Thursday, July 31, 2014

BAB 3 Erika

III. ERIKA: Eyes Are the Windows of the Soul

Bagi manusia biasa, pencarian terhadap Tuhan adalah pencarian tiada akhir. Kita bukan manusia suci atau nabi yang mendapat pencerahan dan penerangan. Kita hanya manusia biasa yang terombang-ambing dalam ‘hitam-putih-abu-abu’. Begitu juga kisah pencarianku.

Aku memulainya dari semenjak aku masih kecil. Mami mengajarkan bahwa Tuhanku adalah seorang lelaki berjanggut, berambut pirang bermata biru bernama Yesus. Gambar-gambarnya selalu mami pajang di dinding kamar. Bersanding dengan gambar seorang berwajah ramah, bertubuh besar, dan bertelinga lebar. Aku bertanya, “Mami, siapakah orang gundul itu?”

“Dia bernama Sidharta Gautama, orang-orang mengenalnya dengan nama Buddha” jawab mami.
“Apakah dia tuhan juga?” tanyaku.

Mami tidak menjawab.

“Kalo dia bukan tuhan, kenapa gambarnya bersanding dengan Yesus? Kalo dia tuhan, kenapa ada tuhan selain Yesus? Bukankah kata mami Tuhan cuma satu? Aku bingung mami” kataku lagi.

“Tuhan mami adalah Yesus, sayang. Kalau Buddha ini, coba kamu tanya sama papi” jawab mami

”Loh Tuhannya mami sama Tuhannya papi beda ya?” tanyaku lagi.

 mami cuma menjawab sambil tersenyum “Kalo kamu udah besar, kamu nanti mengerti sendiri kok”.

“Kenapa harus nunggu sampai Erika besar?” aku bertanya sedikit heran.

“Orang besar punya pikiran lebih luas, kalo anak kecil masih belum…”

“Belum tentu, kemaren Erika ngobrol sama tante di sebelah. Erika ngerasa lebih pinter dari tante itu. Erika hafal nama-nama mentri. Erika hafal nama nama presiden di dunia. Erika bisa bahasa inggris. Tante itu malah nggak tau apa-apa” sahutku.
Mami sepertinya kesulitan menjawab.
“Baiklah. Kalo sudah besar Erika pasti tau jawabannya” aku menyambung lagi. Kasihan aku melihat mami terbata-bata.

***

Kata orang aku adalah anak yang cerdas. Aku rasa memang begitu. Aku sudah bisa membaca sebelum masuk TK. Aku bahkan sudah hafal nama-nama benda dalam bahasa Inggris.  Di sekolah nilai raportku selalu bagus, dan aku selalu rangking pertama di kelas. Aku selalu terbiasa jadi nomer satu. Bagiku menjadi nomer 2 adalah kutukan. Lomba nyanyi, puisi, atau lomba balap karung, aku tetap harus jadi nomer satu. Dan memang begitulah, aku selalu jadi nomer satu.

Waktu aku SMP, aku menemukan sebuah surat di laci meja tempat ku duduk di kelas. Ketika membaca isinya, aku tau kalau itu adalah surat cinta. Ini adalah surat cinta pertama yang aku terima. Lucu juga isinya. Aku tak tau siapa penulisnya, yang jelas pasti dari salah seorang pengagumku. Aku tau aku punya banyak pengagum. Aku bisa merasakan pandangan mata cowok-cowok yang kagum menatapku. Aku juga bisa merasakan pandangan iri cewek-cewek lain. Mungkin mereka iri karena aku lebih pintar dari mereka. Mungkin juga mereka iri karena aku lebih cantik. Karena kata orang-orang aku ini cantik. Entahlah. Aku tidak pernah merasa diriku ini cantik. Bagiku orang yang paling cantik yang pernah kulihat adalah mami. Kadang ketika jalan dengan mami aku bangga sekali. Karena aku merasa sedang berjalan dengan orang yang paling cantik sedunia. Pandangan mata kagum orang-orang selalu mengiringi kami. Semenjak kecil aku sudah bisa merasakan ini. Jadi aku bisa membedakan mana pandangan mata kagum, mana pandangan mata kurang ajar, mana pandangan mata nafsu. Aku begitu terbiasa dengan hal ini, sehingga lama-lama aku bisa menebak isi hati seseorang hanya lewat pandangan matanya. Apakah mereka berbohong, atau berkata jujur, semua bisa dilihat dari pandangan mata.

Surat cinta pertama itu lalu diikuti dengan surat-surat cinta berikutnya. Pengirimnya juga beda-beda. Aku tau dari tulisannya. Kemudian ada juga beberapa cowok yang menyatakan cinta secara langsung. Lucu juga ketika melihat cara mereka ‘menembak’. Merendah-rendahkan diri sendiri, memuji aku setinggi langit. “Kamu seperti bidadari”, “kamu lah impian hidupku”, “Aku rela melakukan apa saja demi cintamu”, dan lain-lain. Lucu sekaligus memuakkan. Betapa orang rela melakukan kebodohan hanya untuk mencapai yang diinginkannya. Semua ungkapan cinta itu aku tanggapi dengan bercanda. Bagiku ini sekedar lucu-lucuan. Tapi banyak sekali dari mereka yang tersinggung dan menganggapku sombong. Mungkin karena ‘bercanda’ ku ditanggapi secara berbeda. Atau mungkin cara bercandaku yang dianggap ‘aneh’.

Entahlah.

Di usia SMP aku menganggap bahwa cinta cowok dan cewek itu palsu belaka. Cinta yang berlandaskan keinginan memiliki seperti itu adalah sebuah kebohongan besar. Cinta seperti itu adalah cinta yang hanya ingin memuaskan diri sendiri. Menyenangkan diri sendiri. Jika cinta ditolak maka patah hatilah ia, sedih dan kecewa. Kenapa? Karena tidak mampu memiliki atau mendapatkan kekasih hati. Jika cinta diterima dan resmi menjadi ‘pacar’, maka berbahagialah dia. Menurutku ini bukan cinta sejati. Cinta sejati tidak akan bersedih ketika ditolak, karena cinta tetaplah cinta. Cinta sejati juga tidak akan bergembira ketika diterima, karena cinta adalah cinta. Ditolak atau diterima tidaklah berpengaruh karena cinta tidak memerlukan balasan. Cinta tidak memerlukan kesenangan-kesenangan.

Jika ada orang yang bersedih karena cintanya ditolak, maka sesungguhnya ia tidak mencintai ‘kekasihnya’ itu, tetapi mencintai diri sendiri. Diri sendiri inilah yang ingin memiliki, ingin disenangkan, ingin dipuaskan, ingin merasa bangga karena bersanding dengan kekasih. Dan ia seketika hancur, sedih, dan kecewa ketika ‘diri’nya tidak terpuaskan karena cintanya ditolak atau putus cinta.

Semua itu palsu! Cinta seperti itu bukan cinta sejati. Aku sendiri tak pernah mengerti tentang cinta sejati. Dulu aku menganggap bahwa cinta sejati itu adalah cinta orang tua terhadap anaknya, cinta seorang ibu terhadap anaknya. Tapi saat aku SMA aku mulai berpikir lagi tentang hal ini.

Jika seorang wanita menikah dengan laki-laki, mereka jelas ingin memiliki keturunan. Akhirnya mereka ‘berhubungan’, si wanita lalu hamil, sembilan bulan lebih sedikit. Ia mengalami berbagai ‘penderitaan’ ketika hamil dan melahirkan. Ketika lahir anak itu dirawat, dan dididik sampai besar dalam segala kesusahan. Orang berkata bahwa inilah cinta yang sejati. Menurutku ini pun sama palsunya dengan cinta cowok-cewek. Kenapa? Karena suami-istri itulah yang menginginkan anak. Jika mereka menginginkan anak, maka sudah sepatutnya mereka merawat dan mendidik anak. Itu adalah tanggung jawab. Memberi makan, membersihkan kotoran, dan lain-lain. Anak tidak pernah minta untuk dilahirkan. Anak tidak pernah minta untuk dirawat. Karena orang tua sendirilah yang menginginkan kehadiran anak. Jika mereka ingin seorang anak, maka konsekwensi yang timbul adalah bahwa mereka harus menjaga dan merawatnya sampai besar. Wong, yang bikin mereka sendiri kok. Anak kan tidak pernah minta dilahirkan.

Apalagi ketika si anak menjadi besar, orang tua mulai mengaturnya. Anak harus patuh kepada keinginan orang tua. Harus menjadi seperti yang dimpikan orang tua. Harus mengharumkan nama orang tua. Jika si anak tidak patuh terhadap orang tua, maka si anak dianggap tidak menghargai jasa-jasa orang tua yang telah membesarkannya. Ini bukan cinta sejati, tetapi cinta yang meminta timbal balik. Bukankah ini sama palsunya dengan cinta cowok-cewek itu?.

Bagaimana dengan cinta terhadap Tuhan? Inilah cinta yang paling palsu sedunia. Manusia menyembah Tuhan, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, karena mereka ingin masuk surga. Berdoa karena ingin kemauan dan harapannya terkabul. Ibadah akhirnya seperti jual beli di pasar!

Lalu bagaimana dengan cinta Tuhan terhadap manusia. Kalau itu, aku tak pernah tau jawabannya. Aku belum pernah menjadi Tuhan, atau mengenalnya secara pribadi. Gambaran Tuhan yang ada saat ini adalah gambaran buatan manusia. Aku tak pernah tahu isi hati Tuhan seperti apa.

Ketika aku SMA aku sering mengikuti aktivitas di gereja. Mengumpulkan dana untuk kaum miskin, mengadakan pendidikan gratis untuk anak jalanan, dan kegiatan amal lainnya. Aku sering mengikuti para aktivis gereja mengunjungi daerah kumuh perkotaan. Ini kulakukan bukan sebagai bentuk ibadah. Aku hanya tak tega melihat nasib orang-orang tertindas. Bagiku nasib mereka perlu diperjuangkan. Karena manusia-manusia lain sudah terllalu sombong untuk sekedar berbelas kasih terhadap mereka. Ini juga sekedar bentuk ‘protes’ kecil-kecilan terhadap Tuhan. Jika Engkau menciptakan mereka dalam keadaan seperti ini dan tak pernah memperhatikan mereka, maka akulah yang akan memperhatikan mereka.

Ketua dari aktivis-aktivis gereja ini adalah seorang suster bernama Suster Agnes. Beliau adalah seorang suster berumur 50 tahun, berwajah teduh, dan bertubuh sedang. Aku suka sekali berdekatan dengan suster Agnes. Beliau memiliki aura kasih sayang yang tidak aku temukan dimanapun. Dekat dengannya membuat perasaanku tenang dan nyaman. Sering aku berdiskusi dengan beliau tentang berbagai hal, terutama tentang Tuhan. Aku sangat mengagumi pengetahuan dan pandangan hidupnya. Sebaliknya, beliau juga mengagumi ‘hobby’ ku melahap bacaan-bacaan berat seperti Nietzsche, Hegel, bahkan yang modern seperti Chomsky. Beliau juga mewanti-wanti bahwa bacaan-bacaan itu “Berbahaya untuk anak seusiamu”.

Kunjungan-kunjungan dan aktivitas amalku ini suatu hari membuatku bertemu dengan serombongan mahasiswa. Mereka adalah para aktivis yang juga melakukan hal yang sama dengan kami, memberi bantuan belajar pada anak jalanan. Selain itu mereka juga memberi bantuan advokasi pada penduduk setempat. Mereka ini berisi anak-anak muda yang bersemangat, cerdas, dan juga rajin.

Ada salah seorang diantara mereka yang menarik perhatianku. Namanya Reno. Tubuhnya sedikit tinggi, dengan rambut sepanjang antara kuping dan bahu. Orangnya ramai dan lumayan lucu karena suka bercanda. Setiap orang digodanya. Dan sepertinya semua orang disini mengenalnya. Dia sering bercerita hal yang lucu-lucu, entah itu karangannya sendiri, atau memang itu benar-benar terjadi. Karena ceritanya selalu dimulai dengan, “Eh, kamu tau nggak, kemaren tetanggaku…” atau “Kemaren temanku…”. Dan ketika ia sudah mulai dengan cerita lucunya itu semua orang akan menghentikan aktivitasnya, tekun mendengarkan, dan menutupnya dengan sebuah ledakan tawa yang membahana.

Sepertinya dia memang tidak pernah serius. Pandangan matanya yang riang dan jenaka seperti menunjukkan bahwa ia tidak pernah memiliki beban hidup. Orang-orang senang berada dekatnya. Anak-anak yang kami asuh pun begitu. Kehadirannya selalu membuat suasana cerah dan lebih hidup.

Tapi suatu hari aku kaget ketika di suatu forum rapat antara sesama aktivis, ia menjadi orang yang sama sekali berbeda. Matanya tajam dan mencorong, kata-katanya dalam dan berisi. Ia pun tampak berwibawa. Seketika itu auranya berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Dan tampaknya ia mengerti betul apa yang dibicarakannya. Setiap kata tersusun rapi dan penuh makna.

Seusai rapat aku bertanya pada David, salah seorang temannya, “Bang Reno hari ini tampil beda ya?”

“Haha, kaget ya? Reno memang begitu. Dia itu dikenal sebagai macan forum. Semua orang dibantainya dalam forum. Haha” jawab David.

“Tapi argumen-argumennya ‘kena’ semua kok. Kayaknya semua yang diomonginnya emang masuk akal” ujarku.

“Iya, makanya julukannya macam forum. Aku paling takut berdebat sama dia. Soalnya aku nanti pasti berbalik jadi pendukung pendapatnya, padahal sebelumnya menentang. Kacau” kata David.
Hmm… macan forum, boleh juga. Aku pengen berdebat sekali-sekali dengan kamu. Batinku dalam hati. Pada kesempatan tadi aku tidak sempat berdebat dengannya, karena kebetulan pendapat kami sama.

Mulai saat itu, aku sering mencari-cari kesempatan untuk ngobrol dengannya. Dan obrolan-obrolan kami lebih banyak bercanda daripada serius. Padahal aku sudah berusaha ‘menggiringnya’ pada topik-topik yang ‘panas’. Semua ditanggapinya dengan pandangan jenaka, dan celetukan celetukan khasnya. Lucu memang, tapi bukan itu yang kucari. Semakin aku mencoba, semakin lucu juga dia. Reno, kamu memang aneh.

Tapi dari obrolan-obrolan itu kami menjadi semakin akrab. Aku suka sekali dengan carita-cerita humornya yang seperti tak ada habisnya. Dia sepertinya memang tak pernah kehabisan ide. Bahkan lelucon-lelucon yang nyerempet suku, agama, dan ras juga disikatnya. Dan ‘untung’nya lebih terasa lucu daripada menyakitkan.

“Mei-mei” begitu dia memanggilku, “Dulu aku pernah punya temen akrab banget loh, ya warga keturunan juga kayak kamu” lanjutnya.

“Oh ya ?” jawabku. Aku sudah bersiap-siap untuk mendengarkan guyonannya yang baru.
“Tapi dia itu setiap ujian gak pernah lulus. Padahal anaknya cerdas banget loh” kata Reno.
“Lho kok bisa? Emang kenapa?” tanyaku penasaran.

“Gara-gara dia gak bisa baca soal ujiannya” jawabnya yang langsung diikuti oleh tawa orang-orang yang berada disitu. Ramai banget sampai ndelosor di tanah. Aku masih bingung, dimana lucunya?. Tapi setelah beberapa lama berpikir, aku baru nyantol. Ternyata gara-gara matanya yang sipit. DASAR! Aku jadi ikutan tertawa juga, sambil melayangkan tinju-tinju kecil. Dia cuma ketawa sambil berlari-lari menghindar.

Pernah juga suatu hari aku bertanya padanya. “Abang tuh sebenarnya kuliah dimana?”
“Di Ponds Institute” jawabnya ringan. Dasar! guyon lagi.
“Hehehe, gak kok. Abang itu kuliah di Fakultas Kodekteran” kata dia lagi.
“Oh ya? Hebat dong” sahutku
“Tapi cuma D1 doang loh” katanya lagi.
“Heh? Emang ada D1 kedokteran?” aku heran.
“Iya, lulusnya cuma jadi mantri sunat! hahaha”

Dasar berandalan!!!!

Aku semakin suka saja ngobrol dengan dia. Kami menjadi bertambah akrab. Setiap ada kegiatan, kami selalu terlihat berdua. Orang-orang sampai berkata kami terlihat seperti kakak beradik. Kami juga sering diskusi berduaan.

Aku pun mulai tertarik memperhatikannya. Ini jelas bukan cinta, karena aku rasa ketertarikanku pada saat itu timbul karena perasaan kagum. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di dalam kepala manusia unik satu ini. Semakin kuperhatikan, aku mulai paham dengan sifat-sifatnya, kebiasaan-kebiasaannya, hal-hal yang disukai dan dibencinya.

Reno ternyata punya perasaan yang halus sekali. Pernah secara tak sengaja aku memergokinya sedang mengerjap-ngerjap mata karena menangis. Ketika ku tanya kenapa, ia menjawab terharu karena mendengar sebuah lagu. Aku tertarik, lagu macam apa yang bisa bikin seorang manusia macam Reno menangis. Ia memberikan discman yang tiap saat dibawanya itu kepadaku. Terdengar sebuah alunan suara merdu dari seorang wanita:

Long ago, and oh so far away,
I fell in love with you before the second show,
Your guitar it sounds so sweet and clear,
But you’re not really here,
It’s just the radio,

Don’t you remember you told me you love me baby?
You said you’ll be coming back this way again oh baby,
Baby, baby, baby, baby oh baby,
I love you I really do,

Loneliness is such a sad affair,
And I can hardly wait to be with you again,
What to say to make you come again,
Come back to me again,
And play your sad guitar,

“Ini lagunya siapa bang?” tanyaku

“The Carpenters” jawabnya.

“Wah band jadul ya? Ketahuan dari musiknya nih. Aku sih taunya musik-musik jazz dan klasik. Kalo yang kayak gini kayaknya gak ngikutin deh” kataku.

“Oh ini band lama, tahun 70an gitu. Lagu yang kamu denger itu Judulnya Superstar” jawabnya
“Dari liriknya kayaknya nyeritain cewek yang ditinggal pergi ama cowoknya yang seorang superstar ya?” tanyaku.

“Iya” Reno menjawab pendek.

“Abang kok nangis dengerinnya? Nah loh punya kenangan indah ama lagu ini ya?” tanyaku setengah menggoda.

“Oh nggak. Aku nangis soalnya bayangin perasaan kamu kalo aku tinggal pergi. Hehehe” mata jenaka itu kini bersinar lagi.

“Abaaaaaaaaang! Dasar tukang iseng!”

Kami semakin dekat. Ngobrol dan menghabiskan waktu berdua. Reno adalah seorang laki-laki yang cerdas, berpengetahuan dan berpandangan luas. Ia juga pintar bernyanyi sambil main gitar. Kami sering sekali bernyanyi-nyanyi dan berdiskusi membahas apa saja. Tapi setelah sekian lama aku memperhatikan, ia ternyata tidak pernah memandang langsung ke wajahku ketika berbicara, atau setidaknya eye to eye. Padahal ketika berbicara dengan orang lain, ia selalu memandang langsung ke mata mereka. Pada awalnya aku gak begitu memperhatikan hal ini. Tapi lama-lama terasa juga. Aku sempat bertanya padanya, “Abang kalo aku perhatiin kok gak pernah berani sih natap aku langsung?” Dia menunduk, dan memang aku baru sadar, selama ini ia lebih banyak memandang ke bawah atau ke arah jauh di belakangku ketika ketika berbicara.
“Ng…apa?” ia gelagapan dan sepertinya bingung. Aku tau pasti. Aku sudah terbiasa membaca pandangan mata.

“Iya. Kenapa selalu nunduk kalo ngobrol. Emang aku semut?” aku mencoba bercanda.
“Aku takut jatuh hati ama kamu, mei-mei” ia menjawab.
Serius. God, selama berbulan-bulan dekat dengan dia, baru kali ini aku lihat dia serius di luar forum.
Dan setelah berkata itu dia pergi. Aku masih shocked. Reno bisa serius? Dunia mau kiamat kayaknya.


Hari-hari selanjutnya berlangsung seperti biasa. Reno masih tetap dengan kelakuannya yang selalu becanda, namun berbeda 180 derajat ketika berada di forum. Aku malah jadi lupa dengan keinginanku untuk berdebat dengannya. Karena aku menjadi semakin terpesona dengan kemampuannya berbicara. Ia terlihat begitu gagah. Apa yang dikeluarakan dari mulutnya terasa seperti mantra yang mampu menyihir orang-orang yang mendengarkannya. Reno, jika kamu hidup di abad pertengahan, kamu pasti sudah dibakar hidup-hidup karena dianggap penyihir.

Kegiatan kami pun mulai semakin bertambah. Mami sempat protes karena aku lebih banyak menghabiskan waktu keluar rumah, tapi kemudian memaklumi karena ini memang kegiatan gereja dan juga tidak berpengaruh pada nilai di sekolah . Ada beberapa kegiatan dimana aku bertemu Reno, ada yang tidak. Karena dia memang bukan aktivis gereja, tapi aktivis kampus yang kebetulan punya basis kegiatan yang sama dengan aktivis gerejaku. Terasa ada yang kurang jika dalam kegiatanku aku tak bertemu dengannya. Entah kenapa, aku pun tak tahu. Hari-hari serasa kurang bersemangat. Mungkin aku kecanduan dengan mata jenakanya, humor-humor gilanya, senyum cerahnya, juga keunikannya. Bermingu-minggu lamanya aku tak bertemu Reno. Kata beberapa orang dia memang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Ada perasaan kangen karena sudah beberapa lama aku tak mendengar guyonan gilanya. Hari-hariku juga dipenuhi dengan bermacam kegiatan. Walau begitu rasa kangen terhadapnya masih tak terlupa.

Suatu saat aku bertemu dia di suatu desa terpencil di Jawa Barat yang hampir semua penduduknya terkena penyakit aneh. Sebelumnya kami memang pernah berkunjung ke desa itu untuk memberi bantuan belajar pada anak-anak di sana. Aku suka dengan penduduk setempat yang walaupun dianggap ‘terbelakang’, adalah manusia-manusia jujur, polos, dan penuh kasih sayang. Aku suka sekali berada di desa itu, karena merasa penduduk di sana menerimaku sebagai keluarga sendiri. Aku bahkan kenal dengan semua nama-nama mereka, bermain dengan anak-anak kecil yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.  Namun setelah sekolah yang kami perjuangkan berhasil didirikan, praktis aku sudah tak pernah kesana lagi. Sampai akhirnya kami kembali lagi ke desa itu karena kasus penyakit aneh tersebut. Pemerintah setempat, seperti biasa, tak pernah perduli dengan apa yang terjadi disana. Aku bersama aktivis gereja turun ke sana membawa obat-obatan dan bahan makanan. Tapi obat-obatan jelas tidak begitu berguna karena penyakitnya masih belum terdiagnosa. Satu-satunya obat yang berguna disana adalah obat penghilang rasa sakit.

Dari Reno aku tahu kalau ternyata penyakit itu timbul karena mereka keracunan bahan kimia. Bahan kimia itu ditemukan di ikan yang mereka makan. Setelah diselidiki ternyata sungai yang berada di desa itu telah tercemar oleh limbah sebuah pabrik bahan kimia yang berada di sekitar situ.

Di sana juga aku baru tahu jika ternyata Reno memang adalah mahasiswa fakultas kedokteran, merangkap mahasiswa fakultas hukum! Gila orang ini. Kuliah di jurusan kedokteran saja sudah setengah mati, ini masih ditambah dengan kuliah di jurusan hukum pula. Ketika aku bertanya apakah dia tidak kesulitan dengan mata kuliahnya itu, ia cuma berkata ringan dengan cahaya matanya yang khas itu, “Some people were born with maximum capacity of brain”. Dasar berandalan!

Tak berapa lama, di desa itu terjadi hal yang menggemparkan. Satu persatu penduduk desa itu meninggal. Pria, wanita, orang dewasa, anak-anak mulai menemui ajalnya. Aku tahu kematian mereka adalah kematian yang penuh rasa sakit. Sering aku melihat para penderita berteriak-teriak minta dibunuh saja karena tak tahan dengan penderitaan mereka. Terkadang kematian memang lebih baik.

Hal ini membuat hatiku teriris-iris. Apa salah dan dosa orang-orang desa ini sehingga mereka harus menderita seperti ini. Segala cara sudah dilakukan tim dokter yang di bawa pihak gereja dan aktivis kampus namun semua terasa sia-sia. Korban semakin berjatuhan. Tinggal menunggu waktu saja seluruh penduduk desa ini akan musnah.

Aku berdoa. Ya Tuhan, selamatkan orang-orang ini. Jika Engkau tidak ingin menolong semua, setidaknya selematkan beberapa orang saja. Namun Tuhan ternyata tidak menjawab doaku. Atau setidaknya, menjawab dengan jawaban yang berbeda dari keinginanku. Seluruh penduduk desa itu pun musnah. Tak tersisa tanpa terkecuali. Kami semua berkabung. Pemakaman massal pun dilakukan oleh aktivis kampus dan gereja karena memang tak ada orang lain yang mau perduli dengan masalah ini. Pemerintah tak pernah ambil pusing, dan penduduk desa ini begitu ‘jauh dari peradaban’ sehingga posisi desa mereka memang sangat terpencil, dan jauh dari desa-desa lainnya.

Setelah semua ini selesai. Aku pulang ke rumah. Sekolah memang sedang libur sehingga aku bisa menghabiskan beberapa hari di desa itu. Mami, papi, dan adikku sedikit heran ketika aku pulang dengan mata sembab, wajah keras, dan penuh amarah. Aku pun berkata, “Papi, mami, mulai saat ini Erika adalah seorang atheist”. Mereka hanya diam terpana. Aku pun masuk kamar dan membanting tubuhku di tempat tidur.

Sejak kecil aku memang mempertanyakan Tuhan. Aku lahir dari keluarga yang semua anggotanya punya agama yang berbeda-beda. Papi Buddha, mami katholik, dan adikku muslim. Aku sering ngobrol dengan mereka dan melihat betapa semua agama ini terlihat baik di mata mereka sendiri-sendiri. Aku pun banyak membaca buku-buku filsafat, yang semakin kubaca, membuatku semakin bertanya-tanya. Tuhan, jika engkau begitu penting, kenapa engkau begitu susah untuk dipahami?

Orang-orang bilang Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, lalu kenapa Kau bunuh seluruh kampung tanpa menyisakan satu orang pun. Kata orang Engkau Maha Kuasa, lalu kenapa tidak Kau sembuhkan penyakit yang diderita penduduk desa itu?. Ada yang bilang Engkau Maha Mengabulkan Doa, lalu kenapa engkau menjawab doaku dengan “Tidak!”

Aku bingung, Tuhan. Jangan salahkan jika aku tidak mempercayai-Mu lagi. Jangan salahkan jika aku teringat dengan pertanyaan seorang pemikir barat, “Jika Tuhan memang Maha Segalanya, mampukah Ia membuat batu yang tak dapat diangkatnya sendiri?” Tuhan, bagiku engkau adalah sebuah paradoks besar!

Beberapa minggu kemudian, televisi meliput tentang demonstrasi mahasiswa yang menuntut tanggung jawab pemerintah terhadap kasus kematian massal di desa itu, sekaligus juga menuntut penutupan pabrik bahan kimia yang berada di sana. Aku mengikuti perkembangan kasus ini di televisi, karena merasa kehilangan semangat untuk terjun langsung. Aku merasa apapun yang ku lakukan toh tetap tiada hasil berarti dan hanya akan menyakiti hatiku yang penuh amarah ini.

Beritanya semakin ramai, karena rupanya pemilik saham pabrik itu adalah salah satu anak dari penguasa negeri ini. Demonstrasi semakin besar. Eskalasi massa semakin besar. Pemerintah sudah tidak bisa menutup mata dan kuping ketika dunia internasional sudah mencium hal ini. Aku pun sering melihat Reno di televisi. Ia berorasi, ikut mengatur massa berdemo, bahkan sering muncul di talk show yang membahas kasus ini.

Tak berapa lama tuntutan para demonstran pun akhirnya berhasil. Pemerintah menutup pabrik itu untuk sementara sampai keluar hasil tim investigasi dari pemerintah. Kemenangan ini disambut oleh sukacita oleh banyak orang. Pemberitaan televisi pun mulai sepi, dan kasus ini pun hilang seperti di telan bumi.

Beberapa minggu kemudian, aku kaget ketika membaca koran. Aktivis-aktivis kampus banyak yang menghilang. Dicurigai kalau mereka diculik oleh orang-orang tak dikenal sehubungan dengan kasus penutupan pabrik itu. Ada sebagian dari mereka yang ditemukan tewas di tempat-tempat sepi. Aku was-was. Karena aktivis yang hilang itu banyak yang berasal dari universitas tempat Reno kuliah. Aku mencoba menghubungi beberapa orang untuk bertanya-tanya, namun tak satupun yang menjawab teleponku.

Aku menjadi lebih kaget lagi ketika membaca nama Reno muncul sebagai salah satu korban hilang. Tuhan, mengapa Engkau begitu benci padaku? Mengapa Engkau tak pernah setuju dengan keinginan-keingananku. Aku semakin percaya bahwa manusia tak dapat menggantungkan harapannya pada Mu.

Aku mencari-cari kabar, bertanya kesana kemari. Tapi beberapa orang menyuruhku untuk tenang, karena suasana masih berbahaya. Berbulan-bulan tiada kabar berita. Beberapa orang yakin bahwa para aktivis yang hilang itu memang sudah mati terbunuh. Terbukti dari beberapa mayat aktivis yang ditemukan. Kata orang, sebagian mayat yang lain mungkin tak akan pernah ditemukan.

Aku menangis. Reno, jika kamu memang sudah tiada, semoga kamu mati dalam keberanian. Seperti apa yang kamu dengungkan dalam forum-forum dan orasimu. “Jika engkau takut mati, hapus kata ‘keadilan’ dalam kamus hidupmu”. Entah kamu mengutip atau itu kata-katamu sendiri, menurutku itulah kata-kata dari seorang laki-laki sejati. Aku pun berhenti berharap untuk mendengar kabar dari Reno. Selamat jalan, pahlawanku. Kamu adalah pahlawan bagi banyak orang.

Hidupku masih bergelimang duka ketika terjadi (lagi) sebuah kejadian yang tak akan pernah kulupakan dalam seumur hidupku. Papiku dibunuh orang. Saat itu papi mempertahankan rumah kami, dan juga rumah beberapa penduduk dari penggusuran. Papi mati dikeroyok beberapa orang. Tapi yang aku ingat, papi sebenarnya mati karena ditembak. Beliau adalah ahli bela diri, yang sudah sangat terlatih untuk menghadapi pengeroyokan. Dulu beliau pernah berkata, “Sehebat apapun seorang ahli kung-fu, ia tak bisa melawan hujaman peluru”. Kata-kata papi ini-ironisnya-terbukti benar.

Aku tak pernah melupakan wajah-wajah pembunuh itu, dan bersumpah untuk membalas perlakuan mereka terhadap papi. Tiada maaf bagi orang-orang seperti mereka. Kematian papi semakin menambah benciku kepada Tuhan. Bagiku Tuhan adalah seorang sado masochist yang senang melihat hambanya menderita. Ia begitu senang menyiksaku dengan kematian-kematian orang-orang terdekatku. Pertama, para penduduk desa, lalu kemudian Reno, kemudian papi diambil-Nya pula. Aku tak tahu sebutan apa yang pantas dialamatkan padaku. Seorang atheist adalah seorang yang tak percaya dengan keberadaan Tuhan, sedangkan aku percaya akan keberadaan-Nya. Tapi aku membenci-Nya. Teramat sangat!

Sejak kematian papi, kami sekeluarga, mami-aku-adikku, pindah ke Semarang. Kami pindah ke rumah orang tua mami. Aku dan adikku kemudian meneruskan kuliah ke Amerika dengan biaya kakekku. Aku mengambil jurusan hukum di Harvard. Aku ingin menjadi seorang pengacara atau seorang ahli hukum. Akan kugunakan kemampuanku untuk membantu yang tertindas.

***

Amerika adalah negara yang aneh. Selama kuliah di sana, aku menemukan banyak kontradiksi. Menurutku, sebenarnya orang Amerika itu kampungan. Alasannya? banyak. Tapi aku tak akan menceritakannya. Terlalu panjang. Satu yang pasti, negara ini adalah tempat aku menemukan jawaban yang selama ini ku cari-cari.

Aku menjalani hidup penuh dengan tanda tanya, atau bahkan mungkin amarah. Setiap detik kujalani dengan niat untuk mengadakan perlawanan pada Tuhan. Ia telah mengambl semua yang berharga dalam hidupku. Penduduk desa yang sudah kuanggap keluargaku, Reno, dan papi. Jika Tuhan tak perduli pada nasibku. Aku akan memperbaikinya tanpa bantuan Tuhan. Namun lama kelamaan amarah ini mulai tak terasa. Mungkin detik waktulah yang menyurutkannya, atau sekedar mendinginkannya.

Aku ingat. Saat itu adalah musim gugur. Jalan-jalan penuh dengan daun-daun kuning, merah, dan coklat. Jutaan lembar daun yang gugur itu seperti salju yang berwarna emas. Indah sekali. Apalagi saat itu udara hangat, dan angin bertiup sepoi-sepoi. Aku duduk di atas rumput di taman kampusku. Pada saat-saat seperti ini para mahasiswa biasanya memang menghabiskan waktu di luar ruangan. Belajar sambil menikmati keindahan alam.

Aku membaca buku sambil mendengar discman. Lagu Superstar selalu aku mainkan di discmanku. Lagu ini sudah menjadi lagu favoritku sejak Reno pertama kali memperdengarkannya dulu. Ada sejumput kenangan yang timbul ketika mendengarkan lagu ini. Nadanya, liriknya, musiknya, semua mengingatkan aku kembali ke masa lalu. Salah satu kekuatan musik memang adalah mengembalikan waktu. Kita seperti kembali ke saat-saat tertentu ketika mendengarkan lagu-lagu tertentu.

Aku teringat lagi kata-kata Reno ketika aku bertanya kenapa ia menangis ketika mendengar lagu ini, “Aku nangis soalnya bayangin perasaan kamu kalo aku tinggal pergi. Hehehe”. Entah ia dulu mengucapkannya sambil bercanda, tapi sekarang terbukti ucapannya benar. Aku sedih kehilangan kamu. Entah apa yang terjadi padamu, Reno. Hilangkah? ataukah mamang kamu sudah mati? Tak pernah ada yang tau.

Long ago, and oh so far away,
I fell in love with you before the second show,
Your guitar it sounds so sweet and clear,
But you’re not really here,
It’s just the radio,

Tak terasa aku meneteskan airmata. Airnya jatuh ke bibir. Aku mengatup bibirku mencoba untuk menghapus rasa perih yang tiba-tiba timbul. Reno, ternyata aku cinta padamu. Cinta yang membawa rasa sakit karena kehilangan kamu. Cinta yang dulu aku palsu, sekarang kurasakan. Teringat lagi aku pada semua ideologi dan pemahamanku terhadap cinta. Betapa aku dulu meremehkan orang-orang yang cinta kepadaku. Dan menganggap bahwa cinta mereka adalah cinta palsu. Namun kini aku merasakannya. Merasakan sakit itu. Kita tak pernah betul-betul merasakan penderitaan hanya dengan melihat kepedihan orang lain. Penderitaan hanya bisa dirasakan jika kita benar-benar mengalaminya. Reno, seandainya kamu disini, kamu pasti bisa menenangkan keresahanku dengan mata jenakamu, dengan suara lembutmu, dengan kata-kata cerahmu. Lalu airmataku menderas.

What to say to make you come again,
Come back to me again,
And play your sad guitar….

Kumatikan discman karena tak tahan mendengarkan liriknya. Tak terasa bibirku berucap “Reno, seandainya kamu disini…”
Lalu tiba-tiba sesuatu menyentuh pundakku “Mei-mei”.
Dug. Jantung serasa berhenti. Aku tak berani menoleh. Hanya satu orang yang memanggil aku seperti itu. Dia kah? Dia kah?. Tuhan, semoga dia. Aku lebih kaget lagi. Sudah lama bibirku tak pernah menyebut nama-Nya. Tuhan, aku rela untuk berbaikan denganmu lagi, jika ini benar-benar suaranya. Suaranya kah? Jika Engkau mengembalikan dia padaku, aku akan memaafkan-Mu, Tuhan.

“Mei-mei” suara itu memanggil lagi.

Aku menoleh. Tuhan, dia Reno. RENO!

“Abang!” aku berseru setengah berteriak. Memeluknya sangat erat. Tubuhnya terasa lebih hangat dari mentari pagi. Dan nyaman sekali. Aku membenamkan wajahku di dadanya, tak berani mengangkat kepalaku. Aku takut jika kupandang lagi ternyata ia bukan Reno. Biarlah aku salah mengira, asalkan aku masih bisa merasakan rasa nyaman ini.

“Mei-mei, kalo kamu memelukku terus seerat ini, Aku bisa mati kehabisan nafas. Tapi sebelum mati, aku harap kamu masih sempat memberi pernapasan buatan. Hehe”.

Kini aku yakin jika dia benar-benar Reno. Hanya Reno yang masih bercanda di saat-saat seperti ini. Ku angkat kepalaku, “Abang kemana saja?”.
“Jalan-jalan keliling dunia. Maklum orang kaya. Hehe”.

Dasar berandalan!

Sore itu kita duduk di taman sampai malam. Berbagai cerita tentang apa yang terjadi pada diri kita masing-masing. Dia bercerita bahwa ia berhasil menyelamatkan diri dari penculikan itu. Lalu kabur ke luar negeri. Memulai kuliahnya dari awal lagi.

Aku bercerita tentang nasib keluargaku. Bercerita juga tentang kemarahanku terhadap Tuhan.

“Aku bisa ngerasain kebencianmu pada-Nya mei-mei. Tapi engkau salah jika menyalahkan-Nya.” Kata Reno.

“Kenapa tidak? Dia mengambil orang-orang yang kusayangi. Orang-orang desa, papi, kamu...”

Mata Reno bersinar lagi, sinar yang sudah lama kurindukan, “Ah aku berarti termasuk orang yang kamu sayangin dong?” godanya.

Aku terdiam. Aku sudah terjebak oleh kata-kataku sendiri. Dan berandalan ini sudah menikmatinya.

“Aku bosan dengan pencarianku terhadap Tuhan. Bosan karena ia tak lagi mau mendengarkanku” kataku.

Kamu tak perlu mencari-Nya, karena Dia tak pernah hilang. Manusia bosan dan kecewa terhadap Tuhan karena keinginannya tidak tercapai. Karena kehendak kita bertentangan dengan kehendak-Nya. Sebenarnya tidak. Karena Tuhan sangat mengerti dirimu. Ia menciptakanmu dengan cinta, Ia menumbuhkanmu dengan cinta, dan Ia mencintaimu tanpa batas. Jika Ia menghukummu, itu karena ia tak ingin melihatmu tersesat. Jika Ia tidak mengabulkan doamu, itu karena Ia ingin memberikan sesuatu yang lebih baik dari doamu itu. Tuhan mengambil semua orang desa itu. Kelihatannya memang kejam. Tapi lihatlah kelanjutannya. Pabrik kimia bertaraf internasional itu akhirnya ditutup di seluruh dunia. Betapa banyak orang yang terselamatkan. Kematian penduduk desa itu adalah sebagai martir untuk kebenaran. Jika mereka semua tidak diambil Tuhan, belum tentu dunia internasional perduli dengan penyimpangan pabrik itu. Lalu ketika Tuhan mengambil ayahmu, Tuhan sepertinya membelokkan jalan hidupmu. Kamu bisa bersekolah di Amerika, menjadi seorang ahli hukum. Lalu melaksanankan cita-citamu untuk membela kaum tertindas dengan ilmu-mu. Akan berapa banyak orang yang nanti kamu selamatkan dengan ilmu yang kamu dapat di sini” kata Reno.

Ia lalu melanjutkan, “Lihatlah bunga, berkembang pada waktunya.. Seperti itulah takdir manusia. Tuhan memberi waktunya sendiri-sendiri. Lihatlah perkembangan bayi dalam uterus. Jika ia lahir sebelum waktunya, maka ia menjadi bayi yang lemah, bahkan mungkin juga meninggal. Setiap yang tercipta memiliki waktu sendiri-sendiri sesuai dengan yang ditentukan Penciptaannya.”

Aku tak bisa mendebatnya. Reno telah mengeluarkan mantra-mantra sihirnya dan aku diam terpaku. Hanya bisa mendengarkan, dan memasukkannya dalam hati. Kamu benar Reno, aku terlalu egois untuk memaksakan keinginan kepada Tuhan. Dia adalah Yang Maha Sibuk, semua diatur hingga yang sekecil-kecilnya.

“Ah…, udahlah bang. Aku bosen dengerin khotbahnya. Aku udah baikan sama Tuhan kok”. Ya, sejak Dia mengembalikanmu padaku, Reno. Just e few minutes ago.

“Bagus lah” Ia tersenyum dan menatap mataku. Lama sekali. Lamaaaaaa sekali. Aku baru sadar. Ini kali pertama Reno menatap mataku.

“Hey, abang sekarang berani natap mataku. Apa gak takut jatuh cinta ama aku?” aku berkata lembut, takut dia tersinggung.

“Iya, aku sadar bahwa aku memang sudah jatuh cinta sama kamu. Jadi tak perlu membohongi diri lagi” ia juga berkata dengan lembut, mata kami bertemu.

Mata memang tak bisa berbohong, Reno. Because eyes are the windows to the soul.

 Carpenters-Superstar: http://www.youtube.com/watch?v=7-nlLQEfxx8 


No comments:

Post a Comment