Thursday, July 31, 2014

BAB 6 Devo

VI. Devo: The Ugly Duckling


Devo adalah seorang anak yang tidak menarik. Setidaknya begitulah komentar gadis-gadis jika melihatnya. Ia kurus, berkacamata tebal, rambut kusut dan awut-awutan. Dia juga pendiam dan canggung. Kulitnya walaupun terang, terlihat kusam. Pakaian yang dipakainya pun ketinggalan jaman. Sejak SD ia pun tidak terlalu berprestasi di kelas. Nilainya biasa-biasa saja. Beda dengan kakak-kakaknya yang semuanya pintar dan ‘sedap dipandang’.

Rasya, kakak perempuannya yang pertama adalah bintang dalam keluarganya. Cantik, cerdas, berprestasi dan pintar bergaul. Semua orang suka padanya. Setiap hari telepon rumah berbunyi hanya untuknya. Dari teman-teman, dan juga dari ‘penggemarnya’. Secara fisik, Rasya mempunyai setiap unsur dari syarat-syarat kecantikan seorang gadis. Putih, berhidung mancung, tulang pipi tinggi, tubuh semampai nan padat, dan juga pandangan mata yang jernih dan bercahaya.

Ray, adalah kakak laki-laki Devo, adik dari Rasya. Seorang anak laki-laki yang cerdas dan menyenangkan. Pintar olahraga. Hampir setiap kegiatan yang mengutamakan fisik pasti dijuarainya. Ia pintar main sepakbola, basket, voli, bahkan juga beladiri. Ray sama pintarnya dengan Risya, tapi lebih malas di kelas. Tapi semalas-malasnya, Ray tetap tak pernah jauh dari rangking 5 besar. Hanya sekali peringkatnya ‘jatuh’ ke rangking 10 karena kecelakaan mobil. Ray memang suka sekali dengan dunia otomotif. Sejak SMP dia sudah akrab dengan mobil. Karena prestasinya di kelas, ayahnya membelikan sebuah mobil untuknya. Semenjak saat itu Ray pun tergila-gila dengan mobilnya itu. Ia menabung untuk memodifikasi mobilnya menjadi lebih keren lagi. Dan hasilnya? Gadis gadis berjatuhan di bawah kakinya.

Ketiga bersaudara ini datang dari keluarga yang berprestasi. Arifin Suryapraja, ayah mereka, adalah seorang pengusaha yang sukses. Istrinya sudah lama meninggal, namun anak-anaknya tetap tidak kehilangan kasih sayang karena Arifin selalu mampu melimpahkan perhatian untuk anak-anaknya. Sebagai pengusaha sukses, ia lebih banyak di rumah. Karena ia tak lagi bekerja untuk uang. Uanglah yang kini bekerja untuknya.

Arifin selalu memacu anak-anaknya untuk berprestasi. Risya dan Ray adalah kebanggaannya. Hanya Devo yang kurang bersinar. Segala cara sudah diupayakannya untuk memacu presatsi Devo. Dari cara yang halus sampai yang keras, Devo tetap ‘kusam’. Arifin telah mengiming-imingi dengan berbagai hadiah, bahkan di kala kesabarannya habis, ia juga tak jarang mencela Devo. Tapi semua itu seperti menabur garam di tengah laut.

Devo tetaplah Devo. Seorang anak pendiam yang tak banyak tingkah dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Di saat kakak-kakaknya sibuk dengan berbagai macam kegiatan, Devo tak pernah keluar kamar. Ia lebih suka membaca atau menonton TV. Sembarang buku dilahapnya. Tapi hobby membaca ini juga tidak membuat ia bertambah pintar. Pengetahuannya tetap biasa-biasa saja. Ia juga tidak menunjukkan minat dan bakat pada suatu hal tertentu. Ayahnya tak pernah berhenti untuk mencoba memahaminya. Namun, seperti kata teman-teman sekolahnya, Devo memang anak yang aneh. Diam, diam, dan diam. Satu-satunya tempat yang disukainya selain kamarnya sendiri adalah perpustakaan keluarga yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya. Ia bahkan minta agar dibuatkan pintu langsung dari kamarnya menuju perpustakaan. Ayahnya menurutinya. Namun Devo tetaplah Devo. Kesukaannya terhadap buku tidak membuatnya bertambah pintar. Arifin Suryapraja akhirnya menyerah. Menerima kenyataan bahwa ‘selalu ada kambing hitam di dalam sebuah keluarga’.

Saat Devo kelas satu SMA, ia tertarik dengan seorang gadis teman sekelasnya bernama Mergie. Hanya bisa tertarik dan jatuh hati, karena Devo tak akan mungkin berani untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Ia hanya berani mencuri-curi pandang. Tak berani bertatapan. Bila berpapasan dengan Mergie, Devo selalu memandang tempat lain, tak pernah berani menatap wajah bidadari itu. Ia tak pernah punya alasan untuk bisa mendekati Mergie. Pinjam buku? Alasan kuno. Minta diajarin pelajaran sekolah? Mergie bukan murid yang pintar. Ngobrol? Devo lebih memilih disiksa di neraka daripada disuruh mengucapkan ‘Halo’. Mungkin teman-temanku benar, pikir Devo. Aku memang anak yang aneh.

Devo bukan tak menyadari sikap teman-teman yang mengejeknya. Ia bisa merasakan pandangan mata mereka yang menertawai sifat canggung dan pemalunya. Tak ada satupun anak yang bergaul dengannya. Mungkin hanya Reno lah yang mau menyapanya. Reno adalah kawan sekelasnya yang pintar dan baik hati. Orangnya ramah pada siapa saja. Mungkin keramahan inilah yang membuatnya menyapa Devo, mungkin juga karena kasihan. Who Knows?. Ia memang selalu sendirian. Ia memang selalu ditertawakan karena kecanggungannya. Tapi ia tak pernah bersedih. Tuhan pasti punya rencana sendiri untukku.

Devo pernah mencoba bercakap-cakap dengan teman-temannya. Namun pendapat atau ucapannya tak pernah ditanggapi orang lain. Pandangan mata yang melecehkan selalu diterimanya jika ia mencoba bersuara. Hanya Reno yang masih mau ngobrol dengannya. Mereka sering berbicara tentang banyak hal. Devo sering mengeluhkan sikapnya yang pemalu dan rendah diri. Reno lah yang sering menenangkannya dengan ucapan-ucapan bijak, “Orang seperti kita ditakdirkan untuk merubah dunia. Lihat Einstein atau Edison, mereka dahulu sering dicibir orang. Kamu dan aku adalah bagian dari generasi emas yang mampu merubah wajah dunia. Akan datang saat di mana dunia berada di dalam genggamanmu, teman”. Devo sering tertawa mendengarnya. Baginya ucapan-ucapan Reno itu hanya untuk menenangkan hati, namun setidaknya ia bahagia karena ada juga orang yang memperhatikan dan memberinya semangat.

Reno memang begitu. Hidupnya selalu bersemangat dan ia mampu menularkan semangat itu kepada orang lain. Ia sepertinya mempunyai kemampuan menyihir orang lewat kata-katanya. Perlahan-lahan Devo mulai berusaha untuk mengalahkan rendah dirinya. Bersama Reno ia menghabiskan waktu berolahraga, jalan-jalan, atau sekedar mendengarkan ‘pidato’ Reno. Devo mulai tersadar bahwa ia sebenarnya bisa melakukan sesuatu sebaik orang lain, asal ia mampu menghilangkan rasa rendah dirinya.

Perasaannya terhadap Mergie juga semakin menguat. Reno juga mendukungnya. Ia menyemangati Devo untuk berani mengutarakan perasaannya terhadap Mergie. Setelah melalui ‘pergulatan batin’, Devo akhirnya mengambil keputusan untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Mergie. Sebuah surat cinta akhirnya tertuliskan. Reno yang menyerahkan surat itu pada Mergie.

“Dari elo?” Mergie bertanya dengan hati berbunga-bunga.

“Bukan, tapi dari orang yang gak kalah keren ama gue. Baca aja, ntar lu tau sendiri” jawab Reno.
Siang itu sepulang sekolah, terjadilah hal yang paling memalukan bagi Devo. Mergie mendampratnya. Mengata-ngatainya dengan ucapan-ucapan kasar. Bahwa Devo tak tahu diri, tak pernah berkaca, dll. Mergie meremas-remas surat berwarna merah muda itu dengan gemas dan melemparkannya ke wajah Devo. Surat itu dipungut Devo dengan hati tak karuan. Hari itu ia hancur. Kepercayaan dirinya yang pelan-pelan dibangunnya bersama Reno luluh lantak. Devo pulang dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan ia menangis sesampai di kamar. Melalui telepon, Reno mencoba menenangkan hatinya. Berkata bahwa gadis seperti Mergie terlalu rendah untuk dijadikan pasangan hidupnya. “Elo tuh hanya cocok pacaran dengan artis terkenal. Kalo cuma ama Mergie aja terlalu hina buat lo” kata Reno.

“Udah deh, lo gak usah nyenengin hati gue. Gue tau ‘kasta’ gue terlalu rendah dibandingin Mergie. Gue gak bisa apa-apa. Gak punya sesuatu yang bisa dibanggain. Gue gak pinter basket kayak Donny, atau pinter musik kayak Angga, atau punya tampang keren kayak Indra. Gue cuma loser man, loser. Gue tuh nol besar” Devo berkata perlahan.

“Haha. Gak usah kecewa, man. Gagal sekali belum tentu gagal selamanya. Dalam kasus ini Mergie sendiri yang rugi. Dia gak pernah bayangin dalam 5 sampai 10 tahun lagi lo akan jadi apa. Kehidupan selalu berputar, man. Ada saatnya ketika lampu sorot itu menyinarimu. Ingat, semua kekalahan yang elo rasakan saat ini, akan hilang jika nanti elo ngerasain satu kemenangan, cukup satu kemenangan untuk menghapus semua rasa sedih lo.Tunggu aja” kata Reno.

Entahlah, Ren. Semoga saja kamu benar. Devo menutup telepon, lalu menyetel sebuah lagu kesayangan yang sudah ia anggap sebagai lagu kebangsaan kedua setelah Indonesia Raya, ‘Creep’ dari Radiohead.

I’m a creep, I’m a weirdo
What the hell am I doing here? I don’t belong here

***

Waktu terus berjalan. Devo pun lulus SMA. Ia dan Reno terpaksa berpisah karena Devo bersama keluarga pindah ke Amerika. Arifin Suryapraja sedang melebarkan sayap bisnisnya di Amerika, ia dan keluarganya harus tinggal disana beberapa tahun. Ketika akan berpisah Reno berkata, “Kuatin hati elo man. Kita pasti ketemu lagi nanti. Dan saat gue ketemo elo nanti, elo harus udah jadi pemenang. Ok?” Mereka berdua lalu berpelukan, dan Reno lalu pergi. Masih dengan seyuman dan mata jenakanya. Devo sedih sekali kehilangan satu-satunya sahabatnya itu.

Di Amerika, Devo lebih banyak nganggur. Hampir semua buku di perpustakaan keluarga sudah dibacanya. Dan kadang-kadang timbul rasa bosan membaca terus. Devo ingin refreshing. Ia lalu mencari konsol video game untuk menemani hari-hari sepinya. Sesampai di sebuah toko game, seorang penjaga toko menawarkan komputer padanya, karena Devo terlihat bingung memilih, “Banyak hal yang bisa anda dapatkan dalam sebuah komputer. Anda tak hanya bisa bermain game. Anda bisa menonton film, mengerjakan dokumen, menggambar, membuat musik, dan yang paling penting anda bisa menggunakan internet”.

Internet? Hmm. Boleh juga.

Beberapa tahun lalu ketika masih di Indonesia, Internet baru saja booming. Temen-temennya berbondong-bondong berinternet ria. Bikin email, chatting, dll. Devo yang menganggap dirinya seorang yang anti-trend menganggap booming internet sebagai suatu trend sehingga ia memilih untuk tidak berkenalan sama sekali. Sekarang, ketika ‘trend’ itu sudah lewat, bolehlah untuk tahu lebih dalam, begitu pikirnya.

Dibelilah perangkat komputer itu. Devo mulai berkenalan dengan dunia maya. Dunia di mana seluruh bumi dan isinya bagai dilipat ke dalam sebuah mesin maya bernama internet. Devo menemukan banyak pengetahuan, berkenalan dengan hal-hal baru. Semua kegiatan netting disikatnya. Ia pun aktif di berbagai forum diskusi di dunia maya. Ilmu-ilmu baru yang selama ini tak pernah dikenalnya melalui buku-buku di perpustakaan keluarga, kini mulai digelutinya. Ia bahkan membeli buku-buku baru yang berhubungan dengan dunia barunya itu.

Devo lalu berkenalan dengan cyber crime. Membajak email, menembus system, bahkan membobol kartu kredit orang. Ini hal yang menarik baginya. Devo mulai ‘menemukan’ arah hidupnya. Nampaknya ia memang mempunyai bakat di sini. Setelah hampir seluruh waktu dalam hidupnya dihabiskan untuk bertanya tentang kemampuan pribadinya. Tentang bakat dan minat yang sebelum ini tak pernah ditemukannya. Menjadi hacker! Itulah tujuan hidupnya kini.

Hari-hari dalam hidupnya kemudian dihabiskan di depan komputer. Otak dan jemarinya menjelejahi setiap lorong ruang dan waktu dalam dunia maya. Menerobos tembok-tembok tebal pertahanan barbagai security system. Mencabik-cabik macam-macam database. Membobol banyak server. Devo kini mulai ditakuti di dunia maya. Nama yang dipakainya adalah Devotional Devil. Komunitas hacker sangat mengenal nama ini. Nama yang baru saja muncul namun sudah menggegerkan dunia cyber crime. Oleh sesama cyber criminal, ia dipuja-puja bak dewa. Oleh orang-orang yang dirusak systemnya oleh Devo, ia ditakuti bak malaikat maut. Ia kini raja di semesta maya!

Dunia kemudian bagai di dalam genggamannya. Ia pernah memindahkan isi rekening seorang tetangganya yang kaya raya namun sombong ke sebuah yayasan sosial yang mengurusi kaum tuna wisma. Ia pernah mengubah tagihan listrik sebuah pabrik menjadi jutaan dollar sebulan setelah ia tahu pabrik itu mencemari lingkungan sekitarnya. Walaupun dianggap sebagai seorang kriminal, Devo tak pernah menggunakan kehebatannya itu untuk keuntungan pribadi. Tak pernah ada sepeser pun uang yang dibelanjakannya untuk kepentingannya sendiri. Baginya, membobol system adalah sebuah tantangan. Dan berapa banyak pun uang yang sanggup didapatkannya, tak pernah mampu mengalahkan rasa puas ketika ia mampu membobol sebuah system.

Aparat keamanan Amerika masih kedodoran dalam melacak jejaknya. Berbagai macam ahli cyber crime dipanggil untuk ‘mengejar’ dan menangkap Devotional Devil namun tak satupun yang berhasil. Devo bagai iblis yang muncul dan menghilang bagai seberkas cahaya. Tak satupun orang yang sanggup menahannya!.
Beberapa tahun ia puas dengan ‘prestasi’nya itu. Hingga akhirnya dia bosan sendiri menjadi seorang hacker. Tak ada satu system pun di dunia ini yang tak sanggup dihacknya. Tak ada lagi tantangan, tak ada lagi ‘kejar-mengejar’ yang mengasyikkan. Kebosanan inilah yang akhirnya menjadi titik balik hidupnya.

Suatu hari, ia berfikir. Alangkah mudahnya membobol system. Setiap hacker yang berpengalaman pasti bisa melakukannya. Yang tidak mudah adalah menciptakan program atau system yang tak bisa dibobol. Ini adalah sebuah tantangan besar baginya. Mampukah seorang hacker menciptakan sebuah system yang tak mampu dibobolnya sendiri? God, itu adalah pertanyaan abad ini!

Mulai saat itulah lahirlah seorang ‘tokoh’ baru di dunia maya bernama Devotional Angel bersamaan dengan ‘kematian’ Devotional Devil. Sang Angel menciptakan program-program baru yang sulit ditembus. System-system dan program-program ini disebarkannya secara luas, bersamaan dengan tantangan terbuka bagi siapa saja untuk membobol system-system itu. Banyak hacker yang tertantang dengan hal ini. Ramailah dunia hacking karena tantangan ini. Setiap ada suatu program atau system yang berhasil dibobol, beberapa hari kemudian muncul lagi sebuah program dan system baru yang lebih susah dibobol. Hal ini berlangsung terus menerus. Sampai pada suatu ketika terciptalah sebuah system keamanan internet yang tak mampu ditembus oleh siapapun. Semua hacker di seluruh dunia angkat tangan dengan system ini. Bahkan ada suara-suara yang menantikan kehadiran Devotional Devil untuk membobol system itu. Tapi sang Devil tak pernah muncul, dan memang tak akan pernah muncul.

System yang diciptakan Devotional Angel itu kemudian menjadi sangat terkenal yang kemudian ia namakan Devotion yang berarti kesetiaan. Banyak perusahaan raksasa yang bergerak di dunia maya yang sangat tertarik dengan system kemanan ini. Karena sistem ini memberikan perlindungan email, web, e commerce, kartu kredit, server, database, anti virus dan lain-lain yang semuanya terdapat dalam sebuah paket program bernama Devotion itu. Program yang juga mampu melindungi dari pembajakan ini bahkan mereka tawar dengan harga yang amat tinggi. Tawaran harga itu semakin lama semakin meninggi, Devotional Angel yang selama ini tak pernah muncul, kemudan menerima harga yang ditawarkan salah satu perusahaan raksasa itu. Ia lalu memperkenalkan identitas aslinya. Dan semenjak saat itu perhatian dunia mengarah ke calon jutawan muda ini. Media massa seperti koran, dan TV mulai meliput ‘sang malaikat’. Hasil kerjanya dianggap mampu merevolusi dunia. Semua orang terperanjat kaget ketika tahu bahwa pencipta system ini hanyalah seorang anak muda berumur 23 tahun.

Foto wajah dan profil dirinya mulai terpampang di koran, majalah, dan TV. Hidup bagi Devo adalah sesuatu yang kini sangat aneh. Dulu tak satupun orang yang ingin kenal dengannya, mereka tak pernah memperdulikannya. Bagi orang-orang sekitarnya, kehadiran Devo bagai ada dalam ketiadaan. Hadir tidak menambah, pergi tidak mengurangi. Lalu hidup kemudian sedikit bercahaya ketika ia berkenalan dengan dunia maya. Banyak orang yang mengagumi ‘hasil kerjanya’, walaupun tak pernah mengenalnya secara langsung. Dan kini seluruh dunia seperti menoleh kepadanya atas penemuan Devotion. Banyak orang yang ingin tahu tentang kehidupannya, latar belakangnya, pengetahuannya, kisah-kisah pribadinya, bahkan apa yang dimakannya sehari-hari. Majalah TIME bahkan memasukkannya ke dalam daftar The World 100 Most  Influential People. Dia kini menjadi seorang selebritis kelas dunia!
Devo mulai aktif menjadi pembicara dalam seminar-seminar tentang Information Technology. Ia juga rajin menulis buku, baik tentang masalah IT, atau tentang kehidupan pribadinya. Dan semuanya laris manis. Ia kini telah menemukan dirinya yang selama ini dianggapnya hilang. Kepercayaan diri yang tak pernah tumbuh di dalam jiwanya perlahan-lahan mulai bersinar. Dulu, ia tak pernah berani melakukan apapun karena tak nyaman dengan pandangan menusuk penuh celaan dan cibiran orang. Kini, ketika seluruh mata memandangnya dengan penuh perhatian dan kekaguman, Devo mulai menunjukkan kualitasnya yang sebenarnya.

Kehadirannya selalu disambut hangat di mana-mana. Di lantai sembilan Tech Square, sebuah tempat yang dianggap ‘rumah’ bagi para hacker, orang-orang memberikan standing ovation ketika ia memasuki ruangan ‘keramat’ itu. Di sana jugalah tempat di mana ia memberikan sebuah pidatonya yang amat terkenal di dunia hacking,

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang saya hormati, saya berdiri di depan anda bukan sebagai pencipta Devotion, bukan sebagai seorang jutawan muda. Tetapi saya berdiri di depan anda sebagai seorang pecundang yang berhasil mendapatkan impiannya. Saya ingat kata-kata seorang teman saya, satu-satunya teman yang saya punya, yang berkata ‘suatu hari nanti engkau akan merubah wajah dunia’. Entah dia itu memiliki bakat sebagai shahman yang mampu melihat masa depan, namun kata-katanya itu kini terbukti benar. Dulu ia berkata seperti itu mungkin hanya untuk menyuntikkan semangat kepada saya. Namun kata-kata itu terus terngiang di dalam benak saya. Saya yang selama ini dianggap sebagai pecundang, mulai memiliki semangat untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa saya bukanlah seperti yang mereka kira. Sahabat saya itu juga pernah berkata ‘semua kekalahan yang kamu alami selama ini, akan terasa tak ada artinya ketika kamu merasakan sebuah kemenangan. Cukup sebuah kemenangan saja’. Dan demi Tuhan, saya rela menyerahkan seumur hidup saya hanya untuk merasakan sebuah kemenangan itu. Dan Tuhan memang memberikan kemenangan itu. Kemenangan yang lahir dari keinginan untuk melihat sebuah dunia yang lebih baik. Saya menciptakan Devotion bukan untuk uang, bukan untuk melindungi kepentingan-kepentingan perusahaan besar yang semakin lama semakin menggerogoti setiap sendi kehidupan manusia modern. Saya menciptakan Devotion dengan sebuah kecintaan besar kepada dunia cyber. Devotion bukan sebuah program yang tak bisa ditembus, ia hanyalah bagai puncak gunung yang belum ditaklukan. Tinggal menunggu waktu saja kita akan melihat seorang hacker menaklukannya.”

Devotion sebenarnya adalah sebuah anti-tesis dari system proteksi. Analoginya, ia hanya bagai pagar besar yang melindungi kebun anggur milik orang kaya. Kita kadang ingin merasakan anggur-anggur itu. Mungkin dengan cara membobol temboknya. Kita berusaha keras, menggunakan segala upaya, tenaga, bahkan juga harta, untuk membobol tembok itu. Tapi kita lupa, daripada menghabiskan begitu banyak upaya untuk membobol tembok itu, kenapa kita tidak membuat kebun anggur kita sendiri?. Itulah pesan moral yang ingin saya sampaikan melalui Devotion. Bahwa para hacker jangan hanya tertarik untuk menembus sistem, tapi marilah kita bersatu untuk membuat sebuah sistem yang lebih baik di mana setiap orang bisa menikmatinya. Mengacu kepada ‘Hacker Ethic’ yang telah dirumuskan pendahulu-pendahulu kita. Bahwa teknologi, terutama komputer, seharusnya membuat kehidupan manusia lebih baik.”
“Saya teringat sebuah era. Jaman keemasan dimana tak seorang pun yang mencuri, dan tak seorang pun yang kelaparan. Jaman dimana kas negara berlimpah ruah sehingga tak dapat dipergunakan karena kebutuhan semua orang sudah tercukupi.”
“Untuk itulah di sini, di ruangan ‘keramat’ ini, saya mengajak para hacker dimana pun anda berada, apapun ras anda, apapun jenis kelamin anda, apapun AGAMA anda untuk bersatu menciptakan sebuah sistem yang lebih baik. Dimana semua orang bebas menggunakannya tanpa harus mencuri, tanpa harus membobol. Freeware for everyone in this free world!”  Ruangan itu lalu penuh dengan gemuruh tepuk tangan seperti tak berakhir. Mata Devo berkaca-kaca. 

Devo kini menjadi orang yang sama sekali berbeda. Wajahnya yang sebenarnya tampan semakin terlihat karena kini ia tak ragu lagi berdandan. Potongan rambut baru membuatnya terlihat gagah. Kulit putihnya yang dulu kusam kini bercahaya karena ia mulai memperhatikan penampilan fisiknya. Badannya yang dulu kurus kini makin berisi. Pakaiannya, walaupun bukan yang paling trendy, kini semakin fashionable dan semakin memperindah penampilannya. Kacamata tebalnya kini berganti soft lens yang mahal. Jika teman-temannya yang dulu melihatnya seperti sekarang ini, mereka akan bersumpah pocong bahwa orang yang mereka lihat sekarang bukanlah Devo yang dulunya pemalu dan tak menarik.

Kegemaran membaca yang sejak dulu telah dimilikinya, baru terlihat efeknya saat ini. Otaknya mampu menampung semua informasi, dan menganalisanya. Devo memang sebenarnya orang yang cerdas. Dulu ayahnya mengira hobby membaca itu tidak sanggup membuatnya bertambah pintar. Namun ayahnya salah besar. Saat itu Devo tidak menunjukkan ilmu-ilmu itu, karena apa yang dipelajarinya adalah ilmu-ilmu ‘tingkat tinggi’. Segala hal yang dilahapnya dari buku-buku itu tak pernah bisa ‘diobrolkan’ atau didiskusikan dengan orang lain, karena tak ada seorang pun yang mempunyai kapasitas keilmuan setara dengannya. Masih ditambah lagi, ia memang orang yang pemalu untuk mengutarakan pendapatnya.

Namun semua kini berbeda. Sang itik buruk rupa telah menjadi seekor angsa yang cantik. Dan Devo sadar bahwa ia harus berterima kasih pada seseorang. Seorang teman yang sudah lama tak pernah tak bertemu. Seorang sahabat yang selalu memberi semangat dan menguatkan hatinya. Seorang guru yang ‘pidato-pidato menyebalkannya’ membawa pencerahan. Reno, seandainya gua bisa berbagi kebahagiaan ini dengan elo.

Kerinduan pada Reno membawanya pulang ke Indonesia. Ditelusurinya jejak satu-satunya sahabat dekat yang dimilikinya itu. Namun bayangan Reno seperti ditelan bumi. Dari penelusurannya itu ia bertemu dengan banyak kenalan lama, dan mendengar banyak kisah tentang kenalan-kenalan yang lain. Disebut ‘kenalan’ karena dulu mereka sendiri tak pernah menganggap Devo sebagai sahabat. Kini ‘kenalan-kenalan’ itu lalu memaksakan diri menjadi sahabat. Memperbaiki sikap dan kelakuan, menjilat-jilat dan mempertebal topeng karena mereka tahu bahwa Devo adalah seorang jutawan. Dan ia menerima mereka dengan tangan terbuka. Kesombongan bukan bagian dari dirinya. Banyak cerita yang didengar tentang mantan teman-teman sekolahnya. Dan kabar yang paling ingin diketahuinya selain keberadaan Reno adalah kabar Mergie. Devo tak pernah lupa dengan Mergie.

Kabar yang dinantikannya itu datang tak lama padanya. Dari seseorang, ia mendengar bahwa keadaan Mergie sangat jauh dengan pada waktu sekolah dulu. Mergie telah menkah dan telah memiliki anak. Badannya yang dulu padat dan berisi kini melar dan tak indah lagi. Cahaya wajahnya hilang diterpa cerita hidup yang berliku-liku. Mergie memang telah menikah dengan laki-laki pilihannya. Seorang pilot tampan nan gagah. Namun setelah melahirkan anak pertama, penampilan Mergie menjadi tak menarik lagi. Suaminya semakin jarang pulang, terdengar kabar bahwa sang suami memiliki simpanan disana-sini. Mergie mencoba membicarakan hal ini dengan suaminya, tapi yang didapatkannya hanya bentakan bahkan pukulan. Sang suami menggunakan amarah untuk menutupi rasa salah. Lalu akhirnya mereka bercerai. Mergie membawa anak-anak besertanya dan hidup apa adanya. Sang suami menghilang entah kemana.
Dengan susah payah Devo akhirnya berhasil menemukan alamat rumah kontrakan Mergie. Sebuah rumah kecil di daerah perkampungan di pinggiran Jakarta. Mergie sedang menyapu halaman rumahnya ketika Devo menyapanya,
“Selamat sore”
“Selamat sore, nyari siapa ya mas?”
“Nyari kamu, kamu pasti udah lupa ama saya”
“Eng, siapa ya?”
“Saya Devo, teman sekolah kamu dulu”
Dahi Mergie berkerut, heran, ia bertanya, “Devo Suryapraja?”
“Yup”
“Masa ini kamu? Wah kamu udah berubah banget, ayo masuk-masuk”. Mereka pun bercengkerama seperti teman lama. Saling menceritakan kehidupan masing-masing. Dan Devo masih beberapa kali mengunjungi Mergie sebelum ia kembali ke Amerika.

Pada kali terakhir kunjungannya Devo menyerahkan sepucuk kertas berwarna merah muda yang sudah kusut dan kusam,
“Apa ini?” tanya Mergie
Devotion” jawab Devo.

Ketika Mergie membukanya, ia terhenyak. Itu adalah surat cinta yang dulu pernah diberikan Devo padanya hampir sepuluh tahun yang lalu.





 Radiohead -Creep : http://www.youtube.com/watch?v=05um2VS9iWs






No comments:

Post a Comment