III. ERIKA: Eyes Are the Windows of the Soul
Bagi manusia biasa, pencarian terhadap
Tuhan adalah pencarian tiada akhir. Kita bukan manusia suci atau nabi yang
mendapat pencerahan dan penerangan. Kita hanya manusia biasa yang
terombang-ambing dalam ‘hitam-putih-abu-abu’. Begitu juga kisah pencarianku.
Aku memulainya dari semenjak aku masih
kecil. Mami mengajarkan bahwa Tuhanku adalah seorang lelaki berjanggut,
berambut pirang bermata biru bernama Yesus. Gambar-gambarnya selalu mami pajang
di dinding kamar. Bersanding dengan gambar seorang berwajah ramah, bertubuh
besar, dan bertelinga lebar. Aku bertanya, “Mami, siapakah orang gundul itu?”
“Dia bernama Sidharta Gautama,
orang-orang mengenalnya dengan nama Buddha” jawab mami.
“Apakah dia tuhan juga?” tanyaku.
Mami tidak menjawab.
“Kalo dia bukan tuhan, kenapa gambarnya
bersanding dengan Yesus? Kalo dia tuhan, kenapa ada tuhan selain Yesus?
Bukankah kata mami Tuhan cuma satu? Aku bingung mami” kataku lagi.
“Tuhan mami adalah Yesus, sayang. Kalau
Buddha ini, coba kamu tanya sama papi” jawab mami
”Loh Tuhannya mami sama Tuhannya papi
beda ya?” tanyaku lagi.
mami cuma menjawab sambil tersenyum “Kalo kamu
udah besar, kamu nanti mengerti sendiri kok”.
“Kenapa harus nunggu sampai Erika
besar?” aku bertanya sedikit heran.
“Orang besar punya pikiran lebih luas,
kalo anak kecil masih belum…”
“Belum tentu, kemaren Erika ngobrol sama
tante di sebelah. Erika ngerasa lebih pinter dari tante itu. Erika hafal
nama-nama mentri. Erika hafal nama nama presiden di dunia. Erika bisa bahasa
inggris. Tante itu malah nggak tau apa-apa” sahutku.
Mami sepertinya kesulitan menjawab.
“Baiklah. Kalo sudah besar Erika pasti
tau jawabannya” aku menyambung lagi. Kasihan aku melihat mami terbata-bata.
***
Kata orang aku adalah anak yang cerdas.
Aku rasa memang begitu. Aku sudah bisa membaca sebelum masuk TK. Aku bahkan
sudah hafal nama-nama benda dalam bahasa Inggris. Di sekolah nilai raportku selalu bagus, dan
aku selalu rangking pertama di kelas. Aku selalu terbiasa jadi nomer satu. Bagiku
menjadi nomer 2 adalah kutukan. Lomba nyanyi, puisi, atau lomba balap karung,
aku tetap harus jadi nomer satu. Dan memang begitulah, aku selalu jadi nomer
satu.
Waktu aku SMP, aku menemukan sebuah
surat di laci meja tempat ku duduk di kelas. Ketika membaca isinya, aku tau
kalau itu adalah surat cinta. Ini adalah surat cinta pertama yang aku terima.
Lucu juga isinya. Aku tak tau siapa penulisnya, yang jelas pasti dari salah
seorang pengagumku. Aku tau aku punya banyak pengagum. Aku bisa merasakan pandangan
mata cowok-cowok yang kagum menatapku. Aku juga bisa merasakan pandangan iri
cewek-cewek lain. Mungkin mereka iri karena aku lebih pintar dari mereka.
Mungkin juga mereka iri karena aku lebih cantik. Karena kata orang-orang aku
ini cantik. Entahlah. Aku tidak pernah merasa diriku ini cantik. Bagiku orang
yang paling cantik yang pernah kulihat adalah mami. Kadang ketika jalan dengan
mami aku bangga sekali. Karena aku merasa sedang berjalan dengan orang yang
paling cantik sedunia. Pandangan mata kagum orang-orang selalu mengiringi kami.
Semenjak kecil aku sudah bisa merasakan ini. Jadi aku bisa membedakan mana
pandangan mata kagum, mana pandangan mata kurang ajar, mana pandangan mata
nafsu. Aku begitu terbiasa dengan hal ini, sehingga lama-lama aku bisa menebak
isi hati seseorang hanya lewat pandangan matanya. Apakah mereka berbohong, atau
berkata jujur, semua bisa dilihat dari pandangan mata.
Surat cinta pertama itu lalu diikuti
dengan surat-surat cinta berikutnya. Pengirimnya juga beda-beda. Aku tau dari
tulisannya. Kemudian ada juga beberapa cowok yang menyatakan cinta secara
langsung. Lucu juga ketika melihat cara mereka ‘menembak’. Merendah-rendahkan
diri sendiri, memuji aku setinggi langit. “Kamu seperti bidadari”, “kamu lah
impian hidupku”, “Aku rela melakukan apa saja demi cintamu”, dan lain-lain.
Lucu sekaligus memuakkan. Betapa orang rela melakukan kebodohan hanya untuk
mencapai yang diinginkannya. Semua ungkapan cinta itu aku tanggapi dengan
bercanda. Bagiku ini sekedar lucu-lucuan. Tapi banyak sekali dari mereka yang
tersinggung dan menganggapku sombong. Mungkin karena ‘bercanda’ ku ditanggapi
secara berbeda. Atau mungkin cara bercandaku yang dianggap ‘aneh’.
Entahlah.
Di usia SMP aku menganggap bahwa cinta
cowok dan cewek itu palsu belaka. Cinta yang berlandaskan keinginan memiliki
seperti itu adalah sebuah kebohongan besar. Cinta seperti itu adalah cinta yang
hanya ingin memuaskan diri sendiri. Menyenangkan diri sendiri. Jika cinta
ditolak maka patah hatilah ia, sedih dan kecewa. Kenapa? Karena tidak mampu
memiliki atau mendapatkan kekasih hati. Jika cinta diterima dan resmi menjadi
‘pacar’, maka berbahagialah dia. Menurutku ini bukan cinta sejati. Cinta sejati
tidak akan bersedih ketika ditolak, karena cinta tetaplah cinta. Cinta sejati
juga tidak akan bergembira ketika diterima, karena cinta adalah cinta. Ditolak
atau diterima tidaklah berpengaruh karena cinta tidak memerlukan balasan. Cinta
tidak memerlukan kesenangan-kesenangan.
Jika ada orang yang bersedih karena
cintanya ditolak, maka sesungguhnya ia tidak mencintai ‘kekasihnya’ itu, tetapi
mencintai diri sendiri. Diri sendiri inilah yang ingin memiliki, ingin
disenangkan, ingin dipuaskan, ingin merasa bangga karena bersanding dengan
kekasih. Dan ia seketika hancur, sedih, dan kecewa ketika ‘diri’nya tidak
terpuaskan karena cintanya ditolak atau putus cinta.
Semua itu palsu! Cinta seperti itu bukan
cinta sejati. Aku sendiri tak pernah mengerti tentang cinta sejati. Dulu aku
menganggap bahwa cinta sejati itu adalah cinta orang tua terhadap anaknya,
cinta seorang ibu terhadap anaknya. Tapi saat aku SMA aku mulai berpikir lagi
tentang hal ini.
Jika seorang wanita menikah dengan
laki-laki, mereka jelas ingin memiliki keturunan. Akhirnya mereka
‘berhubungan’, si wanita lalu hamil, sembilan bulan lebih sedikit. Ia mengalami
berbagai ‘penderitaan’ ketika hamil dan melahirkan. Ketika lahir anak itu
dirawat, dan dididik sampai besar dalam segala kesusahan. Orang berkata bahwa
inilah cinta yang sejati. Menurutku ini pun sama palsunya dengan cinta cowok-cewek.
Kenapa? Karena suami-istri itulah yang menginginkan anak. Jika mereka
menginginkan anak, maka sudah sepatutnya mereka merawat dan mendidik anak. Itu
adalah tanggung jawab. Memberi makan, membersihkan kotoran, dan lain-lain. Anak
tidak pernah minta untuk dilahirkan. Anak tidak pernah minta untuk dirawat.
Karena orang tua sendirilah yang menginginkan kehadiran anak. Jika mereka ingin
seorang anak, maka konsekwensi yang timbul adalah bahwa mereka harus menjaga
dan merawatnya sampai besar. Wong, yang bikin mereka sendiri kok. Anak
kan tidak pernah minta dilahirkan.
Apalagi ketika si anak menjadi besar,
orang tua mulai mengaturnya. Anak harus patuh kepada keinginan orang tua. Harus
menjadi seperti yang dimpikan orang tua. Harus mengharumkan nama orang tua. Jika
si anak tidak patuh terhadap orang tua, maka si anak dianggap tidak menghargai
jasa-jasa orang tua yang telah membesarkannya. Ini bukan cinta sejati, tetapi
cinta yang meminta timbal balik. Bukankah ini sama palsunya dengan cinta
cowok-cewek itu?.
Bagaimana dengan cinta terhadap Tuhan?
Inilah cinta yang paling palsu sedunia. Manusia menyembah Tuhan, melaksanakan
perintah dan menjauhi larangan-Nya, karena mereka ingin masuk surga. Berdoa
karena ingin kemauan dan harapannya terkabul. Ibadah akhirnya seperti jual beli
di pasar!
Lalu bagaimana dengan cinta Tuhan
terhadap manusia. Kalau itu, aku tak pernah tau jawabannya. Aku belum pernah
menjadi Tuhan, atau mengenalnya secara pribadi. Gambaran Tuhan yang ada saat
ini adalah gambaran buatan manusia. Aku tak pernah tahu isi hati Tuhan seperti
apa.
Ketika aku SMA aku sering mengikuti
aktivitas di gereja. Mengumpulkan dana untuk kaum miskin, mengadakan pendidikan
gratis untuk anak jalanan, dan kegiatan amal lainnya. Aku sering mengikuti para
aktivis gereja mengunjungi daerah kumuh perkotaan. Ini kulakukan bukan sebagai
bentuk ibadah. Aku hanya tak tega melihat nasib orang-orang tertindas. Bagiku
nasib mereka perlu diperjuangkan. Karena manusia-manusia lain sudah terllalu
sombong untuk sekedar berbelas kasih terhadap mereka. Ini juga sekedar bentuk
‘protes’ kecil-kecilan terhadap Tuhan. Jika Engkau menciptakan mereka dalam
keadaan seperti ini dan tak pernah memperhatikan mereka, maka akulah yang akan
memperhatikan mereka.
Ketua dari aktivis-aktivis gereja ini adalah
seorang suster bernama Suster Agnes. Beliau adalah seorang suster berumur 50
tahun, berwajah teduh, dan bertubuh sedang. Aku suka sekali berdekatan dengan
suster Agnes. Beliau memiliki aura kasih sayang yang tidak aku temukan
dimanapun. Dekat dengannya membuat perasaanku tenang dan nyaman. Sering aku
berdiskusi dengan beliau tentang berbagai hal, terutama tentang Tuhan. Aku
sangat mengagumi pengetahuan dan pandangan hidupnya. Sebaliknya, beliau juga
mengagumi ‘hobby’ ku melahap bacaan-bacaan berat seperti Nietzsche, Hegel,
bahkan yang modern seperti Chomsky. Beliau juga mewanti-wanti bahwa
bacaan-bacaan itu “Berbahaya untuk anak seusiamu”.
Kunjungan-kunjungan dan aktivitas amalku
ini suatu hari membuatku bertemu dengan serombongan mahasiswa. Mereka adalah
para aktivis yang juga melakukan hal yang sama dengan kami, memberi bantuan
belajar pada anak jalanan. Selain itu mereka juga memberi bantuan advokasi pada
penduduk setempat. Mereka ini berisi anak-anak muda yang bersemangat, cerdas,
dan juga rajin.
Ada salah seorang diantara mereka yang
menarik perhatianku. Namanya Reno. Tubuhnya sedikit tinggi, dengan rambut
sepanjang antara kuping dan bahu. Orangnya ramai dan lumayan lucu karena suka
bercanda. Setiap orang digodanya. Dan sepertinya semua orang disini
mengenalnya. Dia sering bercerita hal yang lucu-lucu, entah itu karangannya
sendiri, atau memang itu benar-benar terjadi. Karena ceritanya selalu dimulai
dengan, “Eh, kamu tau nggak, kemaren tetanggaku…” atau “Kemaren temanku…”. Dan
ketika ia sudah mulai dengan cerita lucunya itu semua orang akan menghentikan
aktivitasnya, tekun mendengarkan, dan menutupnya dengan sebuah ledakan tawa
yang membahana.
Sepertinya dia memang tidak pernah
serius. Pandangan matanya yang riang dan jenaka seperti menunjukkan bahwa ia
tidak pernah memiliki beban hidup. Orang-orang senang berada dekatnya.
Anak-anak yang kami asuh pun begitu. Kehadirannya selalu membuat suasana cerah
dan lebih hidup.
Tapi suatu hari aku kaget ketika di
suatu forum rapat antara sesama aktivis, ia menjadi orang yang sama sekali
berbeda. Matanya tajam dan mencorong, kata-katanya dalam dan berisi. Ia pun
tampak berwibawa. Seketika itu auranya berubah menjadi orang yang sama sekali
berbeda. Dan tampaknya ia mengerti betul apa yang dibicarakannya. Setiap kata
tersusun rapi dan penuh makna.
Seusai rapat aku bertanya pada David,
salah seorang temannya, “Bang Reno hari ini tampil beda ya?”
“Haha, kaget ya? Reno memang begitu. Dia
itu dikenal sebagai macan forum. Semua orang dibantainya dalam forum.
Haha” jawab David.
“Tapi argumen-argumennya ‘kena’ semua
kok. Kayaknya semua yang diomonginnya emang masuk akal” ujarku.
“Iya, makanya julukannya macam forum.
Aku paling takut berdebat sama dia. Soalnya aku nanti pasti berbalik jadi
pendukung pendapatnya, padahal sebelumnya menentang. Kacau” kata David.
Hmm… macan forum, boleh juga. Aku
pengen berdebat sekali-sekali dengan kamu. Batinku dalam hati. Pada
kesempatan tadi aku tidak sempat berdebat dengannya, karena kebetulan pendapat
kami sama.
Mulai saat itu, aku sering mencari-cari
kesempatan untuk ngobrol dengannya. Dan obrolan-obrolan kami lebih banyak
bercanda daripada serius. Padahal aku sudah berusaha ‘menggiringnya’ pada
topik-topik yang ‘panas’. Semua ditanggapinya dengan pandangan jenaka, dan
celetukan celetukan khasnya. Lucu memang, tapi bukan itu yang kucari. Semakin
aku mencoba, semakin lucu juga dia. Reno, kamu memang aneh.
Tapi dari obrolan-obrolan itu kami
menjadi semakin akrab. Aku suka sekali dengan carita-cerita humornya yang
seperti tak ada habisnya. Dia sepertinya memang tak pernah kehabisan ide.
Bahkan lelucon-lelucon yang nyerempet suku, agama, dan ras juga disikatnya. Dan
‘untung’nya lebih terasa lucu daripada menyakitkan.
“Mei-mei” begitu dia memanggilku, “Dulu
aku pernah punya temen akrab banget loh, ya warga keturunan juga kayak
kamu” lanjutnya.
“Oh ya ?” jawabku. Aku sudah
bersiap-siap untuk mendengarkan guyonannya yang baru.
“Tapi dia itu setiap ujian gak pernah
lulus. Padahal anaknya cerdas banget loh” kata Reno.
“Lho kok bisa? Emang kenapa?” tanyaku
penasaran.
“Gara-gara dia gak bisa baca soal
ujiannya” jawabnya yang langsung diikuti oleh tawa orang-orang yang berada
disitu. Ramai banget sampai ndelosor di tanah. Aku masih bingung, dimana
lucunya?. Tapi setelah beberapa lama berpikir, aku baru nyantol.
Ternyata gara-gara matanya yang sipit. DASAR! Aku jadi ikutan tertawa
juga, sambil melayangkan tinju-tinju kecil. Dia cuma ketawa sambil berlari-lari
menghindar.
Pernah juga suatu hari aku bertanya
padanya. “Abang tuh sebenarnya kuliah dimana?”
“Di Ponds Institute” jawabnya ringan. Dasar!
guyon lagi.
“Hehehe, gak kok. Abang itu kuliah di
Fakultas Kodekteran” kata dia lagi.
“Oh ya? Hebat dong” sahutku
“Tapi cuma D1 doang loh” katanya lagi.
“Heh? Emang ada D1 kedokteran?” aku
heran.
“Iya, lulusnya cuma jadi mantri sunat!
hahaha”
Dasar berandalan!!!!
Aku semakin suka saja ngobrol dengan
dia. Kami menjadi bertambah akrab. Setiap ada kegiatan, kami selalu terlihat
berdua. Orang-orang sampai berkata kami terlihat seperti kakak beradik. Kami
juga sering diskusi berduaan.
Aku pun mulai tertarik memperhatikannya.
Ini jelas bukan cinta, karena aku rasa ketertarikanku pada saat itu timbul
karena perasaan kagum. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di dalam kepala
manusia unik satu ini. Semakin kuperhatikan, aku mulai paham dengan
sifat-sifatnya, kebiasaan-kebiasaannya, hal-hal yang disukai dan dibencinya.
Reno ternyata punya perasaan yang halus
sekali. Pernah secara tak sengaja aku memergokinya sedang mengerjap-ngerjap
mata karena menangis. Ketika ku tanya kenapa, ia menjawab terharu karena
mendengar sebuah lagu. Aku tertarik, lagu macam apa yang bisa bikin seorang
manusia macam Reno menangis. Ia memberikan discman yang tiap saat
dibawanya itu kepadaku. Terdengar sebuah alunan suara merdu dari seorang
wanita:
Long ago, and oh so far away,
I fell in love with you before the
second show,
Your guitar it sounds so sweet and
clear,
But you’re not really here,
It’s just the radio,
Don’t you remember you told me you love
me baby?
You said you’ll be coming back this way
again oh baby,
Baby, baby, baby, baby oh baby,
I love you I really do,
Loneliness is such a sad affair,
And I can hardly wait to be with you
again,
What to say to make you come again,
Come back to me again,
And play your sad guitar,
“Ini lagunya siapa bang?” tanyaku
“The Carpenters” jawabnya.
“Wah band jadul ya? Ketahuan dari
musiknya nih. Aku sih taunya musik-musik jazz dan klasik. Kalo yang kayak gini
kayaknya gak ngikutin deh” kataku.
“Oh ini band lama, tahun 70an gitu. Lagu
yang kamu denger itu Judulnya Superstar” jawabnya
“Dari liriknya kayaknya nyeritain cewek
yang ditinggal pergi ama cowoknya yang seorang superstar ya?” tanyaku.
“Iya” Reno menjawab pendek.
“Abang kok nangis dengerinnya? Nah loh
punya kenangan indah ama lagu ini ya?” tanyaku setengah menggoda.
“Oh nggak. Aku nangis soalnya bayangin
perasaan kamu kalo aku tinggal pergi. Hehehe” mata jenaka itu kini bersinar
lagi.
“Abaaaaaaaaang! Dasar tukang iseng!”
Kami semakin dekat. Ngobrol dan
menghabiskan waktu berdua. Reno adalah seorang laki-laki yang cerdas,
berpengetahuan dan berpandangan luas. Ia juga pintar bernyanyi sambil main
gitar. Kami sering sekali bernyanyi-nyanyi dan berdiskusi membahas apa saja.
Tapi setelah sekian lama aku memperhatikan, ia ternyata tidak pernah memandang
langsung ke wajahku ketika berbicara, atau setidaknya eye to eye.
Padahal ketika berbicara dengan orang lain, ia selalu memandang langsung ke
mata mereka. Pada awalnya aku gak begitu memperhatikan hal ini. Tapi lama-lama
terasa juga. Aku sempat bertanya padanya, “Abang kalo aku perhatiin kok gak
pernah berani sih natap aku langsung?” Dia menunduk, dan memang aku baru sadar,
selama ini ia lebih banyak memandang ke bawah atau ke arah jauh di belakangku
ketika ketika berbicara.
“Ng…apa?” ia gelagapan dan sepertinya
bingung. Aku tau pasti. Aku sudah terbiasa membaca pandangan mata.
“Iya. Kenapa selalu nunduk kalo ngobrol.
Emang aku semut?” aku mencoba bercanda.
“Aku takut jatuh hati ama kamu, mei-mei”
ia menjawab.
Serius. God, selama
berbulan-bulan dekat dengan dia, baru kali ini aku lihat dia serius di luar
forum.
Dan setelah berkata itu dia pergi. Aku
masih shocked. Reno bisa serius? Dunia mau kiamat kayaknya.
Hari-hari selanjutnya berlangsung
seperti biasa. Reno masih tetap dengan kelakuannya yang selalu becanda, namun
berbeda 180 derajat ketika berada di forum. Aku malah jadi lupa dengan
keinginanku untuk berdebat dengannya. Karena aku menjadi semakin terpesona
dengan kemampuannya berbicara. Ia terlihat begitu gagah. Apa yang dikeluarakan
dari mulutnya terasa seperti mantra yang mampu menyihir orang-orang yang
mendengarkannya. Reno, jika kamu hidup di abad pertengahan, kamu pasti sudah
dibakar hidup-hidup karena dianggap penyihir.
Kegiatan kami pun mulai semakin
bertambah. Mami sempat protes karena aku lebih banyak menghabiskan waktu keluar
rumah, tapi kemudian memaklumi karena ini memang kegiatan gereja dan juga tidak
berpengaruh pada nilai di sekolah . Ada beberapa kegiatan dimana aku bertemu
Reno, ada yang tidak. Karena dia memang bukan aktivis gereja, tapi aktivis
kampus yang kebetulan punya basis kegiatan yang sama dengan aktivis gerejaku.
Terasa ada yang kurang jika dalam kegiatanku aku tak bertemu dengannya. Entah
kenapa, aku pun tak tahu. Hari-hari serasa kurang bersemangat. Mungkin aku
kecanduan dengan mata jenakanya, humor-humor gilanya, senyum cerahnya, juga
keunikannya. Bermingu-minggu lamanya aku tak bertemu Reno. Kata beberapa orang
dia memang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Ada perasaan kangen karena sudah
beberapa lama aku tak mendengar guyonan gilanya. Hari-hariku juga dipenuhi
dengan bermacam kegiatan. Walau begitu rasa kangen terhadapnya masih tak
terlupa.
Suatu saat aku bertemu dia di suatu desa
terpencil di Jawa Barat yang hampir semua penduduknya terkena penyakit aneh.
Sebelumnya kami memang pernah berkunjung ke desa itu untuk memberi bantuan
belajar pada anak-anak di sana. Aku suka dengan penduduk setempat yang walaupun
dianggap ‘terbelakang’, adalah manusia-manusia jujur, polos, dan penuh kasih
sayang. Aku suka sekali berada di desa itu, karena merasa penduduk di sana
menerimaku sebagai keluarga sendiri. Aku bahkan kenal dengan semua nama-nama
mereka, bermain dengan anak-anak kecil yang sudah kuanggap sebagai adikku
sendiri. Namun setelah sekolah yang kami
perjuangkan berhasil didirikan, praktis aku sudah tak pernah kesana lagi.
Sampai akhirnya kami kembali lagi ke desa itu karena kasus penyakit aneh
tersebut. Pemerintah setempat, seperti biasa, tak pernah perduli dengan apa
yang terjadi disana. Aku bersama aktivis gereja turun ke sana membawa
obat-obatan dan bahan makanan. Tapi obat-obatan jelas tidak begitu berguna
karena penyakitnya masih belum terdiagnosa. Satu-satunya obat yang berguna
disana adalah obat penghilang rasa sakit.
Dari Reno aku tahu kalau ternyata
penyakit itu timbul karena mereka keracunan bahan kimia. Bahan kimia itu
ditemukan di ikan yang mereka makan. Setelah diselidiki ternyata sungai yang
berada di desa itu telah tercemar oleh limbah sebuah pabrik bahan kimia yang
berada di sekitar situ.
Di sana juga aku baru tahu jika ternyata
Reno memang adalah mahasiswa fakultas kedokteran, merangkap mahasiswa fakultas
hukum! Gila orang ini. Kuliah di jurusan kedokteran saja sudah setengah
mati, ini masih ditambah dengan kuliah di jurusan hukum pula. Ketika aku
bertanya apakah dia tidak kesulitan dengan mata kuliahnya itu, ia cuma berkata
ringan dengan cahaya matanya yang khas itu, “Some people were born with
maximum capacity of brain”. Dasar berandalan!
Tak berapa lama, di desa itu terjadi hal
yang menggemparkan. Satu persatu penduduk desa itu meninggal. Pria, wanita,
orang dewasa, anak-anak mulai menemui ajalnya. Aku tahu kematian mereka adalah
kematian yang penuh rasa sakit. Sering aku melihat para penderita
berteriak-teriak minta dibunuh saja karena tak tahan dengan penderitaan mereka.
Terkadang kematian memang lebih baik.
Hal ini membuat hatiku teriris-iris. Apa
salah dan dosa orang-orang desa ini sehingga mereka harus menderita seperti
ini. Segala cara sudah dilakukan tim dokter yang di bawa pihak gereja dan
aktivis kampus namun semua terasa sia-sia. Korban semakin berjatuhan. Tinggal
menunggu waktu saja seluruh penduduk desa ini akan musnah.
Aku berdoa. Ya Tuhan, selamatkan
orang-orang ini. Jika Engkau tidak ingin menolong semua, setidaknya
selematkan beberapa orang saja. Namun Tuhan ternyata tidak menjawab doaku. Atau
setidaknya, menjawab dengan jawaban yang berbeda dari keinginanku. Seluruh
penduduk desa itu pun musnah. Tak tersisa tanpa terkecuali. Kami semua
berkabung. Pemakaman massal pun dilakukan oleh aktivis kampus dan gereja karena
memang tak ada orang lain yang mau perduli dengan masalah ini. Pemerintah tak
pernah ambil pusing, dan penduduk desa ini begitu ‘jauh dari peradaban’
sehingga posisi desa mereka memang sangat terpencil, dan jauh dari desa-desa
lainnya.
Setelah semua ini selesai. Aku pulang ke
rumah. Sekolah memang sedang libur sehingga aku bisa menghabiskan beberapa hari
di desa itu. Mami, papi, dan adikku sedikit heran ketika aku pulang dengan mata
sembab, wajah keras, dan penuh amarah. Aku pun berkata, “Papi, mami, mulai saat
ini Erika adalah seorang atheist”. Mereka hanya diam terpana. Aku pun masuk
kamar dan membanting tubuhku di tempat tidur.
Sejak kecil aku memang mempertanyakan
Tuhan. Aku lahir dari keluarga yang semua anggotanya punya agama yang berbeda-beda.
Papi Buddha, mami katholik, dan adikku muslim. Aku sering ngobrol dengan mereka
dan melihat betapa semua agama ini terlihat baik di mata mereka
sendiri-sendiri. Aku pun banyak membaca buku-buku filsafat, yang semakin
kubaca, membuatku semakin bertanya-tanya. Tuhan, jika engkau begitu penting,
kenapa engkau begitu susah untuk dipahami?
Orang-orang bilang Engkau Maha Pengasih
dan Penyayang, lalu kenapa Kau bunuh seluruh kampung tanpa menyisakan satu
orang pun. Kata orang Engkau Maha Kuasa, lalu kenapa tidak Kau sembuhkan
penyakit yang diderita penduduk desa itu?. Ada yang bilang Engkau Maha
Mengabulkan Doa, lalu kenapa engkau menjawab doaku dengan “Tidak!”
Aku bingung, Tuhan. Jangan salahkan jika
aku tidak mempercayai-Mu lagi. Jangan salahkan jika aku teringat dengan
pertanyaan seorang pemikir barat, “Jika Tuhan memang Maha Segalanya, mampukah
Ia membuat batu yang tak dapat diangkatnya sendiri?” Tuhan, bagiku engkau
adalah sebuah paradoks besar!
Beberapa minggu kemudian, televisi
meliput tentang demonstrasi mahasiswa yang menuntut tanggung jawab pemerintah
terhadap kasus kematian massal di desa itu, sekaligus juga menuntut penutupan
pabrik bahan kimia yang berada di sana. Aku mengikuti perkembangan kasus ini di
televisi, karena merasa kehilangan semangat untuk terjun langsung. Aku merasa
apapun yang ku lakukan toh tetap tiada hasil berarti dan hanya akan menyakiti
hatiku yang penuh amarah ini.
Beritanya semakin ramai, karena rupanya
pemilik saham pabrik itu adalah salah satu anak dari penguasa negeri ini.
Demonstrasi semakin besar. Eskalasi massa semakin besar. Pemerintah sudah tidak
bisa menutup mata dan kuping ketika dunia internasional sudah mencium hal ini.
Aku pun sering melihat Reno di televisi. Ia berorasi, ikut mengatur massa
berdemo, bahkan sering muncul di talk show yang membahas kasus ini.
Tak berapa lama tuntutan para demonstran
pun akhirnya berhasil. Pemerintah menutup pabrik itu untuk sementara sampai
keluar hasil tim investigasi dari pemerintah. Kemenangan ini disambut oleh
sukacita oleh banyak orang. Pemberitaan televisi pun mulai sepi, dan kasus ini
pun hilang seperti di telan bumi.
Beberapa minggu kemudian, aku kaget
ketika membaca koran. Aktivis-aktivis kampus banyak yang menghilang. Dicurigai
kalau mereka diculik oleh orang-orang tak dikenal sehubungan dengan kasus
penutupan pabrik itu. Ada sebagian dari mereka yang ditemukan tewas di
tempat-tempat sepi. Aku was-was. Karena aktivis yang hilang itu banyak yang
berasal dari universitas tempat Reno kuliah. Aku mencoba menghubungi beberapa
orang untuk bertanya-tanya, namun tak satupun yang menjawab teleponku.
Aku menjadi lebih kaget lagi ketika
membaca nama Reno muncul sebagai salah satu korban hilang. Tuhan, mengapa
Engkau begitu benci padaku? Mengapa Engkau tak pernah setuju dengan
keinginan-keingananku. Aku semakin percaya bahwa manusia tak dapat
menggantungkan harapannya pada Mu.
Aku mencari-cari kabar, bertanya kesana
kemari. Tapi beberapa orang menyuruhku untuk tenang, karena suasana masih
berbahaya. Berbulan-bulan tiada kabar berita. Beberapa orang yakin bahwa para
aktivis yang hilang itu memang sudah mati terbunuh. Terbukti dari beberapa
mayat aktivis yang ditemukan. Kata orang, sebagian mayat yang lain mungkin tak
akan pernah ditemukan.
Aku menangis. Reno, jika kamu memang
sudah tiada, semoga kamu mati dalam keberanian. Seperti apa yang kamu
dengungkan dalam forum-forum dan orasimu. “Jika engkau takut mati, hapus kata
‘keadilan’ dalam kamus hidupmu”. Entah kamu mengutip atau itu kata-katamu
sendiri, menurutku itulah kata-kata dari seorang laki-laki sejati. Aku pun
berhenti berharap untuk mendengar kabar dari Reno. Selamat jalan, pahlawanku.
Kamu adalah pahlawan bagi banyak orang.
Hidupku masih bergelimang duka ketika
terjadi (lagi) sebuah kejadian yang tak akan pernah kulupakan dalam seumur
hidupku. Papiku dibunuh orang. Saat itu papi mempertahankan rumah kami, dan
juga rumah beberapa penduduk dari penggusuran. Papi mati dikeroyok beberapa
orang. Tapi yang aku ingat, papi sebenarnya mati karena ditembak. Beliau adalah
ahli bela diri, yang sudah sangat terlatih untuk menghadapi pengeroyokan. Dulu
beliau pernah berkata, “Sehebat apapun seorang ahli kung-fu, ia tak bisa
melawan hujaman peluru”. Kata-kata papi ini-ironisnya-terbukti benar.
Aku tak pernah melupakan wajah-wajah
pembunuh itu, dan bersumpah untuk membalas perlakuan mereka terhadap papi.
Tiada maaf bagi orang-orang seperti mereka. Kematian papi semakin menambah
benciku kepada Tuhan. Bagiku Tuhan adalah seorang sado masochist yang
senang melihat hambanya menderita. Ia begitu senang menyiksaku dengan
kematian-kematian orang-orang terdekatku. Pertama, para penduduk desa, lalu
kemudian Reno, kemudian papi diambil-Nya pula. Aku tak tahu sebutan apa yang
pantas dialamatkan padaku. Seorang atheist adalah seorang yang tak
percaya dengan keberadaan Tuhan, sedangkan aku percaya akan keberadaan-Nya.
Tapi aku membenci-Nya. Teramat sangat!
Sejak kematian papi, kami sekeluarga,
mami-aku-adikku, pindah ke Semarang. Kami pindah ke rumah orang tua mami. Aku
dan adikku kemudian meneruskan kuliah ke Amerika dengan biaya kakekku. Aku
mengambil jurusan hukum di Harvard. Aku ingin menjadi seorang pengacara atau
seorang ahli hukum. Akan kugunakan kemampuanku untuk membantu yang tertindas.
***
Amerika adalah negara yang aneh. Selama
kuliah di sana, aku menemukan banyak kontradiksi. Menurutku, sebenarnya orang
Amerika itu kampungan. Alasannya? banyak. Tapi aku tak akan menceritakannya.
Terlalu panjang. Satu yang pasti, negara ini adalah tempat aku menemukan
jawaban yang selama ini ku cari-cari.
Aku menjalani hidup penuh dengan tanda
tanya, atau bahkan mungkin amarah. Setiap detik kujalani dengan niat untuk
mengadakan perlawanan pada Tuhan. Ia telah mengambl semua yang berharga dalam
hidupku. Penduduk desa yang sudah kuanggap keluargaku, Reno, dan papi. Jika
Tuhan tak perduli pada nasibku. Aku akan memperbaikinya tanpa bantuan Tuhan.
Namun lama kelamaan amarah ini mulai tak terasa. Mungkin detik waktulah yang
menyurutkannya, atau sekedar mendinginkannya.
Aku ingat. Saat itu adalah musim gugur.
Jalan-jalan penuh dengan daun-daun kuning, merah, dan coklat. Jutaan lembar
daun yang gugur itu seperti salju yang berwarna emas. Indah sekali. Apalagi
saat itu udara hangat, dan angin bertiup sepoi-sepoi. Aku duduk di atas rumput
di taman kampusku. Pada saat-saat seperti ini para mahasiswa biasanya memang
menghabiskan waktu di luar ruangan. Belajar sambil menikmati keindahan alam.
Aku membaca buku sambil mendengar discman.
Lagu Superstar selalu aku mainkan di discmanku. Lagu ini sudah
menjadi lagu favoritku sejak Reno pertama kali memperdengarkannya dulu. Ada
sejumput kenangan yang timbul ketika mendengarkan lagu ini. Nadanya, liriknya,
musiknya, semua mengingatkan aku kembali ke masa lalu. Salah satu kekuatan
musik memang adalah mengembalikan waktu. Kita seperti kembali ke saat-saat
tertentu ketika mendengarkan lagu-lagu tertentu.
Aku teringat lagi kata-kata Reno ketika
aku bertanya kenapa ia menangis ketika mendengar lagu ini, “Aku nangis
soalnya bayangin perasaan kamu kalo aku tinggal pergi. Hehehe”. Entah ia
dulu mengucapkannya sambil bercanda, tapi sekarang terbukti ucapannya benar. Aku
sedih kehilangan kamu. Entah apa yang terjadi padamu, Reno. Hilangkah?
ataukah mamang kamu sudah mati? Tak pernah ada yang tau.
Long ago, and oh so far away,
I fell in love with you before the
second show,
Your guitar it sounds so sweet and
clear,
But you’re not really here,
It’s just the radio,
Tak terasa aku meneteskan airmata. Airnya
jatuh ke bibir. Aku mengatup bibirku mencoba untuk menghapus rasa perih yang
tiba-tiba timbul. Reno, ternyata aku cinta padamu. Cinta yang membawa
rasa sakit karena kehilangan kamu. Cinta yang dulu aku palsu, sekarang
kurasakan. Teringat lagi aku pada semua ideologi dan pemahamanku terhadap
cinta. Betapa aku dulu meremehkan orang-orang yang cinta kepadaku. Dan
menganggap bahwa cinta mereka adalah cinta palsu. Namun kini aku merasakannya.
Merasakan sakit itu. Kita tak pernah betul-betul merasakan penderitaan hanya
dengan melihat kepedihan orang lain. Penderitaan hanya bisa dirasakan jika
kita benar-benar mengalaminya. Reno, seandainya kamu disini, kamu pasti
bisa menenangkan keresahanku dengan mata jenakamu, dengan suara lembutmu,
dengan kata-kata cerahmu. Lalu airmataku menderas.
What to say to make you come again,
Come back to me again,
And play your sad guitar….
Kumatikan discman karena tak
tahan mendengarkan liriknya. Tak terasa bibirku berucap “Reno, seandainya kamu
disini…”
Lalu tiba-tiba sesuatu menyentuh
pundakku “Mei-mei”.
Dug. Jantung serasa berhenti. Aku tak
berani menoleh. Hanya satu orang yang memanggil aku seperti itu. Dia kah? Dia
kah?. Tuhan, semoga dia. Aku lebih kaget lagi. Sudah lama bibirku tak pernah
menyebut nama-Nya. Tuhan, aku rela untuk berbaikan denganmu lagi, jika ini
benar-benar suaranya. Suaranya kah? Jika Engkau mengembalikan dia padaku, aku
akan memaafkan-Mu, Tuhan.
“Mei-mei” suara itu memanggil lagi.
Aku menoleh. Tuhan, dia Reno. RENO!
“Abang!” aku berseru setengah berteriak.
Memeluknya sangat erat. Tubuhnya terasa lebih hangat dari mentari pagi. Dan
nyaman sekali. Aku membenamkan wajahku di dadanya, tak berani mengangkat
kepalaku. Aku takut jika kupandang lagi ternyata ia bukan Reno. Biarlah aku
salah mengira, asalkan aku masih bisa merasakan rasa nyaman ini.
“Mei-mei, kalo kamu memelukku terus
seerat ini, Aku bisa mati kehabisan nafas. Tapi sebelum mati, aku harap kamu
masih sempat memberi pernapasan buatan. Hehe”.
Kini aku yakin jika dia benar-benar Reno.
Hanya Reno yang masih bercanda di saat-saat seperti ini. Ku angkat kepalaku,
“Abang kemana saja?”.
“Jalan-jalan keliling dunia. Maklum
orang kaya. Hehe”.
Dasar berandalan!
Sore itu kita duduk di taman sampai
malam. Berbagai cerita tentang apa yang terjadi pada diri kita masing-masing.
Dia bercerita bahwa ia berhasil menyelamatkan diri dari penculikan itu. Lalu
kabur ke luar negeri. Memulai kuliahnya dari awal lagi.
Aku bercerita tentang nasib keluargaku.
Bercerita juga tentang kemarahanku terhadap Tuhan.
“Aku bisa ngerasain kebencianmu pada-Nya
mei-mei. Tapi engkau salah jika menyalahkan-Nya.” Kata Reno.
“Kenapa tidak? Dia mengambil orang-orang
yang kusayangi. Orang-orang desa, papi, kamu...”
Mata Reno bersinar lagi, sinar yang
sudah lama kurindukan, “Ah aku berarti termasuk orang yang kamu sayangin dong?”
godanya.
Aku terdiam. Aku sudah terjebak oleh
kata-kataku sendiri. Dan berandalan ini sudah menikmatinya.
“Aku bosan dengan pencarianku terhadap
Tuhan. Bosan karena ia tak lagi mau mendengarkanku” kataku.
“Kamu tak perlu mencari-Nya, karena
Dia tak pernah hilang. Manusia bosan dan kecewa terhadap Tuhan karena
keinginannya tidak tercapai. Karena kehendak kita bertentangan dengan
kehendak-Nya. Sebenarnya tidak. Karena Tuhan sangat mengerti dirimu. Ia
menciptakanmu dengan cinta, Ia menumbuhkanmu dengan cinta, dan Ia mencintaimu
tanpa batas. Jika Ia menghukummu, itu karena ia tak ingin melihatmu tersesat.
Jika Ia tidak mengabulkan doamu, itu karena Ia ingin memberikan sesuatu yang
lebih baik dari doamu itu. Tuhan mengambil semua orang desa itu. Kelihatannya
memang kejam. Tapi lihatlah kelanjutannya. Pabrik kimia bertaraf internasional
itu akhirnya ditutup di seluruh dunia. Betapa banyak orang yang terselamatkan.
Kematian penduduk desa itu adalah sebagai martir untuk kebenaran. Jika mereka
semua tidak diambil Tuhan, belum tentu dunia internasional perduli dengan
penyimpangan pabrik itu. Lalu ketika Tuhan mengambil ayahmu, Tuhan sepertinya
membelokkan jalan hidupmu. Kamu bisa bersekolah di Amerika, menjadi seorang
ahli hukum. Lalu melaksanankan cita-citamu untuk membela kaum tertindas dengan
ilmu-mu. Akan berapa banyak orang yang nanti kamu selamatkan dengan ilmu yang
kamu dapat di sini” kata Reno.
Ia lalu melanjutkan, “Lihatlah bunga,
berkembang pada waktunya.. Seperti itulah takdir manusia. Tuhan memberi
waktunya sendiri-sendiri. Lihatlah perkembangan bayi dalam uterus. Jika ia
lahir sebelum waktunya, maka ia menjadi bayi yang lemah, bahkan mungkin juga
meninggal. Setiap yang tercipta memiliki waktu sendiri-sendiri sesuai dengan
yang ditentukan Penciptaannya.”
Aku tak bisa mendebatnya. Reno telah
mengeluarkan mantra-mantra sihirnya dan aku diam terpaku. Hanya bisa
mendengarkan, dan memasukkannya dalam hati. Kamu benar Reno, aku terlalu egois
untuk memaksakan keinginan kepada Tuhan. Dia adalah Yang Maha Sibuk, semua
diatur hingga yang sekecil-kecilnya.
“Ah…, udahlah bang. Aku bosen dengerin
khotbahnya. Aku udah baikan sama Tuhan kok”. Ya, sejak Dia mengembalikanmu
padaku, Reno. Just e few minutes ago.
“Bagus lah” Ia tersenyum dan menatap
mataku. Lama sekali. Lamaaaaaa sekali. Aku baru sadar. Ini kali pertama Reno
menatap mataku.
“Hey, abang sekarang berani natap
mataku. Apa gak takut jatuh cinta ama aku?” aku berkata lembut, takut dia
tersinggung.
“Iya, aku sadar bahwa aku memang sudah
jatuh cinta sama kamu. Jadi tak perlu membohongi diri lagi” ia juga berkata
dengan lembut, mata kami bertemu.
Mata memang tak bisa berbohong, Reno. Because
eyes are the windows to the soul.
No comments:
Post a Comment