VI. Devo: The Ugly Duckling
Devo adalah seorang anak yang tidak
menarik. Setidaknya begitulah komentar gadis-gadis jika melihatnya. Ia kurus,
berkacamata tebal, rambut kusut dan awut-awutan. Dia juga pendiam dan canggung.
Kulitnya walaupun terang, terlihat kusam. Pakaian yang dipakainya pun
ketinggalan jaman. Sejak SD ia pun tidak terlalu berprestasi di kelas. Nilainya
biasa-biasa saja. Beda dengan kakak-kakaknya yang semuanya pintar dan ‘sedap
dipandang’.
Rasya, kakak perempuannya yang pertama
adalah bintang dalam keluarganya. Cantik, cerdas, berprestasi dan pintar
bergaul. Semua orang suka padanya. Setiap hari telepon rumah berbunyi hanya
untuknya. Dari teman-teman, dan juga dari ‘penggemarnya’. Secara fisik, Rasya
mempunyai setiap unsur dari syarat-syarat kecantikan seorang gadis. Putih,
berhidung mancung, tulang pipi tinggi, tubuh semampai nan padat, dan juga
pandangan mata yang jernih dan bercahaya.
Ray, adalah kakak laki-laki Devo, adik
dari Rasya. Seorang anak laki-laki yang cerdas dan menyenangkan. Pintar
olahraga. Hampir setiap kegiatan yang mengutamakan fisik pasti dijuarainya. Ia
pintar main sepakbola, basket, voli, bahkan juga beladiri. Ray sama pintarnya
dengan Risya, tapi lebih malas di kelas. Tapi semalas-malasnya, Ray tetap tak
pernah jauh dari rangking 5 besar. Hanya sekali peringkatnya ‘jatuh’ ke
rangking 10 karena kecelakaan mobil. Ray memang suka sekali dengan dunia
otomotif. Sejak SMP dia sudah akrab dengan mobil. Karena prestasinya di kelas,
ayahnya membelikan sebuah mobil untuknya. Semenjak saat itu Ray pun tergila-gila
dengan mobilnya itu. Ia menabung untuk memodifikasi mobilnya menjadi lebih
keren lagi. Dan hasilnya? Gadis gadis berjatuhan di bawah kakinya.
Ketiga bersaudara ini datang dari
keluarga yang berprestasi. Arifin Suryapraja, ayah mereka, adalah seorang pengusaha
yang sukses. Istrinya sudah lama meninggal, namun anak-anaknya tetap tidak
kehilangan kasih sayang karena Arifin selalu mampu melimpahkan perhatian untuk
anak-anaknya. Sebagai pengusaha sukses, ia lebih banyak di rumah. Karena ia tak
lagi bekerja untuk uang. Uanglah yang kini bekerja untuknya.
Arifin selalu memacu anak-anaknya untuk
berprestasi. Risya dan Ray adalah kebanggaannya. Hanya Devo yang kurang
bersinar. Segala cara sudah diupayakannya untuk memacu presatsi Devo. Dari cara
yang halus sampai yang keras, Devo tetap ‘kusam’. Arifin telah mengiming-imingi
dengan berbagai hadiah, bahkan di kala kesabarannya habis, ia juga tak jarang
mencela Devo. Tapi semua itu seperti menabur garam di tengah laut.
Devo tetaplah Devo. Seorang anak pendiam
yang tak banyak tingkah dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Di saat
kakak-kakaknya sibuk dengan berbagai macam kegiatan, Devo tak pernah keluar
kamar. Ia lebih suka membaca atau menonton TV. Sembarang buku dilahapnya. Tapi
hobby membaca ini juga tidak membuat ia bertambah pintar. Pengetahuannya tetap
biasa-biasa saja. Ia juga tidak menunjukkan minat dan bakat pada suatu hal
tertentu. Ayahnya tak pernah berhenti untuk mencoba memahaminya. Namun, seperti
kata teman-teman sekolahnya, Devo memang anak yang aneh. Diam, diam, dan diam.
Satu-satunya tempat yang disukainya selain kamarnya sendiri adalah perpustakaan
keluarga yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya. Ia bahkan minta agar
dibuatkan pintu langsung dari kamarnya menuju perpustakaan. Ayahnya menurutinya.
Namun Devo tetaplah Devo. Kesukaannya terhadap buku tidak membuatnya bertambah
pintar. Arifin Suryapraja akhirnya menyerah. Menerima kenyataan bahwa ‘selalu
ada kambing hitam di dalam sebuah keluarga’.
Saat Devo kelas satu SMA, ia tertarik
dengan seorang gadis teman sekelasnya bernama Mergie. Hanya bisa tertarik dan
jatuh hati, karena Devo tak akan mungkin berani untuk mengungkapkan perasaannya
pada gadis itu. Ia hanya berani mencuri-curi pandang. Tak berani bertatapan.
Bila berpapasan dengan Mergie, Devo selalu memandang tempat lain, tak pernah
berani menatap wajah bidadari itu. Ia tak pernah punya alasan untuk bisa
mendekati Mergie. Pinjam buku? Alasan kuno. Minta diajarin pelajaran sekolah?
Mergie bukan murid yang pintar. Ngobrol? Devo lebih memilih disiksa di neraka
daripada disuruh mengucapkan ‘Halo’. Mungkin teman-temanku benar, pikir
Devo. Aku memang anak yang aneh.
Devo bukan tak menyadari sikap
teman-teman yang mengejeknya. Ia bisa merasakan pandangan mata mereka yang
menertawai sifat canggung dan pemalunya. Tak ada satupun anak yang bergaul
dengannya. Mungkin hanya Reno lah yang mau menyapanya. Reno adalah kawan
sekelasnya yang pintar dan baik hati. Orangnya ramah pada siapa saja. Mungkin
keramahan inilah yang membuatnya menyapa Devo, mungkin juga karena kasihan. Who
Knows?. Ia memang selalu sendirian. Ia memang selalu ditertawakan karena
kecanggungannya. Tapi ia tak pernah bersedih. Tuhan pasti punya rencana
sendiri untukku.
Devo pernah mencoba bercakap-cakap
dengan teman-temannya. Namun pendapat atau ucapannya tak pernah ditanggapi
orang lain. Pandangan mata yang melecehkan selalu diterimanya jika ia mencoba
bersuara. Hanya Reno yang masih mau ngobrol dengannya. Mereka sering berbicara
tentang banyak hal. Devo sering mengeluhkan sikapnya yang pemalu dan rendah
diri. Reno lah yang sering menenangkannya dengan ucapan-ucapan bijak, “Orang
seperti kita ditakdirkan untuk merubah dunia. Lihat Einstein atau Edison,
mereka dahulu sering dicibir orang. Kamu dan aku adalah bagian dari generasi
emas yang mampu merubah wajah dunia. Akan datang saat di mana dunia berada di
dalam genggamanmu, teman”. Devo sering tertawa mendengarnya. Baginya
ucapan-ucapan Reno itu hanya untuk menenangkan hati, namun setidaknya ia
bahagia karena ada juga orang yang memperhatikan dan memberinya semangat.
Reno memang begitu. Hidupnya selalu
bersemangat dan ia mampu menularkan semangat itu kepada orang lain. Ia
sepertinya mempunyai kemampuan menyihir orang lewat kata-katanya.
Perlahan-lahan Devo mulai berusaha untuk mengalahkan rendah dirinya. Bersama
Reno ia menghabiskan waktu berolahraga, jalan-jalan, atau sekedar mendengarkan
‘pidato’ Reno. Devo mulai tersadar bahwa ia sebenarnya bisa melakukan sesuatu
sebaik orang lain, asal ia mampu menghilangkan rasa rendah dirinya.
Perasaannya terhadap Mergie juga semakin
menguat. Reno juga mendukungnya. Ia menyemangati Devo untuk berani mengutarakan
perasaannya terhadap Mergie. Setelah melalui ‘pergulatan batin’, Devo akhirnya
mengambil keputusan untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Mergie. Sebuah surat
cinta akhirnya tertuliskan. Reno yang menyerahkan surat itu pada Mergie.
“Dari elo?” Mergie bertanya dengan hati
berbunga-bunga.
“Bukan, tapi dari orang yang gak kalah
keren ama gue. Baca aja, ntar lu tau sendiri” jawab Reno.
Siang itu sepulang sekolah, terjadilah
hal yang paling memalukan bagi Devo. Mergie mendampratnya. Mengata-ngatainya
dengan ucapan-ucapan kasar. Bahwa Devo tak tahu diri, tak pernah berkaca, dll.
Mergie meremas-remas surat berwarna merah muda itu dengan gemas dan melemparkannya
ke wajah Devo. Surat itu dipungut Devo dengan hati tak karuan. Hari itu ia
hancur. Kepercayaan dirinya yang pelan-pelan dibangunnya bersama Reno luluh
lantak. Devo pulang dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan ia menangis sesampai
di kamar. Melalui telepon, Reno mencoba menenangkan hatinya. Berkata bahwa
gadis seperti Mergie terlalu rendah untuk dijadikan pasangan hidupnya. “Elo tuh
hanya cocok pacaran dengan artis terkenal. Kalo cuma ama Mergie aja terlalu
hina buat lo” kata Reno.
“Udah deh, lo gak usah nyenengin hati
gue. Gue tau ‘kasta’ gue terlalu rendah dibandingin Mergie. Gue gak bisa
apa-apa. Gak punya sesuatu yang bisa dibanggain. Gue gak pinter basket kayak
Donny, atau pinter musik kayak Angga, atau punya tampang keren kayak Indra. Gue
cuma loser man, loser. Gue tuh nol besar” Devo berkata perlahan.
“Haha. Gak usah kecewa, man.
Gagal sekali belum tentu gagal selamanya. Dalam kasus ini Mergie sendiri yang
rugi. Dia gak pernah bayangin dalam 5 sampai 10 tahun lagi lo akan jadi apa.
Kehidupan selalu berputar, man. Ada saatnya ketika lampu sorot itu
menyinarimu. Ingat, semua kekalahan yang elo rasakan saat ini, akan hilang jika
nanti elo ngerasain satu kemenangan, cukup satu kemenangan untuk menghapus
semua rasa sedih lo.Tunggu aja” kata Reno.
Entahlah, Ren. Semoga saja kamu benar. Devo menutup
telepon, lalu menyetel sebuah lagu kesayangan yang sudah ia anggap sebagai lagu
kebangsaan kedua setelah Indonesia Raya, ‘Creep’ dari Radiohead.
I’m a creep, I’m a weirdo
What the hell am I doing here? I don’t
belong here
***
Waktu terus berjalan. Devo pun lulus
SMA. Ia dan Reno terpaksa berpisah karena Devo bersama keluarga pindah ke
Amerika. Arifin Suryapraja sedang melebarkan sayap bisnisnya di Amerika, ia dan
keluarganya harus tinggal disana beberapa tahun. Ketika akan berpisah Reno
berkata, “Kuatin hati elo man. Kita pasti ketemu lagi nanti. Dan saat gue
ketemo elo nanti, elo harus udah jadi pemenang. Ok?” Mereka berdua lalu
berpelukan, dan Reno lalu pergi. Masih dengan seyuman dan mata jenakanya. Devo
sedih sekali kehilangan satu-satunya sahabatnya itu.
Di Amerika, Devo lebih banyak nganggur.
Hampir semua buku di perpustakaan keluarga sudah dibacanya. Dan kadang-kadang
timbul rasa bosan membaca terus. Devo ingin refreshing. Ia lalu mencari konsol
video game untuk menemani hari-hari sepinya. Sesampai di sebuah toko game,
seorang penjaga toko menawarkan komputer padanya, karena Devo terlihat bingung
memilih, “Banyak hal yang bisa anda dapatkan dalam sebuah komputer. Anda tak
hanya bisa bermain game. Anda bisa menonton film, mengerjakan dokumen,
menggambar, membuat musik, dan yang paling penting anda bisa menggunakan
internet”.
Internet? Hmm. Boleh juga.
Beberapa tahun lalu ketika masih di
Indonesia, Internet baru saja booming. Temen-temennya berbondong-bondong
berinternet ria. Bikin email, chatting, dll. Devo yang menganggap
dirinya seorang yang anti-trend menganggap booming internet sebagai
suatu trend sehingga ia memilih untuk tidak berkenalan sama sekali. Sekarang,
ketika ‘trend’ itu sudah lewat, bolehlah untuk tahu lebih dalam, begitu
pikirnya.
Dibelilah perangkat komputer itu. Devo
mulai berkenalan dengan dunia maya. Dunia di mana seluruh bumi dan isinya bagai
dilipat ke dalam sebuah mesin maya bernama internet. Devo menemukan banyak
pengetahuan, berkenalan dengan hal-hal baru. Semua kegiatan netting disikatnya.
Ia pun aktif di berbagai forum diskusi di dunia maya. Ilmu-ilmu baru yang
selama ini tak pernah dikenalnya melalui buku-buku di perpustakaan keluarga,
kini mulai digelutinya. Ia bahkan membeli buku-buku baru yang berhubungan
dengan dunia barunya itu.
Devo lalu berkenalan dengan cyber
crime. Membajak email, menembus system, bahkan membobol kartu kredit orang.
Ini hal yang menarik baginya. Devo mulai ‘menemukan’ arah hidupnya. Nampaknya
ia memang mempunyai bakat di sini. Setelah hampir seluruh waktu dalam hidupnya
dihabiskan untuk bertanya tentang kemampuan pribadinya. Tentang bakat dan minat
yang sebelum ini tak pernah ditemukannya. Menjadi hacker! Itulah tujuan
hidupnya kini.
Hari-hari dalam hidupnya kemudian
dihabiskan di depan komputer. Otak dan jemarinya menjelejahi setiap lorong
ruang dan waktu dalam dunia maya. Menerobos tembok-tembok tebal pertahanan
barbagai security system. Mencabik-cabik macam-macam database.
Membobol banyak server. Devo kini mulai ditakuti di dunia maya. Nama
yang dipakainya adalah Devotional Devil. Komunitas hacker sangat
mengenal nama ini. Nama yang baru saja muncul namun sudah menggegerkan dunia cyber
crime. Oleh sesama cyber criminal, ia dipuja-puja bak dewa. Oleh
orang-orang yang dirusak systemnya oleh Devo, ia ditakuti bak malaikat maut. Ia
kini raja di semesta maya!
Dunia kemudian bagai di dalam
genggamannya. Ia pernah memindahkan isi rekening seorang tetangganya yang kaya
raya namun sombong ke sebuah yayasan sosial yang mengurusi kaum tuna wisma. Ia
pernah mengubah tagihan listrik sebuah pabrik menjadi jutaan dollar sebulan
setelah ia tahu pabrik itu mencemari lingkungan sekitarnya. Walaupun dianggap
sebagai seorang kriminal, Devo tak pernah menggunakan kehebatannya itu untuk
keuntungan pribadi. Tak pernah ada sepeser pun uang yang dibelanjakannya untuk
kepentingannya sendiri. Baginya, membobol system adalah sebuah tantangan. Dan
berapa banyak pun uang yang sanggup didapatkannya, tak pernah mampu mengalahkan
rasa puas ketika ia mampu membobol sebuah system.
Aparat keamanan Amerika masih kedodoran
dalam melacak jejaknya. Berbagai macam ahli cyber crime dipanggil untuk
‘mengejar’ dan menangkap Devotional Devil namun tak satupun yang
berhasil. Devo bagai iblis yang muncul dan menghilang bagai seberkas cahaya.
Tak satupun orang yang sanggup menahannya!.
Beberapa tahun ia puas dengan
‘prestasi’nya itu. Hingga akhirnya dia bosan sendiri menjadi seorang hacker.
Tak ada satu system pun di dunia ini yang tak sanggup dihacknya. Tak ada
lagi tantangan, tak ada lagi ‘kejar-mengejar’ yang mengasyikkan. Kebosanan
inilah yang akhirnya menjadi titik balik hidupnya.
Suatu hari, ia berfikir. Alangkah
mudahnya membobol system. Setiap hacker yang berpengalaman pasti bisa
melakukannya. Yang tidak mudah adalah menciptakan program atau system yang tak
bisa dibobol. Ini adalah sebuah tantangan besar baginya. Mampukah seorang
hacker menciptakan sebuah system yang tak mampu dibobolnya sendiri? God,
itu adalah pertanyaan abad ini!
Mulai saat itulah lahirlah seorang
‘tokoh’ baru di dunia maya bernama Devotional Angel bersamaan dengan
‘kematian’ Devotional Devil. Sang Angel menciptakan
program-program baru yang sulit ditembus. System-system dan program-program ini
disebarkannya secara luas, bersamaan dengan tantangan terbuka bagi siapa saja
untuk membobol system-system itu. Banyak hacker yang tertantang dengan
hal ini. Ramailah dunia hacking karena tantangan ini. Setiap ada suatu
program atau system yang berhasil dibobol, beberapa hari kemudian muncul lagi
sebuah program dan system baru yang lebih susah dibobol. Hal ini berlangsung
terus menerus. Sampai pada suatu ketika terciptalah sebuah system keamanan
internet yang tak mampu ditembus oleh siapapun. Semua hacker di seluruh
dunia angkat tangan dengan system ini. Bahkan ada suara-suara yang menantikan
kehadiran Devotional Devil untuk membobol system itu. Tapi sang Devil
tak pernah muncul, dan memang tak akan pernah muncul.
System yang diciptakan Devotional
Angel itu kemudian menjadi sangat terkenal yang kemudian ia namakan Devotion
yang berarti kesetiaan. Banyak perusahaan raksasa yang bergerak di dunia maya
yang sangat tertarik dengan system kemanan ini. Karena sistem ini memberikan
perlindungan email, web, e commerce, kartu kredit, server,
database, anti virus dan lain-lain yang semuanya terdapat dalam sebuah
paket program bernama Devotion itu. Program yang juga mampu melindungi
dari pembajakan ini bahkan mereka tawar dengan harga yang amat tinggi. Tawaran
harga itu semakin lama semakin meninggi, Devotional Angel yang selama
ini tak pernah muncul, kemudan menerima harga yang ditawarkan salah satu
perusahaan raksasa itu. Ia lalu memperkenalkan identitas aslinya. Dan semenjak
saat itu perhatian dunia mengarah ke calon jutawan muda ini. Media massa
seperti koran, dan TV mulai meliput ‘sang malaikat’. Hasil kerjanya dianggap
mampu merevolusi dunia. Semua orang terperanjat kaget ketika tahu bahwa
pencipta system ini hanyalah seorang anak muda berumur 23 tahun.
Foto wajah dan profil dirinya mulai
terpampang di koran, majalah, dan TV. Hidup bagi Devo adalah sesuatu yang kini
sangat aneh. Dulu tak satupun orang yang ingin kenal dengannya, mereka tak
pernah memperdulikannya. Bagi orang-orang sekitarnya, kehadiran Devo bagai ada
dalam ketiadaan. Hadir tidak menambah, pergi tidak mengurangi. Lalu
hidup kemudian sedikit bercahaya ketika ia berkenalan dengan dunia maya. Banyak
orang yang mengagumi ‘hasil kerjanya’, walaupun tak pernah mengenalnya secara
langsung. Dan kini seluruh dunia seperti menoleh kepadanya atas penemuan Devotion.
Banyak orang yang ingin tahu tentang kehidupannya, latar belakangnya,
pengetahuannya, kisah-kisah pribadinya, bahkan apa yang dimakannya sehari-hari.
Majalah TIME bahkan memasukkannya ke dalam daftar The World 100 Most Influential People. Dia kini menjadi
seorang selebritis kelas dunia!
Devo mulai aktif menjadi pembicara dalam
seminar-seminar tentang Information Technology. Ia juga rajin menulis
buku, baik tentang masalah IT, atau tentang kehidupan pribadinya. Dan
semuanya laris manis. Ia kini telah menemukan dirinya yang selama ini
dianggapnya hilang. Kepercayaan diri yang tak pernah tumbuh di dalam jiwanya
perlahan-lahan mulai bersinar. Dulu, ia tak pernah berani melakukan apapun
karena tak nyaman dengan pandangan menusuk penuh celaan dan cibiran orang.
Kini, ketika seluruh mata memandangnya dengan penuh perhatian dan kekaguman,
Devo mulai menunjukkan kualitasnya yang sebenarnya.
Kehadirannya selalu disambut hangat di
mana-mana. Di lantai sembilan Tech Square, sebuah tempat yang dianggap
‘rumah’ bagi para hacker, orang-orang memberikan standing ovation ketika ia
memasuki ruangan ‘keramat’ itu. Di sana jugalah tempat di mana ia memberikan
sebuah pidatonya yang amat terkenal di dunia hacking,
“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang saya
hormati, saya berdiri di depan anda bukan sebagai pencipta Devotion,
bukan sebagai seorang jutawan muda. Tetapi saya berdiri di depan anda sebagai
seorang pecundang yang berhasil mendapatkan impiannya. Saya ingat kata-kata
seorang teman saya, satu-satunya teman yang saya punya, yang berkata ‘suatu
hari nanti engkau akan merubah wajah dunia’. Entah dia itu memiliki bakat
sebagai shahman yang mampu melihat masa depan, namun kata-katanya itu
kini terbukti benar. Dulu ia berkata seperti itu mungkin hanya untuk
menyuntikkan semangat kepada saya. Namun kata-kata itu terus terngiang di dalam
benak saya. Saya yang selama ini dianggap sebagai pecundang, mulai memiliki
semangat untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa saya bukanlah seperti yang
mereka kira. Sahabat saya itu juga pernah berkata ‘semua kekalahan yang kamu
alami selama ini, akan terasa tak ada artinya ketika kamu merasakan sebuah
kemenangan. Cukup sebuah kemenangan saja’. Dan demi Tuhan, saya rela
menyerahkan seumur hidup saya hanya untuk merasakan sebuah kemenangan itu. Dan
Tuhan memang memberikan kemenangan itu. Kemenangan yang lahir dari keinginan
untuk melihat sebuah dunia yang lebih baik. Saya menciptakan Devotion
bukan untuk uang, bukan untuk melindungi kepentingan-kepentingan perusahaan
besar yang semakin lama semakin menggerogoti setiap sendi kehidupan manusia
modern. Saya menciptakan Devotion dengan sebuah kecintaan besar kepada
dunia cyber. Devotion bukan sebuah program yang tak bisa
ditembus, ia hanyalah bagai puncak gunung yang belum ditaklukan. Tinggal
menunggu waktu saja kita akan melihat seorang hacker menaklukannya.”
“Devotion sebenarnya adalah
sebuah anti-tesis dari system proteksi. Analoginya, ia hanya bagai pagar besar
yang melindungi kebun anggur milik orang kaya. Kita kadang ingin merasakan
anggur-anggur itu. Mungkin dengan cara membobol temboknya. Kita berusaha keras,
menggunakan segala upaya, tenaga, bahkan juga harta, untuk membobol tembok itu.
Tapi kita lupa, daripada menghabiskan begitu banyak upaya untuk membobol tembok
itu, kenapa kita tidak membuat kebun anggur kita sendiri?. Itulah pesan moral
yang ingin saya sampaikan melalui Devotion. Bahwa para hacker
jangan hanya tertarik untuk menembus sistem, tapi marilah kita bersatu untuk
membuat sebuah sistem yang lebih baik di mana setiap orang bisa menikmatinya.
Mengacu kepada ‘Hacker Ethic’ yang telah dirumuskan pendahulu-pendahulu
kita. Bahwa teknologi, terutama komputer, seharusnya membuat kehidupan manusia
lebih baik.”
“Saya teringat sebuah era. Jaman
keemasan dimana tak seorang pun yang mencuri, dan tak seorang pun yang
kelaparan. Jaman dimana kas negara berlimpah ruah sehingga tak dapat
dipergunakan karena kebutuhan semua orang sudah tercukupi.”
“Untuk itulah di sini, di ruangan
‘keramat’ ini, saya mengajak para hacker dimana pun anda berada, apapun
ras anda, apapun jenis kelamin anda, apapun AGAMA anda untuk bersatu
menciptakan sebuah sistem yang lebih baik. Dimana semua orang bebas
menggunakannya tanpa harus mencuri, tanpa harus membobol. Freeware for
everyone in this free world!”
Ruangan itu lalu penuh dengan gemuruh tepuk tangan seperti tak berakhir.
Mata Devo berkaca-kaca.
Devo kini menjadi orang yang sama sekali
berbeda. Wajahnya yang sebenarnya tampan semakin terlihat karena kini ia tak
ragu lagi berdandan. Potongan rambut baru membuatnya terlihat gagah. Kulit
putihnya yang dulu kusam kini bercahaya karena ia mulai memperhatikan
penampilan fisiknya. Badannya yang dulu kurus kini makin berisi. Pakaiannya,
walaupun bukan yang paling trendy, kini semakin fashionable dan semakin
memperindah penampilannya. Kacamata tebalnya kini berganti soft lens
yang mahal. Jika teman-temannya yang dulu melihatnya seperti sekarang ini,
mereka akan bersumpah pocong bahwa orang yang mereka lihat sekarang bukanlah
Devo yang dulunya pemalu dan tak menarik.
Kegemaran membaca yang sejak dulu telah
dimilikinya, baru terlihat efeknya saat ini. Otaknya mampu menampung semua
informasi, dan menganalisanya. Devo memang sebenarnya orang yang cerdas. Dulu
ayahnya mengira hobby membaca itu tidak sanggup membuatnya bertambah pintar.
Namun ayahnya salah besar. Saat itu Devo tidak menunjukkan ilmu-ilmu itu,
karena apa yang dipelajarinya adalah ilmu-ilmu ‘tingkat tinggi’. Segala hal
yang dilahapnya dari buku-buku itu tak pernah bisa ‘diobrolkan’ atau
didiskusikan dengan orang lain, karena tak ada seorang pun yang mempunyai
kapasitas keilmuan setara dengannya. Masih ditambah lagi, ia memang orang yang
pemalu untuk mengutarakan pendapatnya.
Namun semua kini berbeda. Sang itik
buruk rupa telah menjadi seekor angsa yang cantik. Dan Devo sadar bahwa ia
harus berterima kasih pada seseorang. Seorang teman yang sudah lama tak pernah
tak bertemu. Seorang sahabat yang selalu memberi semangat dan menguatkan
hatinya. Seorang guru yang ‘pidato-pidato menyebalkannya’ membawa pencerahan. Reno,
seandainya gua bisa berbagi kebahagiaan ini dengan elo.
Kerinduan pada Reno membawanya pulang ke
Indonesia. Ditelusurinya jejak satu-satunya sahabat dekat yang dimilikinya itu.
Namun bayangan Reno seperti ditelan bumi. Dari penelusurannya itu ia bertemu
dengan banyak kenalan lama, dan mendengar banyak kisah tentang kenalan-kenalan
yang lain. Disebut ‘kenalan’ karena dulu mereka sendiri tak pernah menganggap
Devo sebagai sahabat. Kini ‘kenalan-kenalan’ itu lalu memaksakan diri menjadi
sahabat. Memperbaiki sikap dan kelakuan, menjilat-jilat dan mempertebal topeng
karena mereka tahu bahwa Devo adalah seorang jutawan. Dan ia menerima mereka
dengan tangan terbuka. Kesombongan bukan bagian dari dirinya. Banyak cerita
yang didengar tentang mantan teman-teman sekolahnya. Dan kabar yang paling
ingin diketahuinya selain keberadaan Reno adalah kabar Mergie. Devo tak pernah
lupa dengan Mergie.
Kabar yang dinantikannya itu datang tak
lama padanya. Dari seseorang, ia mendengar bahwa keadaan Mergie sangat jauh
dengan pada waktu sekolah dulu. Mergie telah menkah dan telah memiliki anak.
Badannya yang dulu padat dan berisi kini melar dan tak indah lagi. Cahaya
wajahnya hilang diterpa cerita hidup yang berliku-liku. Mergie memang telah
menikah dengan laki-laki pilihannya. Seorang pilot tampan nan gagah. Namun
setelah melahirkan anak pertama, penampilan Mergie menjadi tak menarik lagi.
Suaminya semakin jarang pulang, terdengar kabar bahwa sang suami memiliki
simpanan disana-sini. Mergie mencoba membicarakan hal ini dengan suaminya, tapi
yang didapatkannya hanya bentakan bahkan pukulan. Sang suami menggunakan amarah
untuk menutupi rasa salah. Lalu akhirnya mereka bercerai. Mergie membawa
anak-anak besertanya dan hidup apa adanya. Sang suami menghilang entah kemana.
Dengan susah payah Devo akhirnya
berhasil menemukan alamat rumah kontrakan Mergie. Sebuah rumah kecil di daerah
perkampungan di pinggiran Jakarta. Mergie sedang menyapu halaman rumahnya
ketika Devo menyapanya,
“Selamat sore”
“Selamat sore, nyari siapa ya mas?”
“Nyari kamu, kamu pasti udah lupa ama
saya”
“Eng, siapa ya?”
“Saya Devo, teman sekolah kamu dulu”
Dahi Mergie berkerut, heran, ia
bertanya, “Devo Suryapraja?”
“Yup”
“Masa ini kamu? Wah kamu udah berubah
banget, ayo masuk-masuk”. Mereka pun bercengkerama seperti teman lama. Saling
menceritakan kehidupan masing-masing. Dan Devo masih beberapa kali mengunjungi
Mergie sebelum ia kembali ke Amerika.
Pada kali terakhir kunjungannya Devo
menyerahkan sepucuk kertas berwarna merah muda yang sudah kusut dan kusam,
“Apa ini?” tanya Mergie
“Devotion” jawab Devo.
Ketika Mergie membukanya, ia terhenyak.
Itu adalah surat cinta yang dulu pernah diberikan Devo padanya hampir sepuluh
tahun yang lalu.
Radiohead -Creep : http://www.youtube.com/watch?v=05um2VS9iWs
No comments:
Post a Comment