih suka memanggil gue Anto. 

Kenapa? Gua juga sedang mencari jawabannya. Satu-satunya orang yang manggil gua Kenny cuma Faruk, temen sebangku gua di sekolah. Kakak gua yang cewek namanya Erika Arianti Wijaya. Yang bikin gua sebel, orang-orang memanggilnya dengan nama Erika. 

Kenapa bukan Anti? Atau Yanti?

Gua lahir dari keluarga, memakai istilah sekarang, WNI keturunan. Sebuah istilah yang menurut gua rancu banget. Tapi ya udahlah, gua gak mau protes masalah ini, lagian memprotes penyebutan nama gua aja gua masih nggak mampu. 

Gua keturunan tionghoa. Beda dengan keturunan tionghoa lain yang kaya-kaya, keluarga gua adalah keluarga yang menengah agak ke bawah. Papi gue bekerja di kapal penangkap ikan. 

Mami gua punya usaha warung makan Chinese food. Warung makan ini letaknya di beranda rumah. Kecil tapi rame banget. Banyak keturunan tionghoa yang kaya-kaya yang makan disini. Sangking ramenya sampai bisa kehabisan parkir. Apalagi rumah keluarga gua ini terletak di sebuah ‘kampung’ di Jakarta. Jadi agak sungkan juga dengan tetangga-tetangga. Untungnya orang-orang ‘kampung’ gua adalah orang-orang yang ramah. Beda banget dengan ‘kampung’ sebelah yang isinya preman semua. Gua gak bisa bayangin kalo seumpama warung gue tuh ada di kampung sebelah. Gak bakalan ada orang yang mau beli!

Erika, kakak gua, tuh cantik banget. Sebuah beban yang teramat berat kalo kalian punya kakak secantik dia. Ke mana-mana pasti kalian jaga. Belum lagi godaan-godaan iseng di pinggir jalan. Kuping gue suka panas dengerinnya. Trus, yang paling bikin sebel kalo teman-teman gue yang cowok udah mulai
manggil gue dengan sebutan ‘adik ipar’. Wuih sebeeeel.

Banyak banget yang naksir ama Erika. Mulai dari yang anak-anak ‘keturunan’ kaya yang tampangnya mirip boyband Korea, sampe pribumi-pribumi yang kere. Semua pasti jatuh hati ama Erika. Dan semua ditolaknya.

Dia itu type cewek cantik yang otaknya cerdas banget, dan juga idealis banget. Dan mulutnya tajam banget. Dia nggak segan-segan mengkritik dan mencela orang secara langsung tanpa basa-basi. Banyak banget cowok yang mukanya merah padam dibuatnya. 

Erika tuh nggak suka ama type-type cowok manis suka dandan yang sok keren gitu. Kata dia tuh dia suka type cowok yang pinter, punya pendirian, dan pendiam. Masalah tampang, suku, ras, ketajiran, dan sebagainya adalah urusan nomer 12,5.

Guru-guru di sekolah juga jerih ama dia. Soalnya dia berani banget berdebat, dan teramat sering menang kalo berdebat. Nilainya selalu paling tinggi di kelas. 

Mungkin kalian pikir Erika tuh adalah tipe cewek yang sombong dan sok cantik Enggak sama sekali!. Dia itu baeeeeek banget. Perhatian sama semua orang, dan yang paling bikin gue kagum, kakak gue itu gak suka dandan. Dia benci
dandan, tapi cantiknya bisa ngalahin cewek-cewek yang menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah hanya untuk dandan.

Erika juga tipe cewek yang mandiri. Selain membantu ibu di warung, dia juga aktif memberi les privat untuk anak-anak SD dan SMP. Anak-anak yang les padanya adalah anak-anaknya cukong-cukong.

Makanya duitnya Erika banyak banget. Mungkin karena cara ngajar Erika yang asik, serta pembawaannya yang ramah sehingga banyak anak kecil yang suka les privat padanya.

Jiwa sosial kakak gua itu juga besar banget. Dia selain memberi les privat, juga nyambi sebagai ‘guru’ sukarela yang mengajar untuk anak-anak kecil yang nggak bisa sekolah di kampung gue. Selain itu dia juga suka ikut-ikutan aktivis mahasiswa dan aktivis gereja untuk memberi bantuan belajar pada anak jalanan, padahal kakak gue itu masih kelas 3 SMA loh.

Erika tuh terlalu pinter sampe-sampe gue dan papi-mami gue gak bisa ngertiin jalan pikiran dia. Pikirannya selalu diasah dengan buku-buku aneh-aneh. Filsafat lah, politik lah, bahkan yang aneh-aneh kayak “Cara Memelihara Sapi Perah” juga dia sikat. Karena hoby membacanya ini, pengetahuan Erika luas banget. Dia bisa ngobrol tentang Freud, Marx, Hegel, Jung, Nietsche, dan lain-lain. 

Erika itu menurut gua adalah sebuah ‘perpustakaan yang terperangkap dalam tubuh seorang fotomodel’. Ngerti
kan maksud gua?

Seperti yang gue bilang tadi, kita sekeluarga gak ada yang bisa ngerti jalan pikiran Erika. Bahkan papi mami pun gak bisa berkata apa-apa kita Erika bilang, “Papi, mami, mulai saat ini Erika adalah seorang atheist!"

Gedubrak, mami cuma bisa ‘sedikit’ pingsan. Papi cuma geleng-geleng. Dan gue cuma tersenyum pahit. Sudah lama gua tau hal ini, tinggal tunggu waktu aja Erika ‘memproklamirkan’ pilihan ‘agama’nya. Papi dan mami juga gak bisa berbuat apa-apa, karena ini memang ada hubungannya dengan cara pandang hidup keluarga gue yang antik. 

Tau gak, agama dalam keluarga gua gak ada yang sama. 

Papi gua Buddha, mami gue katholik, gue muslim, dan kakak gue..,ehm, ‘akhirnya’ atheist. Papi sebagai kepala keluarga membebaskan kami untuk memilih agama sendiri-sendiri. 

Gua gak akan nyeritain sebab-sebab pilihan agama masing-masing, terlalu panjang deh kalo diceritain semua disini.

Masa kecil gue lumayan bahagia. Papi ,walaupun jarang di rumah karena sering melaut, tetap mengikuti perkembangan anak-anaknya. Walaupun gak sepintar mami, papi termasuk orang yang cerdas banget loh. Dia itu juga tegas tapi gak kolot. Pikirannya selalu terbuka dengan masukan, ide-ide baru, bahkan juga kritik. 

Jarang banget ada orang tua yang mau dikritik. 

Nah, papi adalah salah satunya yang mau dan bisa. 

Sering banget gua liat dia dan Erika berdebat tentang banyak hal. Dan keduanya tetap bisa sportif menjaga perdebatan itu biar tetap sehat. Papi juga orang yang sederhana dan gak gengsian. Satu lagi kehebatan papi, dia adalah ahli beladiri. Sejak kecil dia udah belajar dari kong-kong. Kata dia sih
alirannya kung-funya bernama wing-chung. Gua dan Erika juga sejak kecil udah diajarin ama papi.

Kata papi selain untuk jaga diri, beladiri juga berguna untuk menyehatkan tubuh. Dari keluarga kita hanya mami yang gak mau belajar beladiri. Kata mami, beladiri cuma untuk anak berandalan. Tapi mami gak pernah melarang anak-anaknya untuk belajar beladiri. 

Lucu ya? Berarti secara gak langsung mami mengakui kalo anak-anaknya itu berandalan. Hihihi.

Mami itu lahir dari keluarga orang kaya. Kong-kong dari pihak mami itu dulunya adalah juragan beras.
Buyut-buyut gua semua juragan beras di Malang. Orang tua mami dulu gak setuju dengan hubungan cinta antara mami dan papi. Tapi mami nekat kawin lari ama papi ke Jakarta, ninggalin keluarga, ninggalin harta warisan yang lumayan banyak, dan juga mninggalin banyak laki-laki yang patah hati karena cinta mereka bertepuk sebelah tangan.

Mami itu cantik banget loh, juga pinter banget. Jelas banget nurun ke Erika. Cantiknya, pinternya, baeknya, tapi gak judesnya. Gak tau si Erika dapat judesnya itu darimana. Perasaan kita sekeluarga gak ada yang judes. Cuma Erika doing tuh!

Walaupun sederhana, gue bisa bilang keluarga gue itu keluarga berencana, eh maksud gue keluarga bahagia. Kami memang gak sekaya cina-cina lain, tapi setidaknya kami menikmati apa yang kami punya. 

Warung kami selalu ramai, tapi kami gak tambah kaya. Gak tau uangnya kemana. Tapi yang gua tau dari mami, warung memang gak pernah untung banyak karena mami selalu menjual dengan harga murah. Lagian keuntungan mami selalu ditabung untuk biaya kuliah anak-anaknya.

Pengunjung warung kami macam-macam. Ada cukong-cukong kaya, anak-anak muda yang pacaran, mahasiswa, bahkan anak-anak jalanan didikannya Erika. Mami gue yang baek itu gak pernah bilang ‘no way’ kalo Erika membawa anak-anak asuhannya itu untuk makan gratis di warung kami. 

Mami selalu bilang kepada gua dan Erika, “Kalo hari ini kalian menolong orang lain, di lain hari kalian akan ditolong oleh orang lain”. Kata-kata ini gua inget terus dalam hati.

***

Suatu hari, kedamaian rumah kami mulai terganggu ketika ada kabar bahwa beberapa wilayah di kampung kami akan digusur untuk pembangunan mall. Hampir semua penduduk yang rumahnya akan digusur memprotes hal ini, termasuk keluarga kami. 

Berkali-kali kami mengirim delegasi untuk membahas hal ini dengan ‘pihak terkait’, tapi selalu gak ada titik temu. Ini mungkin karena harga yang diminta penduduk dianggap terlalu tinggi oleh pihak developer. Pihak developer hanya nyediain harga separuh dari yang ditawarkan penduduk. Kita semua jelas gak ada yang terima dengan harga segitu, karena wilayah kampung kami termasuk wilayah strategis dan termasuk dalam kawasan ‘emas’ ibukota.

Pihak developer tetap keras kepala. Akhirnya terjadi juga apa yang selama ini kami takutkan, bentrokan fisik antara penduduk kampung dan pihak developer. Kami cuma bersenjatakan batu-batu dan kayu-kayu melawan traktor, dan kendaraan berat yang menghancurkan rumah-rumah kami. 

Hari yang naas itu memang dimulai dengan pembongkaran dan penghancuran paksa rumah-rumah kami. Gue gak pernah mengerti mengapa pihak developer berani menghancurkan rumah kami, padahal belum ada perjanjian kesepakatan. Bahkan penduduk kampung dianggap melanggar hukum karena menentang ‘pembangunan’. 

Gua kemudian baru tau kalo pemilik developer itu adalah anak seorang pejabat tinggi negeri ini. 

Gak heran, hukum di Indonesia memang berfluktuasi sesuai dengan siapa yang punya kuasa, dan punya uang. Papi adalah pemimpin terdepan perlawanan penduduk kampung. 

Batu-batu melayang di udara. Teriakan dan tangisan pecah di kuping. Suasana kacau karena batu-batu yang melayang itu ada yang mengenai penduduk kampung sendiri. Kaca-kaca pecah dan anak-anak kecil menangis ketakutan. Para laki-laki yang berdiri di garis depan bersenjatakan kayu. Papi sudah mewanti-wanti supaya mereka gak membawa senjata tajam, untuk menghindari urusan panjang yang ‘gak perlu’. 

Gua juga berada dalam barisan perlawanan ini. Ikut-ikutan ngelempar batu, ikut-ikutan berantem. Lumayan serem juga ternyata. Gua harus berusaha memukul mundur pihak lawan, disaat yang sama gue juga harus menghindari batu-batu yang melayang dan pentungan dari pihak ‘musuh’.

Selain menghadapi traktor dan alat berat lainnya, penduduk kampung juga harus menghadapi ratusan aparat keamanan yang dibantu ‘orang-orang tak dikenal’. Mereka ini semua memakai ikat kepala merah sebagai tanda golongan. 

Perkelahian antara penduduk kampung dan aparat berlangsung beberapa lama. Untungnya pihak developer tidak melanjutkan pembongkaran karena khawatir alat-alat berat mereka dirusak penduduk. Mereka akhirnya menarik mundur alat-alat, juga orang-orang mereka. Ini semua berkat strategi papi yang membagi barisan perlawanan menjadi dua kelompok. kelompok pertama berhadapan langsung dengan aparat. 

Face to face. 

Kelompok yang kedua bertugas untuk merusak alat-alat berat. Dan siasat ini berjalan sukses. Untuk beberapa hari suasana lumayan tenang.

Namun ketenangan ini sebenarnya adalah persiapan memasuki babak baru yang lebih ‘ramai’ dan berbahaya. Masing-masing pihak mengatur strategi. Suatu malam ada seorang cina berdasi berwajah kantoran yang datang ke warung (warung tetap buka karena mami memang menyediakan makanan
untuk penduduk yang sedang rapat atau berkumpul karena masalah yang ada). 

Cukong itu menemui papi dan menawarkan sejumlah uang jika papi mau menghentikan perlawanan penduduk. Papi menjawab “Saya tidak punya kekuatan apa-apa untuk menghentikan mereka. Jika anda ingin menghentikan mereka, maka anda tinggal menghentkan proyek anda. Semua akan kembali ke rumah masing-masing dengan aman tentram”

“Tapi anda kan pemimpin mereka, setidaknya anda bisa menyuruh mereka untuk menahan diri dan tidak merusak” kata si cukong.

“Mereka akan menahan diri mereka, jika anda menahan alat-alat berat anda merusak rumah mereka” jawab papi.

“Jadi anda menolak tawaran baik kami?” tanya si cukong.

“Saya tidak melihat kebaikan dalam tawaran anda” jawab papi ketus.

“Kalo begitu jangan salahkan kami jika kami menggunakan kekerasan” si cukong mengancam.

“Silahkan. Semakin keras anda memaksa semakin kuat kami melawan” papi menjawab tegas.

Besoknya terdengar kabar bahwa seorang tetangga sebelah mati tertikam ketika sedang mandi di sungai. 
Entah siapa penikamnya. 

Hari-hari berikutnya semakin banyak korban yang tewas secara misterius. Ada yang mati di jalan, mati dirumah sendiri, mati dimana-mana. Dan mereka yang mati itu termasuk dalam barisan perlawanan penduduk kampung. Hal ini membuat kendur semangat yang lain.

Apalagi korban yang mati bertambah banyak, bukan cuma orang dewasa, anak-anak kecil pun banyak yang menjadi korban. Mereka semua mati tertikam, tertabrak bahkan juga ada yang mati tertembak.

Ada sekitar duapuluhan korban hanya dalam beberapa hari. 

Papi tambah marah aja melihat semua ini. Kata papi itu semua tindakan pengecut, tapi papi gak bisa berbuat apa-apa, karena tak ada saksi dan pelakunya tak pernah terungkap.

***

Suatu malam ketika kami semua udah tidur, gue terbangun mendengar suara ribut-ribut. Khawatir ada apa-apa gue lari keluar kamar. Gua kaget banget melihat papi sedang berantem dengan beberapa orang di ruang tamu. Papi menggunakan sebuah golok melawan musuh yang juga bersenjatakan golok. 

Dua orang sudah terkapar di lantai berlumuran darah terkena sabetan golok papi. Gua kemudian menyambar samurai pajangan yang tergantung di dinding ruang tamu, mencoba membantu papi yang dikeroyok.

Bantuan gua kayaknya membuat para pengeroyok semakin khawatir mereka semua mundur dan berlari keluar. 

Papi mengejar, gue juga turut di belakang papi. Tiba-tiba papi berteriak ke gua, “Anto awas mundur!”. 

Lalu terdengar suara letusan tembakan dari sebuah mobil pick up hitam di depan pintu rumah. Papi terkena tembakan namun beliau masih sempat mundur dan menutup pintu depan.

“Anto, kamu bawa mami dan Erika lari” kata papi sambil menahan sakit.

“Gak! Anto mau disini ama papi” jawab gua

“Bodoh, kalo kita semua mati, lalu siapa yang balasin dendam papi?” kata papi 

“Bawa mami dan Erika lewat pintu belakang. Biar papi menahan mereka. Cepaat!”.

Gue gak bisa bilang apa-apa dan lari ke kamar mami yang bersebelahan ama kamar Erika. Mereka semua udah di depan kamar masing-masing dan kayaknya juga dengerin apa kata papi tadi.

Pintu di depan sudah mulai didobrak. “Cepat lari sayang! Papi sayang kalian semua. Jangan lupain dendam papi ini” papi bicara sambil menahan pintu. 

Mami dan Erika cuma bisa menangis, ketika gua menarik mereka menuju pintu belakang. Erika dan mami masih meneriakan nama papi dan menjerit-jerit.

Gue berusaha sekuat tenaga menarik mereka berlari nyelamatin diri. Dari belakang gue liat para bajingan itu sudah berhasil mendobrak pintu. Gua menoleh sebentar. Sekilas terlihat wajah cukong yang dulu menyuap ayah sedang memegang pistol dan sekali lagi menembak ayah yang sudah terkapar
di lantai. 

Ia lalu mengarahkan pistolnya ke arah kami, tapi gua udah keburu menutup pintu belakang. Kami semua lari ke arah perumahan penduduk, berlari tak tentu arah menyusuri gang-gang sempit yang kotor. 

Penduduk kampung sudah mulai keluar untuk melihat apa yang terjadi. Gua menoleh ke belakang, ternyata masih ada beberapa orang yang mengejar. 

Kami lari seperti orang gila, dan sampai di jalan raya. Jalanan udah mulai sepi, kami nyebrang tanpa liat kiri kanan. Ketika itu terdengar bunyi derit rem sebuah mobil. 

Hampir saja kami tertabrak, untung sopirnya sigap. Dari samping sopir keluar sesorang, 

“Kenny? Ya Tuhan, lo kenapa?”

“Faruk? Tolong, kami dikejar-kejar preman!” jawab gua

Ia berpikir cepat “Ayo cepat kalian naik ke bak truk gue” ia lalu lari ke belakang membantu kami menaiki truk itu, “Sudah ayah!” serunya kepada sang sopir. Dengan cepat truk itu pun melaju.

***
Seperti yang udah gue duga, papi gak tertolong lagi. Setelah diadakan pemakaman, kami sekeluarga kemudian pindah ke Malang, ke tempat keluarga mami. 

Gua sebenarnya sedikit khawatir kalo-kalo ntar kami nanti ditolak oleh keluarga di sana. Tapi ketakutan gue itu gak terbukti. Kami malahan diterima
dengan penuh haru. Kong-kong gue malah sampai nangis ngelihat mami yang datang membawa kami, cucu-cucunya.

Peluk dan tangis haru. Ramai banget deh. Mami memang anak tunggal. Karena itu kepergian mami dulu itu membuat kong-kong sedih banget. 

Kembalinya si ‘anak hilang’ dengan membawa dua orang cucu membuat kong-kong bahagia banget.

Untuk sementara, kami menenangkan diri dari kematian papi. Tapi jangan kalian kira kami ngelupain itu semua. Nggak sama sekali. Kami semua sedang mencari cara untuk ngebales kematian papi dengan cara yang lebih kejam. Pembalasan lebih kejam daripada perbuatan. 

Itulah kenapa mami, gua, dan Erika menolak bersaksi di pengadilan. Kalo kami bersaksi dan para bajingan itu ditangkap, mereka hanya akan dipenjara. Sama sekali gak sebanding dengan perbuatan mereka. 

Gua pengen mereka ngerasain apa yang dirasain papi waktu itu. Bahkan kalo mungkin, 1000 kali lebih sakit.

Gak lama kemudian Erika lulus SMA. Dia ngelanjutin kuliah di Amerika. Ambil jurusan hukum. Kalo gak salah dia kuliah di Harvard University. Salah satu universitas terbaik di dunia. Kong-kong yang biayain ini semua. Setahun setelah Erika ke Amerika. 

Gua lulus SMA dan nyusul juga ke Amerika, tapi gua ambil jurusan Bisnis. Kata kong-kong supaya kalo lulus gua bisa nerusin bisnis kong-kong. Itu
juga emang kemauan gua. Gua pengen jadi orang kaya, punya banyak duit. 

Dengan uang kita bisa beli apa aja, kekuasaan, pengaruh. 

Gua pengen dengan ini, gua bisa ngebales dendam papi. Entah gimana caranya, itu urusan nanti. Yang penting gua harus kaya dulu.

Beberapa tahun kemudian gua pulang dari Amerika, lulus dengan predikat Suma Cum Laude. Lulusan terbaik!. Gua akhirnya megang bisnis kong-kong, dan Alhamdulillah bisnisnya meningkat pesat. 

Ilmu yang gua pelajari di Amerika memang bermanfaat banget. Bisnis jadi lancar bahkan gua berhasil ngembangin bisnis ini lebih gede, lebih gila-gilaan. 

Hasilnya, dalam beberapa tahun gue udah berhasil mencapai cita-cita gua: Jadi orang kaya!

BAB 1 Faruk

Malam itu aku pulang agak cepat. Bus metromini tempat aku bekerja sebagai kernet agak ngadat. Biasa, barang tua dan rongsokan seperti itu memang banyak maunya. Rumahku juga tidak terlalu jauh dari terminal. Setelah memarkir bus di terminal, aku bersama bang Idun, sang sopir, pulang dengan berjalan kaki. Kita memang berasal dari ‘kampung’ yang sama. Orang-orang menyebutnya ‘kampung’ walaupun berada di daerah perkotaan. Entah kenapa disebut ‘kampung’. Mungkin karena isinya adalah orang-orang ‘kampungan’. Daerah tempat tinggalku itu sering dianggap sebagai daerah ‘hitam’. Banyak penjahat yang berasal dari daerah ini. Mulai dari yang kelas nyolong sandal di masjid, sampai kelas pembunuh bayaran. Daerah premanlah istilahnya. 

Banyak orang merasa nggak aman berjalan di daerah tempat tinggalku itu. Gang-gang sempit, dan rumah-rumah padat yang nggak beraturan agaknya menyembunyikan dewa kematian di dalamnya. Got-got yang bau, serta warna air kali yang seperti kopi susu juga sepertinya membuat orang luar semakin enggan kemari. Mungkin bagi mereka got dan sungai seperti itu juga tempat bersemayam dewa kematian bernama cholera atau disentri.

Rumah bang Idun di awal gang satu, jadi kami berpisah lebih cepat. Akhirnya aku berjalan sendiri. Rumahku masih sedikit jauh, di gang 8. Bagi orang luar, berjalan kaki di daerah ini pada malam hari adalah bunuh diri. Bagiku biasa saja, karena sebagai ‘orang dalam’, aku kenal dengan siapa saja di kampung ini. 

Sepanjang jalan banyak anak sebayaku nongkrong di pinggir jalan. Saling menyapa denganku. Aku kenal baik dengan mereka. Kebanyakan dari mereka sedang menghangatkan diri dengan alkohol. Ketika aku lewat, mereka menawarkan untuk mampir dan minum-minum. Aku menolak dan selalu menolak. Bukan apa-apa, ayahku dulu meninggal karena terlalu banyak minum-minum.

Aku jadi trauma, padahal dulunya aku suka sekali minum-minum. Oh  iya,bicara tentang ayahku, dia dulu adalah orang yang paling di’sungkani’ di kampungku. Mantan pembunuh bayaran, dan perampok. Dia memulai ‘karir’nya sejak masih remaja sebagai pencuri ulung. Lama-lama ‘karir’nya meningkat hingga jadi pencabut nyawa. Untunglah sebelum meninggal, ia sudah bertobat
dan meninggalkan dunia itu. Namun kebiasaannya minum-minumnya di usia muda dulu membuat masa tuanya dipenuhi penyakit. Penyakit itulah yang kemudian menjadi pembunuh sang pembunuh bayaran.

Aku akhirnya sampai juga di rumah. Sedikit heran juga mengetahui pintu depan di kunci. Padahal biasanya jam segini pintu masih terbuka, dan adik-adikku masih menonton TV di ruang depan. Iksan, adikku yang nomer dua, yang membukakan pintu setelah beberapa saat aku mengetoknya.
Wajahnya agak sedikit berbeda. Ia biasanya tersenyum menyapaku kalau aku pulang. Aku langsung
merasa ada yang tak beres.
“Ada apa?” tanyaku
“Ibu dipukul orang.” Katanya
“Hah? Mana ibu?” aku jadi kaget dan panik
“Di kamar, lagi di pijit ama Kak Intan.” Jawabnya. Aku segera berlari masuk ke kamar ibu. Intan, adikku yang pertama sedang memijit-mijit kaki ibu yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Wajahnya lebam, bagian matanya membengkak dan membiru. Juga ada bekas darah kering di ujung hidung ibu.

“Kenapa ibu dipukul? Siapa yang memukul bu?” tanyaku sedikit panik. Perasaanku campur adukantara marah, kaget, dan sedih.

“Udah nak, nggak usah rame-rame. Ntar tambah panjang masalahnya” jawab ibu. Aku tak terima jawaban ini. Ku paksa ibu untuk menjawab.

“Nggak bisa bu, kemana muka saya kalau cuma diam saat ibu sendiri dipukul orang.” Setelah lama memaksa, akhirnya ibu bercerita semuanya.

Ibuku adalah sebagai pembantu rumah tangga. Setiap pagi sekali datang ke rumah majikannya, pulangnya setelah maghrib. Ibu bekerja di rumah seorang artis muda cantik yang tinggal sendirian.

Artis yang lagi naik daun ini memang cantik sekali. Aku kadang melihatnya di TV. Namun aku baru tahu kebobrokannya setelah ibu cerita kalo ternyata dia adalah simpanan oom-oom. Si oom juga bukan orang sembarangan, kata ibu. Pejabat yang tiap hari naik mobil keren. Hampir setiap malam si oom pasti tidur di sana. Beberapa kali ibu ketemu dengan oom itu. Biasanya kalo datang pagi, ibu secara nggak sengaja sering melihat si oom masih tidur-tiduran di kamar si artis cuma pakai celana kolor.

Sore tadi ketika mau pamit pulang. Si oom cekcok berat dengan si artis. Bahkan sampai main pukul segala. Ibu yang sebenarnya takut melerai, menjadi berani karena nggak tega melihat si artis dipukul seperti maling. 

Akhirnya ibu mencoba melerai mereka. Tak tahunya ibu dipukul juga. Mendengar itu, rasa kagetku tadi berubah menjadi amarah. Melihat perubahan sikapku ibu mencoba menenangkan, dan berkata bahwa ini sudah nasib dan jangan mencoba melakukan hal-hal ‘macam-macam’. 

Aku sudah tidak lagi bisa mendengar kata-kata ibu. Badanku bergetar karena emosi, kepala sudah panas, dan gigiku sudah gemeretak. Segera aku ke belakang mengambil golok lalu ku bungkus dengan koran. Ibu yang masih pening kepalanya berusaha bangkit dari tempat tidur untuk mengejarku. Aku sudah tak perduli. Kehormatan ibuku sudah diinjak-injak. Dalam kepalaku yang ada hanya mempertahankan kehormatan ibuku. Aku tak memikir apa-apa lagi.

Segera aku berlari meninggalkan rumah. Intan dan Iksan ku suruh menjaga ibu. Aku lalu menuju tempat nongkrong teman-teman kampungku. Mereka kaget dan melihat aku berlari seperti orang gila. 

“Ada apa?” tanya mereka. “Ibuku dipukul orang” jawabku. 

Mendengar jawabanku, mereka seperti tau apa yang harus dilakukan. Kelompok nongkrong itu bubar, berlari ke rumah masing-masing mengambil senjata tajam. Ada juga yang mengambil sepeda motor di rumah. 

Beberapa saat kemudian mereka sudah berkumpul lagi. Aku sudah lupa berapa jumlahnya, seingatku tak kurang dari 5 dan tak lebih dari 10. Segera kami berangkat ke rumah si artis. Rumahnya di kompleks perumahan elit. 

Selama perjalanan, yang ada di kepalaku cuma menghajar si oom itu. Masalah lain urusan belakang. Golok kugenggam kuat-kuat. Hari ini aku yang mati, atau dia yang mati. 

Demi Tuhan, siapa pun di dunia ini tak akan terima jika ibunya dipukul orang. Apalagi ibuku bukan maling atau penjahat.

Kemarahanku sudah memuncak dan sudah sampai ubun-ubun. Awas kau oom! Aku tak perduli kau pejabat atau bukan. Satu pukulannya kepada ibu, akan kubalas dengan seratus bacokan.

Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di rumah si artis. Pos satpam di bagian depan kami terobos saja. Aku nggak tau apa yang dilakukan satpam-satpam itu setelah kami menerobos. Begitu sampai di depan rumah, pintu pagarnya terbuka. Nampaknya si oom bersama supir sudah mau pulang, atau mungkin baru datang. Mereka berada di dekat mobil Mercy ketika aku mengkomando teman-teman untuk menyerang.

Tapi salah seorang temanku menahanku, dan bertanya “Apa betul itu orang yang memukul ibumu?”. 

Aku sebenarnya nggak yakin pasti, namun secara nalar, sudah barang tentu orang itulah si oom itu. Aku pun menjawab “Ya, itu dia”.

Segera setelah jawaban itu keluar dari mulutku, aku menerima tendangan, pukulan, dan serangan bertubi-tubi dari teman-temanku sendiri. Tak sempat lagi ku berpikir, karena sibuk menangkis puluhan tinju yang diarahkan ke wajah dan tubuh.

“Hey, kenapa…” belum selesai aku bicara, sepuluh pukulan sudah menghampiriku. Aku berusaha menangkis dan menghindar. Membalas memukul. Namun apa daya, mereka terlalu banyak dan beringas.

Aku semakin tersudut. Pukulan dan tendangan yang datang rasanya seperti hantaman palu yang bertubi-tubi menerpaku. Akhirnya aku tak kuat lagi. Segalanya lalu jadi gelap.

Ketika sadar, aku merasa berbaring di atas sebuah lantai yang dingin. Sekujur tubuh rasanya sakit sekali. Kepala serasa berat dan berputar-putar. Aku mencoba membuka mata, namun walaupun mataku terbuka tetap saja penglihatanku tak jelas. Rasanya mataku bengkak. Aku mencoba memeriksa
sekujur tubuhku. Aku takut kalau ada bagian tubuhku yang hilang. Untunglah yang ada hanya luka-luka memar dan beberapa pendarahan kecil. Ada rasa asin dan perih dalam mulutku, mungkin beberapa gigiku yang retak atau patah. 
Dalam hati, aku sedikit bersyukur karena teman-temanku tidak menggunakan senjata tajam ketika mengeroyokku.

Lama-lama penglihatanku mulai terasa terang, dan rasa pening di kepala mulai menghilang. Aku mulai sadar kalau sekarang berada di balik terali besi. Suasana tahanan semacam ini tidak begitu membuatku takut, mungkin karena terbiasa sejak kecil sering mengunjungi ayah yang memang akrab dengan penjara.

Sakit di sekujur tubuh ini mulai terasa mengganggu. Membuatku sulit bergerak. Pikiranku masih melayang-layang, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa teman-temanku berbalik mengeroyokku?.

Pertanyaan itu terjawab ketika besok paginya ibu bersama Intan mengunjungiku. Beliau mendengar kabar penahananku dari si artis. Ibu cerita bahwa si oom, yang merupakan pejabat tinggi itu ternyata memiliki pengaruh yang amat luas. Ia memilik banyak massa. Kebanyakan diantaranya adalah preman-preman yang siap menjadi sesuruhannya. Preman-preman ini di’pelihara’ untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, kedudukan politiknya, dan juga bisnis-bisnisnya. Mereka ini juga dipakai untuk mengintimidasi lawan-lawannya. Dan ternyata teman-temanku adalah sebagian kecil dari preman-preman yang dipeliharanya.

Aku kaget mendengar cerita ibu. Tak kusangka begini jadinya. Memang, karena pekerjaanku sebagai kernet, aku jarang kumpul dengan teman-teman kampung karena harus bekerja dari pagi hingga malam. Keadaan dan perkembangan kampung tak lagi kuikuti. Aku tak tau kalau sekarang mereka adalah peliharaan pejabat tinggi.

Hari demi hari kujalani dalam tahanan. Aku dibawa ke pengadilan dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Ancaman kurungan bertahun-tahun sudah di depan mata. Hampir gila rasanya memikirkan nasib ibu dan kedua adikku. 

Selain keluargaku, hanya bang Idun yang perduli dengan nasibku. Dia kadang datang menjenguk dan menyabarkan hatiku. Ia tak mampu banyak menolong. Yang bisa kuminta padanya hanyalah menitip ibu dan adik adikku.

Ketika sidang selesai, aku dihukum 5 tahun penjara, karena melakukan percobaan pembunuhan terhadap pejabat negara. Aku tak mampu membayar pengacara top untuk membelaku. Seluruh pembelaanku, dan juga aduan terhadap penganiayaan ibuku juga tak diindahkan hakim. 

Berat rasanya memikirkan bahwa kini ibuku harus menanggung banyak beban. Ketika menjengukku di penjara, ibu cerita kalau keluarga kami sering di teror. Rumah sering dilempari batu. Adikku Intan sering digoda oleh para lelaki di kampung. Adikku Iksan malah sering dipukuli mereka. 

Ini semua membuatku menangis. Tangisan ini menjadi dendam yang sangat membara dalam hatiku. Aku tak tau harus berbuat apa. Yang paling membuatku sedih dan kecewa adalah pengkhianatan teman-temanku sendiri. Mereka adalah teman-temanku sejak kecil. Namun persahabatan itu hilang karena hati mereka sudah terbeli oleh uang.

Hidupku kini hanya dihabiskan memikirkan nasib. Seandainya Tuhan menukarkan nasibku dengan nasib si Oom. Menjadi orang berpangkat dan berkedudukan, punya banyak uang untuk dihamburkan, mampu membeli mobil mobil dan rumah-rumah mewah, punya simpanan dimana-mana, bisa kencan dengan artis-artis cantik, punya kekuasaan, punya banyak massa, kebal hukum, dan bisa seenaknya memukuli orang tanpa harus menanggung akibatnya.. Betapa nikmat hidup seperti itu.

Pantas saja begitu banyak orang ingin jadi pejabat dan penguasa.

Paradoxa

Sebagai pengantar dari album rekaman C-Four yang kedua, novel ini saya rilis resmi. Album kedua C-Four dibuat berdasarkan kisah-kisah yang berada dalam novel ini. Keunikan novel ini adalah, novel ini ditulis dalam bab-bab yang terpisah yang bisa dibaca sebagai satu keseluruhan, namun juga bisa dibaca secara terpisah.

Mari kita mulai petualangan!