Sunday, July 22, 2012

BAB 2 Kenny


II. KENNY: From Rags to Riches

Salam kenal.

Gua sebenarnya pengen ngenalin nama gue ke kalian. Tapi gua malu, karena nama gua adalah nama yang paling pasaran se-Indonesia raya ini. Ya kalo bukan yang paling pasaran setidaknya nomer dua paling pasaran. 

Tau nggak nama apa yang paling pasaran se-Indonesia? Agus! Gua yakin kalian pasti punya temen yang namanya Agus. Entah itu di sekolah, kampus, tempat fitness, sodara, atau tetangga. Pasti deh ada yang namanya Agus. 

Tapi nama gua bukan Agus. Nama gua Anto. 

Nah, gua juga yakin nama ini juga gak kalah pasarannya dengan Agus. Dimana-mana pasti ada aja yang namanya Anto. Gua sebenarnya gak suka dipanggil Anto, karena nama asli gue sebenarnya cukup keren: Kenny Arianto Wijaya. 

Gua kalo kenalan ke orang-orang pasti pake nama Kenny. Tapi entah kenapa orang-orang lebih suka memanggil gue Anto. Gak di rumah, gak di sekolah, dimana-mana gua selalu kenalan pake nama Kenny tapi kemudian orang-orang lebih suka memanggil gue Anto. 

Kenapa? Gua juga sedang mencari jawabannya. Satu-satunya orang yang manggil gua Kenny cuma Faruk, temen sebangku gua di sekolah. Kakak gua yang cewek namanya Erika Arianti Wijaya. Yang bikin gua sebel, orang-orang memanggilnya dengan nama Erika. 

Kenapa bukan Anti? Atau Yanti?

Gua lahir dari keluarga, memakai istilah sekarang, WNI keturunan. Sebuah istilah yang menurut gua rancu banget. Tapi ya udahlah, gua gak mau protes masalah ini, lagian memprotes penyebutan nama gua aja gua masih nggak mampu. 

Gua keturunan tionghoa. Beda dengan keturunan tionghoa lain yang kaya-kaya, keluarga gua adalah keluarga yang menengah agak ke bawah. Papi gue bekerja di kapal penangkap ikan. 

Mami gua punya usaha warung makan Chinese food. Warung makan ini letaknya di beranda rumah. Kecil tapi rame banget. Banyak keturunan tionghoa yang kaya-kaya yang makan disini. Sangking ramenya sampai bisa kehabisan parkir. Apalagi rumah keluarga gua ini terletak di sebuah ‘kampung’ di Jakarta. Jadi agak sungkan juga dengan tetangga-tetangga. Untungnya orang-orang ‘kampung’ gua adalah orang-orang yang ramah. Beda banget dengan ‘kampung’ sebelah yang isinya preman semua. Gua gak bisa bayangin kalo seumpama warung gue tuh ada di kampung sebelah. Gak bakalan ada orang yang mau beli!

Erika, kakak gua, tuh cantik banget. Sebuah beban yang teramat berat kalo kalian punya kakak secantik dia. Ke mana-mana pasti kalian jaga. Belum lagi godaan-godaan iseng di pinggir jalan. Kuping gue suka panas dengerinnya. Trus, yang paling bikin sebel kalo teman-teman gue yang cowok udah mulai
manggil gue dengan sebutan ‘adik ipar’. Wuih sebeeeel.

Banyak banget yang naksir ama Erika. Mulai dari yang anak-anak ‘keturunan’ kaya yang tampangnya mirip boyband Korea, sampe pribumi-pribumi yang kere. Semua pasti jatuh hati ama Erika. Dan semua ditolaknya.

Dia itu type cewek cantik yang otaknya cerdas banget, dan juga idealis banget. Dan mulutnya tajam banget. Dia nggak segan-segan mengkritik dan mencela orang secara langsung tanpa basa-basi. Banyak banget cowok yang mukanya merah padam dibuatnya. 

Erika tuh nggak suka ama type-type cowok manis suka dandan yang sok keren gitu. Kata dia tuh dia suka type cowok yang pinter, punya pendirian, dan pendiam. Masalah tampang, suku, ras, ketajiran, dan sebagainya adalah urusan nomer 12,5.

Guru-guru di sekolah juga jerih ama dia. Soalnya dia berani banget berdebat, dan teramat sering menang kalo berdebat. Nilainya selalu paling tinggi di kelas. 

Mungkin kalian pikir Erika tuh adalah tipe cewek yang sombong dan sok cantik Enggak sama sekali!. Dia itu baeeeeek banget. Perhatian sama semua orang, dan yang paling bikin gue kagum, kakak gue itu gak suka dandan. Dia benci
dandan, tapi cantiknya bisa ngalahin cewek-cewek yang menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah hanya untuk dandan.

Erika juga tipe cewek yang mandiri. Selain membantu ibu di warung, dia juga aktif memberi les privat untuk anak-anak SD dan SMP. Anak-anak yang les padanya adalah anak-anaknya cukong-cukong.

Makanya duitnya Erika banyak banget. Mungkin karena cara ngajar Erika yang asik, serta pembawaannya yang ramah sehingga banyak anak kecil yang suka les privat padanya.

Jiwa sosial kakak gua itu juga besar banget. Dia selain memberi les privat, juga nyambi sebagai ‘guru’ sukarela yang mengajar untuk anak-anak kecil yang nggak bisa sekolah di kampung gue. Selain itu dia juga suka ikut-ikutan aktivis mahasiswa dan aktivis gereja untuk memberi bantuan belajar pada anak jalanan, padahal kakak gue itu masih kelas 3 SMA loh.

Erika tuh terlalu pinter sampe-sampe gue dan papi-mami gue gak bisa ngertiin jalan pikiran dia. Pikirannya selalu diasah dengan buku-buku aneh-aneh. Filsafat lah, politik lah, bahkan yang aneh-aneh kayak “Cara Memelihara Sapi Perah” juga dia sikat. Karena hoby membacanya ini, pengetahuan Erika luas banget. Dia bisa ngobrol tentang Freud, Marx, Hegel, Jung, Nietsche, dan lain-lain. 

Erika itu menurut gua adalah sebuah ‘perpustakaan yang terperangkap dalam tubuh seorang fotomodel’. Ngerti
kan maksud gua?

Seperti yang gue bilang tadi, kita sekeluarga gak ada yang bisa ngerti jalan pikiran Erika. Bahkan papi mami pun gak bisa berkata apa-apa kita Erika bilang, “Papi, mami, mulai saat ini Erika adalah seorang atheist!"

Gedubrak, mami cuma bisa ‘sedikit’ pingsan. Papi cuma geleng-geleng. Dan gue cuma tersenyum pahit. Sudah lama gua tau hal ini, tinggal tunggu waktu aja Erika ‘memproklamirkan’ pilihan ‘agama’nya. Papi dan mami juga gak bisa berbuat apa-apa, karena ini memang ada hubungannya dengan cara pandang hidup keluarga gue yang antik. 

Tau gak, agama dalam keluarga gua gak ada yang sama. 

Papi gua Buddha, mami gue katholik, gue muslim, dan kakak gue..,ehm, ‘akhirnya’ atheist. Papi sebagai kepala keluarga membebaskan kami untuk memilih agama sendiri-sendiri. 

Gua gak akan nyeritain sebab-sebab pilihan agama masing-masing, terlalu panjang deh kalo diceritain semua disini.

Masa kecil gue lumayan bahagia. Papi ,walaupun jarang di rumah karena sering melaut, tetap mengikuti perkembangan anak-anaknya. Walaupun gak sepintar mami, papi termasuk orang yang cerdas banget loh. Dia itu juga tegas tapi gak kolot. Pikirannya selalu terbuka dengan masukan, ide-ide baru, bahkan juga kritik. 

Jarang banget ada orang tua yang mau dikritik. 

Nah, papi adalah salah satunya yang mau dan bisa. 

Sering banget gua liat dia dan Erika berdebat tentang banyak hal. Dan keduanya tetap bisa sportif menjaga perdebatan itu biar tetap sehat. Papi juga orang yang sederhana dan gak gengsian. Satu lagi kehebatan papi, dia adalah ahli beladiri. Sejak kecil dia udah belajar dari kong-kong. Kata dia sih
alirannya kung-funya bernama wing-chung. Gua dan Erika juga sejak kecil udah diajarin ama papi.

Kata papi selain untuk jaga diri, beladiri juga berguna untuk menyehatkan tubuh. Dari keluarga kita hanya mami yang gak mau belajar beladiri. Kata mami, beladiri cuma untuk anak berandalan. Tapi mami gak pernah melarang anak-anaknya untuk belajar beladiri. 

Lucu ya? Berarti secara gak langsung mami mengakui kalo anak-anaknya itu berandalan. Hihihi.

Mami itu lahir dari keluarga orang kaya. Kong-kong dari pihak mami itu dulunya adalah juragan beras.
Buyut-buyut gua semua juragan beras di Malang. Orang tua mami dulu gak setuju dengan hubungan cinta antara mami dan papi. Tapi mami nekat kawin lari ama papi ke Jakarta, ninggalin keluarga, ninggalin harta warisan yang lumayan banyak, dan juga mninggalin banyak laki-laki yang patah hati karena cinta mereka bertepuk sebelah tangan.

Mami itu cantik banget loh, juga pinter banget. Jelas banget nurun ke Erika. Cantiknya, pinternya, baeknya, tapi gak judesnya. Gak tau si Erika dapat judesnya itu darimana. Perasaan kita sekeluarga gak ada yang judes. Cuma Erika doing tuh!

Walaupun sederhana, gue bisa bilang keluarga gue itu keluarga berencana, eh maksud gue keluarga bahagia. Kami memang gak sekaya cina-cina lain, tapi setidaknya kami menikmati apa yang kami punya. 

Warung kami selalu ramai, tapi kami gak tambah kaya. Gak tau uangnya kemana. Tapi yang gua tau dari mami, warung memang gak pernah untung banyak karena mami selalu menjual dengan harga murah. Lagian keuntungan mami selalu ditabung untuk biaya kuliah anak-anaknya.

Pengunjung warung kami macam-macam. Ada cukong-cukong kaya, anak-anak muda yang pacaran, mahasiswa, bahkan anak-anak jalanan didikannya Erika. Mami gue yang baek itu gak pernah bilang ‘no way’ kalo Erika membawa anak-anak asuhannya itu untuk makan gratis di warung kami. 

Mami selalu bilang kepada gua dan Erika, “Kalo hari ini kalian menolong orang lain, di lain hari kalian akan ditolong oleh orang lain”. Kata-kata ini gua inget terus dalam hati.

***

Suatu hari, kedamaian rumah kami mulai terganggu ketika ada kabar bahwa beberapa wilayah di kampung kami akan digusur untuk pembangunan mall. Hampir semua penduduk yang rumahnya akan digusur memprotes hal ini, termasuk keluarga kami. 

Berkali-kali kami mengirim delegasi untuk membahas hal ini dengan ‘pihak terkait’, tapi selalu gak ada titik temu. Ini mungkin karena harga yang diminta penduduk dianggap terlalu tinggi oleh pihak developer. Pihak developer hanya nyediain harga separuh dari yang ditawarkan penduduk. Kita semua jelas gak ada yang terima dengan harga segitu, karena wilayah kampung kami termasuk wilayah strategis dan termasuk dalam kawasan ‘emas’ ibukota.

Pihak developer tetap keras kepala. Akhirnya terjadi juga apa yang selama ini kami takutkan, bentrokan fisik antara penduduk kampung dan pihak developer. Kami cuma bersenjatakan batu-batu dan kayu-kayu melawan traktor, dan kendaraan berat yang menghancurkan rumah-rumah kami. 

Hari yang naas itu memang dimulai dengan pembongkaran dan penghancuran paksa rumah-rumah kami. Gue gak pernah mengerti mengapa pihak developer berani menghancurkan rumah kami, padahal belum ada perjanjian kesepakatan. Bahkan penduduk kampung dianggap melanggar hukum karena menentang ‘pembangunan’. 

Gua kemudian baru tau kalo pemilik developer itu adalah anak seorang pejabat tinggi negeri ini. 

Gak heran, hukum di Indonesia memang berfluktuasi sesuai dengan siapa yang punya kuasa, dan punya uang. Papi adalah pemimpin terdepan perlawanan penduduk kampung. 

Batu-batu melayang di udara. Teriakan dan tangisan pecah di kuping. Suasana kacau karena batu-batu yang melayang itu ada yang mengenai penduduk kampung sendiri. Kaca-kaca pecah dan anak-anak kecil menangis ketakutan. Para laki-laki yang berdiri di garis depan bersenjatakan kayu. Papi sudah mewanti-wanti supaya mereka gak membawa senjata tajam, untuk menghindari urusan panjang yang ‘gak perlu’. 

Gua juga berada dalam barisan perlawanan ini. Ikut-ikutan ngelempar batu, ikut-ikutan berantem. Lumayan serem juga ternyata. Gua harus berusaha memukul mundur pihak lawan, disaat yang sama gue juga harus menghindari batu-batu yang melayang dan pentungan dari pihak ‘musuh’.

Selain menghadapi traktor dan alat berat lainnya, penduduk kampung juga harus menghadapi ratusan aparat keamanan yang dibantu ‘orang-orang tak dikenal’. Mereka ini semua memakai ikat kepala merah sebagai tanda golongan. 

Perkelahian antara penduduk kampung dan aparat berlangsung beberapa lama. Untungnya pihak developer tidak melanjutkan pembongkaran karena khawatir alat-alat berat mereka dirusak penduduk. Mereka akhirnya menarik mundur alat-alat, juga orang-orang mereka. Ini semua berkat strategi papi yang membagi barisan perlawanan menjadi dua kelompok. kelompok pertama berhadapan langsung dengan aparat. 

Face to face. 

Kelompok yang kedua bertugas untuk merusak alat-alat berat. Dan siasat ini berjalan sukses. Untuk beberapa hari suasana lumayan tenang.

Namun ketenangan ini sebenarnya adalah persiapan memasuki babak baru yang lebih ‘ramai’ dan berbahaya. Masing-masing pihak mengatur strategi. Suatu malam ada seorang cina berdasi berwajah kantoran yang datang ke warung (warung tetap buka karena mami memang menyediakan makanan
untuk penduduk yang sedang rapat atau berkumpul karena masalah yang ada). 

Cukong itu menemui papi dan menawarkan sejumlah uang jika papi mau menghentikan perlawanan penduduk. Papi menjawab “Saya tidak punya kekuatan apa-apa untuk menghentikan mereka. Jika anda ingin menghentikan mereka, maka anda tinggal menghentkan proyek anda. Semua akan kembali ke rumah masing-masing dengan aman tentram”

“Tapi anda kan pemimpin mereka, setidaknya anda bisa menyuruh mereka untuk menahan diri dan tidak merusak” kata si cukong.

“Mereka akan menahan diri mereka, jika anda menahan alat-alat berat anda merusak rumah mereka” jawab papi.

“Jadi anda menolak tawaran baik kami?” tanya si cukong.

“Saya tidak melihat kebaikan dalam tawaran anda” jawab papi ketus.

“Kalo begitu jangan salahkan kami jika kami menggunakan kekerasan” si cukong mengancam.

“Silahkan. Semakin keras anda memaksa semakin kuat kami melawan” papi menjawab tegas.

Besoknya terdengar kabar bahwa seorang tetangga sebelah mati tertikam ketika sedang mandi di sungai. 
Entah siapa penikamnya. 

Hari-hari berikutnya semakin banyak korban yang tewas secara misterius. Ada yang mati di jalan, mati dirumah sendiri, mati dimana-mana. Dan mereka yang mati itu termasuk dalam barisan perlawanan penduduk kampung. Hal ini membuat kendur semangat yang lain.

Apalagi korban yang mati bertambah banyak, bukan cuma orang dewasa, anak-anak kecil pun banyak yang menjadi korban. Mereka semua mati tertikam, tertabrak bahkan juga ada yang mati tertembak.

Ada sekitar duapuluhan korban hanya dalam beberapa hari. 

Papi tambah marah aja melihat semua ini. Kata papi itu semua tindakan pengecut, tapi papi gak bisa berbuat apa-apa, karena tak ada saksi dan pelakunya tak pernah terungkap.

***

Suatu malam ketika kami semua udah tidur, gue terbangun mendengar suara ribut-ribut. Khawatir ada apa-apa gue lari keluar kamar. Gua kaget banget melihat papi sedang berantem dengan beberapa orang di ruang tamu. Papi menggunakan sebuah golok melawan musuh yang juga bersenjatakan golok. 

Dua orang sudah terkapar di lantai berlumuran darah terkena sabetan golok papi. Gua kemudian menyambar samurai pajangan yang tergantung di dinding ruang tamu, mencoba membantu papi yang dikeroyok.

Bantuan gua kayaknya membuat para pengeroyok semakin khawatir mereka semua mundur dan berlari keluar. 

Papi mengejar, gue juga turut di belakang papi. Tiba-tiba papi berteriak ke gua, “Anto awas mundur!”. 

Lalu terdengar suara letusan tembakan dari sebuah mobil pick up hitam di depan pintu rumah. Papi terkena tembakan namun beliau masih sempat mundur dan menutup pintu depan.

“Anto, kamu bawa mami dan Erika lari” kata papi sambil menahan sakit.

“Gak! Anto mau disini ama papi” jawab gua

“Bodoh, kalo kita semua mati, lalu siapa yang balasin dendam papi?” kata papi 

“Bawa mami dan Erika lewat pintu belakang. Biar papi menahan mereka. Cepaat!”.

Gue gak bisa bilang apa-apa dan lari ke kamar mami yang bersebelahan ama kamar Erika. Mereka semua udah di depan kamar masing-masing dan kayaknya juga dengerin apa kata papi tadi.

Pintu di depan sudah mulai didobrak. “Cepat lari sayang! Papi sayang kalian semua. Jangan lupain dendam papi ini” papi bicara sambil menahan pintu. 

Mami dan Erika cuma bisa menangis, ketika gua menarik mereka menuju pintu belakang. Erika dan mami masih meneriakan nama papi dan menjerit-jerit.

Gue berusaha sekuat tenaga menarik mereka berlari nyelamatin diri. Dari belakang gue liat para bajingan itu sudah berhasil mendobrak pintu. Gua menoleh sebentar. Sekilas terlihat wajah cukong yang dulu menyuap ayah sedang memegang pistol dan sekali lagi menembak ayah yang sudah terkapar
di lantai. 

Ia lalu mengarahkan pistolnya ke arah kami, tapi gua udah keburu menutup pintu belakang. Kami semua lari ke arah perumahan penduduk, berlari tak tentu arah menyusuri gang-gang sempit yang kotor. 

Penduduk kampung sudah mulai keluar untuk melihat apa yang terjadi. Gua menoleh ke belakang, ternyata masih ada beberapa orang yang mengejar. 

Kami lari seperti orang gila, dan sampai di jalan raya. Jalanan udah mulai sepi, kami nyebrang tanpa liat kiri kanan. Ketika itu terdengar bunyi derit rem sebuah mobil. 

Hampir saja kami tertabrak, untung sopirnya sigap. Dari samping sopir keluar sesorang, 

“Kenny? Ya Tuhan, lo kenapa?”

“Faruk? Tolong, kami dikejar-kejar preman!” jawab gua

Ia berpikir cepat “Ayo cepat kalian naik ke bak truk gue” ia lalu lari ke belakang membantu kami menaiki truk itu, “Sudah ayah!” serunya kepada sang sopir. Dengan cepat truk itu pun melaju.

***
Seperti yang udah gue duga, papi gak tertolong lagi. Setelah diadakan pemakaman, kami sekeluarga kemudian pindah ke Malang, ke tempat keluarga mami. 

Gua sebenarnya sedikit khawatir kalo-kalo ntar kami nanti ditolak oleh keluarga di sana. Tapi ketakutan gue itu gak terbukti. Kami malahan diterima
dengan penuh haru. Kong-kong gue malah sampai nangis ngelihat mami yang datang membawa kami, cucu-cucunya.

Peluk dan tangis haru. Ramai banget deh. Mami memang anak tunggal. Karena itu kepergian mami dulu itu membuat kong-kong sedih banget. 

Kembalinya si ‘anak hilang’ dengan membawa dua orang cucu membuat kong-kong bahagia banget.

Untuk sementara, kami menenangkan diri dari kematian papi. Tapi jangan kalian kira kami ngelupain itu semua. Nggak sama sekali. Kami semua sedang mencari cara untuk ngebales kematian papi dengan cara yang lebih kejam. Pembalasan lebih kejam daripada perbuatan. 

Itulah kenapa mami, gua, dan Erika menolak bersaksi di pengadilan. Kalo kami bersaksi dan para bajingan itu ditangkap, mereka hanya akan dipenjara. Sama sekali gak sebanding dengan perbuatan mereka. 

Gua pengen mereka ngerasain apa yang dirasain papi waktu itu. Bahkan kalo mungkin, 1000 kali lebih sakit.

Gak lama kemudian Erika lulus SMA. Dia ngelanjutin kuliah di Amerika. Ambil jurusan hukum. Kalo gak salah dia kuliah di Harvard University. Salah satu universitas terbaik di dunia. Kong-kong yang biayain ini semua. Setahun setelah Erika ke Amerika. 

Gua lulus SMA dan nyusul juga ke Amerika, tapi gua ambil jurusan Bisnis. Kata kong-kong supaya kalo lulus gua bisa nerusin bisnis kong-kong. Itu
juga emang kemauan gua. Gua pengen jadi orang kaya, punya banyak duit. 

Dengan uang kita bisa beli apa aja, kekuasaan, pengaruh. 

Gua pengen dengan ini, gua bisa ngebales dendam papi. Entah gimana caranya, itu urusan nanti. Yang penting gua harus kaya dulu.

Beberapa tahun kemudian gua pulang dari Amerika, lulus dengan predikat Suma Cum Laude. Lulusan terbaik!. Gua akhirnya megang bisnis kong-kong, dan Alhamdulillah bisnisnya meningkat pesat. 

Ilmu yang gua pelajari di Amerika memang bermanfaat banget. Bisnis jadi lancar bahkan gua berhasil ngembangin bisnis ini lebih gede, lebih gila-gilaan. 

Hasilnya, dalam beberapa tahun gue udah berhasil mencapai cita-cita gua: Jadi orang kaya!

No comments:

Post a Comment