Malam itu aku pulang agak cepat. Bus metromini tempat aku bekerja sebagai kernet agak ngadat. Biasa, barang tua dan rongsokan seperti itu memang banyak maunya. Rumahku juga tidak terlalu jauh dari terminal. Setelah memarkir bus di terminal, aku bersama bang Idun, sang sopir, pulang dengan berjalan kaki. Kita memang berasal dari ‘kampung’ yang sama. Orang-orang menyebutnya ‘kampung’ walaupun berada di daerah perkotaan. Entah kenapa disebut ‘kampung’. Mungkin karena isinya adalah orang-orang ‘kampungan’. Daerah tempat tinggalku itu sering dianggap sebagai daerah ‘hitam’. Banyak penjahat yang berasal dari daerah ini. Mulai dari yang kelas nyolong sandal di masjid, sampai kelas pembunuh bayaran. Daerah premanlah istilahnya.
Banyak orang merasa nggak aman berjalan di daerah tempat tinggalku itu. Gang-gang sempit, dan rumah-rumah padat yang nggak beraturan agaknya menyembunyikan dewa kematian di dalamnya. Got-got yang bau, serta warna air kali yang seperti kopi susu juga sepertinya membuat orang luar semakin enggan kemari. Mungkin bagi mereka got dan sungai seperti itu juga tempat bersemayam dewa kematian bernama cholera atau disentri.
Rumah bang Idun di awal gang satu, jadi kami berpisah lebih cepat. Akhirnya aku berjalan sendiri. Rumahku masih sedikit jauh, di gang 8. Bagi orang luar, berjalan kaki di daerah ini pada malam hari adalah bunuh diri. Bagiku biasa saja, karena sebagai ‘orang dalam’, aku kenal dengan siapa saja di kampung ini.
Sepanjang jalan banyak anak sebayaku nongkrong di pinggir jalan. Saling menyapa denganku. Aku kenal baik dengan mereka. Kebanyakan dari mereka sedang menghangatkan diri dengan alkohol. Ketika aku lewat, mereka menawarkan untuk mampir dan minum-minum. Aku menolak dan selalu menolak. Bukan apa-apa, ayahku dulu meninggal karena terlalu banyak minum-minum.
Aku jadi trauma, padahal dulunya aku suka sekali minum-minum. Oh iya,bicara tentang ayahku, dia dulu adalah orang yang paling di’sungkani’ di kampungku. Mantan pembunuh bayaran, dan perampok. Dia memulai ‘karir’nya sejak masih remaja sebagai pencuri ulung. Lama-lama ‘karir’nya meningkat hingga jadi pencabut nyawa. Untunglah sebelum meninggal, ia sudah bertobat
dan meninggalkan dunia itu. Namun kebiasaannya minum-minumnya di usia muda dulu membuat masa tuanya dipenuhi penyakit. Penyakit itulah yang kemudian menjadi pembunuh sang pembunuh bayaran.
Aku akhirnya sampai juga di rumah. Sedikit heran juga mengetahui pintu depan di kunci. Padahal biasanya jam segini pintu masih terbuka, dan adik-adikku masih menonton TV di ruang depan. Iksan, adikku yang nomer dua, yang membukakan pintu setelah beberapa saat aku mengetoknya.
Wajahnya agak sedikit berbeda. Ia biasanya tersenyum menyapaku kalau aku pulang. Aku langsung
merasa ada yang tak beres.
“Ada apa?” tanyaku
“Ibu dipukul orang.” Katanya
“Hah? Mana ibu?” aku jadi kaget dan panik
“Di kamar, lagi di pijit ama Kak Intan.” Jawabnya. Aku segera berlari masuk ke kamar ibu. Intan, adikku yang pertama sedang memijit-mijit kaki ibu yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Wajahnya lebam, bagian matanya membengkak dan membiru. Juga ada bekas darah kering di ujung hidung ibu.
“Kenapa ibu dipukul? Siapa yang memukul bu?” tanyaku sedikit panik. Perasaanku campur adukantara marah, kaget, dan sedih.
“Udah nak, nggak usah rame-rame. Ntar tambah panjang masalahnya” jawab ibu. Aku tak terima jawaban ini. Ku paksa ibu untuk menjawab.
“Nggak bisa bu, kemana muka saya kalau cuma diam saat ibu sendiri dipukul orang.” Setelah lama memaksa, akhirnya ibu bercerita semuanya.
Ibuku adalah sebagai pembantu rumah tangga. Setiap pagi sekali datang ke rumah majikannya, pulangnya setelah maghrib. Ibu bekerja di rumah seorang artis muda cantik yang tinggal sendirian.
Artis yang lagi naik daun ini memang cantik sekali. Aku kadang melihatnya di TV. Namun aku baru tahu kebobrokannya setelah ibu cerita kalo ternyata dia adalah simpanan oom-oom. Si oom juga bukan orang sembarangan, kata ibu. Pejabat yang tiap hari naik mobil keren. Hampir setiap malam si oom pasti tidur di sana. Beberapa kali ibu ketemu dengan oom itu. Biasanya kalo datang pagi, ibu secara nggak sengaja sering melihat si oom masih tidur-tiduran di kamar si artis cuma pakai celana kolor.
Sore tadi ketika mau pamit pulang. Si oom cekcok berat dengan si artis. Bahkan sampai main pukul segala. Ibu yang sebenarnya takut melerai, menjadi berani karena nggak tega melihat si artis dipukul seperti maling.
Akhirnya ibu mencoba melerai mereka. Tak tahunya ibu dipukul juga. Mendengar itu, rasa kagetku tadi berubah menjadi amarah. Melihat perubahan sikapku ibu mencoba menenangkan, dan berkata bahwa ini sudah nasib dan jangan mencoba melakukan hal-hal ‘macam-macam’.
Aku sudah tidak lagi bisa mendengar kata-kata ibu. Badanku bergetar karena emosi, kepala sudah panas, dan gigiku sudah gemeretak. Segera aku ke belakang mengambil golok lalu ku bungkus dengan koran. Ibu yang masih pening kepalanya berusaha bangkit dari tempat tidur untuk mengejarku. Aku sudah tak perduli. Kehormatan ibuku sudah diinjak-injak. Dalam kepalaku yang ada hanya mempertahankan kehormatan ibuku. Aku tak memikir apa-apa lagi.
Segera aku berlari meninggalkan rumah. Intan dan Iksan ku suruh menjaga ibu. Aku lalu menuju tempat nongkrong teman-teman kampungku. Mereka kaget dan melihat aku berlari seperti orang gila.
“Ada apa?” tanya mereka. “Ibuku dipukul orang” jawabku.
Mendengar jawabanku, mereka seperti tau apa yang harus dilakukan. Kelompok nongkrong itu bubar, berlari ke rumah masing-masing mengambil senjata tajam. Ada juga yang mengambil sepeda motor di rumah.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berkumpul lagi. Aku sudah lupa berapa jumlahnya, seingatku tak kurang dari 5 dan tak lebih dari 10. Segera kami berangkat ke rumah si artis. Rumahnya di kompleks perumahan elit.
Selama perjalanan, yang ada di kepalaku cuma menghajar si oom itu. Masalah lain urusan belakang. Golok kugenggam kuat-kuat. Hari ini aku yang mati, atau dia yang mati.
Demi Tuhan, siapa pun di dunia ini tak akan terima jika ibunya dipukul orang. Apalagi ibuku bukan maling atau penjahat.
Kemarahanku sudah memuncak dan sudah sampai ubun-ubun. Awas kau oom! Aku tak perduli kau pejabat atau bukan. Satu pukulannya kepada ibu, akan kubalas dengan seratus bacokan.
Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di rumah si artis. Pos satpam di bagian depan kami terobos saja. Aku nggak tau apa yang dilakukan satpam-satpam itu setelah kami menerobos. Begitu sampai di depan rumah, pintu pagarnya terbuka. Nampaknya si oom bersama supir sudah mau pulang, atau mungkin baru datang. Mereka berada di dekat mobil Mercy ketika aku mengkomando teman-teman untuk menyerang.
Tapi salah seorang temanku menahanku, dan bertanya “Apa betul itu orang yang memukul ibumu?”.
Aku sebenarnya nggak yakin pasti, namun secara nalar, sudah barang tentu orang itulah si oom itu. Aku pun menjawab “Ya, itu dia”.
Segera setelah jawaban itu keluar dari mulutku, aku menerima tendangan, pukulan, dan serangan bertubi-tubi dari teman-temanku sendiri. Tak sempat lagi ku berpikir, karena sibuk menangkis puluhan tinju yang diarahkan ke wajah dan tubuh.
“Hey, kenapa…” belum selesai aku bicara, sepuluh pukulan sudah menghampiriku. Aku berusaha menangkis dan menghindar. Membalas memukul. Namun apa daya, mereka terlalu banyak dan beringas.
Aku semakin tersudut. Pukulan dan tendangan yang datang rasanya seperti hantaman palu yang bertubi-tubi menerpaku. Akhirnya aku tak kuat lagi. Segalanya lalu jadi gelap.
Ketika sadar, aku merasa berbaring di atas sebuah lantai yang dingin. Sekujur tubuh rasanya sakit sekali. Kepala serasa berat dan berputar-putar. Aku mencoba membuka mata, namun walaupun mataku terbuka tetap saja penglihatanku tak jelas. Rasanya mataku bengkak. Aku mencoba memeriksa
sekujur tubuhku. Aku takut kalau ada bagian tubuhku yang hilang. Untunglah yang ada hanya luka-luka memar dan beberapa pendarahan kecil. Ada rasa asin dan perih dalam mulutku, mungkin beberapa gigiku yang retak atau patah.
Dalam hati, aku sedikit bersyukur karena teman-temanku tidak menggunakan senjata tajam ketika mengeroyokku.
Lama-lama penglihatanku mulai terasa terang, dan rasa pening di kepala mulai menghilang. Aku mulai sadar kalau sekarang berada di balik terali besi. Suasana tahanan semacam ini tidak begitu membuatku takut, mungkin karena terbiasa sejak kecil sering mengunjungi ayah yang memang akrab dengan penjara.
Sakit di sekujur tubuh ini mulai terasa mengganggu. Membuatku sulit bergerak. Pikiranku masih melayang-layang, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa teman-temanku berbalik mengeroyokku?.
Pertanyaan itu terjawab ketika besok paginya ibu bersama Intan mengunjungiku. Beliau mendengar kabar penahananku dari si artis. Ibu cerita bahwa si oom, yang merupakan pejabat tinggi itu ternyata memiliki pengaruh yang amat luas. Ia memilik banyak massa. Kebanyakan diantaranya adalah preman-preman yang siap menjadi sesuruhannya. Preman-preman ini di’pelihara’ untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, kedudukan politiknya, dan juga bisnis-bisnisnya. Mereka ini juga dipakai untuk mengintimidasi lawan-lawannya. Dan ternyata teman-temanku adalah sebagian kecil dari preman-preman yang dipeliharanya.
Aku kaget mendengar cerita ibu. Tak kusangka begini jadinya. Memang, karena pekerjaanku sebagai kernet, aku jarang kumpul dengan teman-teman kampung karena harus bekerja dari pagi hingga malam. Keadaan dan perkembangan kampung tak lagi kuikuti. Aku tak tau kalau sekarang mereka adalah peliharaan pejabat tinggi.
Hari demi hari kujalani dalam tahanan. Aku dibawa ke pengadilan dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Ancaman kurungan bertahun-tahun sudah di depan mata. Hampir gila rasanya memikirkan nasib ibu dan kedua adikku.
Selain keluargaku, hanya bang Idun yang perduli dengan nasibku. Dia kadang datang menjenguk dan menyabarkan hatiku. Ia tak mampu banyak menolong. Yang bisa kuminta padanya hanyalah menitip ibu dan adik adikku.
Ketika sidang selesai, aku dihukum 5 tahun penjara, karena melakukan percobaan pembunuhan terhadap pejabat negara. Aku tak mampu membayar pengacara top untuk membelaku. Seluruh pembelaanku, dan juga aduan terhadap penganiayaan ibuku juga tak diindahkan hakim.
Berat rasanya memikirkan bahwa kini ibuku harus menanggung banyak beban. Ketika menjengukku di penjara, ibu cerita kalau keluarga kami sering di teror. Rumah sering dilempari batu. Adikku Intan sering digoda oleh para lelaki di kampung. Adikku Iksan malah sering dipukuli mereka.
Ini semua membuatku menangis. Tangisan ini menjadi dendam yang sangat membara dalam hatiku. Aku tak tau harus berbuat apa. Yang paling membuatku sedih dan kecewa adalah pengkhianatan teman-temanku sendiri. Mereka adalah teman-temanku sejak kecil. Namun persahabatan itu hilang karena hati mereka sudah terbeli oleh uang.
Hidupku kini hanya dihabiskan memikirkan nasib. Seandainya Tuhan menukarkan nasibku dengan nasib si Oom. Menjadi orang berpangkat dan berkedudukan, punya banyak uang untuk dihamburkan, mampu membeli mobil mobil dan rumah-rumah mewah, punya simpanan dimana-mana, bisa kencan dengan artis-artis cantik, punya kekuasaan, punya banyak massa, kebal hukum, dan bisa seenaknya memukuli orang tanpa harus menanggung akibatnya.. Betapa nikmat hidup seperti itu.
Pantas saja begitu banyak orang ingin jadi pejabat dan penguasa.
No comments:
Post a Comment