Thursday, July 31, 2014

BAB 4 Reno

IV. RENO: The Freedom Fighter


Suasana sekretariat Front Aksi Kerakyatan (FAK) hari itu sungguh mencekam. Baru dua hari yang lalu mereka menerima surat ancaman. Tadi malam, salah seorang anggota mereka ditemukan tewas di kali Ciliwung. Ada bekas siksaan pada tubuhnya. Juga enam butir peluru bersarang di dadanya. Para aktivis FAK yang mendengar hal ini kemudian berkumpul di sekretariat untuk membahas kejadian ini.

“Ini jelas bukan kebetulan belaka. Kematian Farhan pasti ada hubungannya dengan surat ancaman dua hari yang lalu. Aku sudah bilang supaya kita menyingkir dulu, tapi kalian malah menganggap surat itu hanya sebagai angin lalu. Beginilah jadinya” Andi Suleyman, kepala divisi Litbang FAK, berbicara dengan berapi-api.

“Kita harus tenang. Langkah-langkah kita harus taktis. Jangan karena ketakutan kita lari seperti ayam pengecut” Iksan Valdanu, sekretaris FAK, menimpali.

“Apanya yang harus taktis jika menyangkut nyawa?” nada suara Andi meninggi.” Yang harus kita lakukan adalah menghilang secepatnya untuk sementara sampai suasana tenang kembali” sambungnya.

“Kordinasi dengan kawan-kawan aktivis dari organisasi lain harus secepatnya dilakukan sehingga kita bisa tahu sejauh mana tingkat bahaya permasalahan ini” kali ini kepala divisi propaganda FAK, Ruslan Andrika mencoba memberi usul.

“Temanmu sudah mati satu. Masih juga kau pikir ini belum berbahaya?” nada suara Andi masih meninggi.
“Bukan itu maksudku…”
“Sudah teman-teman kini bukan saatnya berdebat.” Reno memotong pertengkaran itu.

Rapat hari itu berlangsung sampai malam. Keputusan yang diambil adalah bahwa semua      anggota harus bergerak terus menerus sambil tetap melakukan kontak antar sesama. Untuk sementara kantor sekretariat ditutup sampai ada langkah-langkah baru yang diambil. Suasana masih tegang.

***

Beberapa hari kemudian ditemukan lagi mayat dipinggiran kota. Kali ini beserta sebuah surat ancaman di dalam saku celananya. “UNTUK SEMUA ANGGOTA FAK, AMA, KOMA, DAN GEDOR: KALIAN TAK BISA LARI DARI KEMATIAN. INI ADALAH BALASAN UNTUK KELANCANGAN KALIAN”.

Media massa mulai meliput kasus ini besar-besaran. Kampus-kampus dimana organisasi-organisasi diatas bernanung mulai terlihat tegang. Mahasiswa-mahasiswa memilih bungkam seribu bahasa ketika ditanya wartawan tentang komentar mereka. Mungkin takut menjadi korban berikutnya.

Korban pun semakin banyak yang ditemukan. Andi Suleyman, Ruslan Andrika, dan beberapa orang lainnya ditemukan tewas di tempat sepi dengan luka bekas siksaan dan luka tembak di dada. Banyak spekulasi yang muncul mengenai siapa pelaku dari aksi berdarah ini. Banyak yang bilang bahwa kaki tangan pemilik pabrik International Chemical Industry lah pelakunya. Pabrik ini baru saja ditutup atas tuntutan aktivis dan masyarakat karena dianggap sebagai penyebab pencemaran lingkungan yang mengakibatkan musnahnya sebuah desa di daerah terpencil di jawa barat.

Ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa aktivis-aktivis itu ‘dihabisi’ pemerintah karena pergerakan mereka dianggap meresahkan. Spekulasi ini muncul karena di tubuh para korban ditemukan jenis peluru yang hanya digunakan oleh aparat pemerintah.

Sedangkan sebagian kecil masyarakat menganggap hal ini sama dengan kejadian ‘Petrus’ yang pernah terjadi di Indonesia puluhan tahun yang lalu. Pada saat itu banyak preman yang dihabisi secara misterius.

Namun dugaan bahwa korban-korban ini dibunuh karena aktivitas politiknya mencuat sangat kuat. Hal ini dipertegas dengan banyaknya bukti yang ditemukan serta keselarasan fakta-fakta yang ada. Kenyataan ini membuat banyak organisasi ‘bertiarap’, mencoba untuk menghindarkan diri dari pembunuhan-pembunuhan ini. Para aktivis yang dulu santer berteriak-teriak, kini bagai hilang ditelan bumi. Mereka semua menghilang, mencoba untuk menyelamatkan diri dari kekalutan ini, sambil mengatur langkah dengan melihat situasi yang berkembang.

Reno adalah salah satunya. Ia kini hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi Reno bukan tipe pria penakut. Hidup berpindah-pindah baginya adalah bagai sebuah gerakan gerilya Dari tempat kost teman yang satu ke teman yang lain. Ia sebisa mungkin memilih teman yang tidak pernah terlibat langsung dengan aktivisme, sehingga nama mereka tidak masuk dalam ‘daftar hitam’. Ada perasaan sungkan dalam hatinya karena ia merasa menjadi beban bagi sahabat-sahabatnya itu. Untunglah para sahabat yang disinggahinya satu persatu itu mampu mengerti kesulitannya. Mereka pun dengan sukerela menyediakan tempat tinggal, makan dan minum, bahkan juga uang saku untuk sekedar bertahan hidup sementara.

Dari tempat persembunyiannya, Reno mencoba menyusun kekuatan para aktivis yang kini tercerai berai. Dikontaknya satu persatu kawan-kawan seperjuangannya. Namun nomer telepon yang dihubungi selalu tak pernah diangkat. Ia bingung harus melakukan apa. Apalagi ia kini tak dapat bergerak bebas. Reno sengaja hanya bergerak di siang hari untuk memperkecil kemungkinan buruk yang terjadi pada dirinya, karena dari kabar yang didengarnya para korban hilang diculik pada malam hari. Ia pun sengaja memilih melewati tempat-tempat ramai.

Hari demi hari berlalu, setiap hari koran menulis tentang korban-korban baru yang berjatuhan. Membaca ini, hati Reno bagai teriris-iris. Kawan-kawannya semakin banyak yang berguguran sedangkan dia tak mampu melakukan apa-apa. Tetes airmata mengalir dari wajahnya yang keras. Reno tak yakin apakah ini air mata kesedihan ataukah air mata kemarahan. Ingin ia berbuat nekad, tapi berbuat nekad seperti apa?. Alangkah percuma melakukan perbuatan nekad yang tak menghasilkan apa-apa, malah hanya membuang nyawa dengan sia-sia.

Ia mencoba menguatkan hatinya bahwa ini adalah konsekuensi logis dari pilihan hidupnya. Menjadi aktivis adalah menjadi mayat hidup. Sudah ada kontrak mati yang ditekennya secara tidak langsung. Ia memutuskan untuk bertahan. Menyerah berarti mati. Dicoba lagi untuk mengingat-ingat kisah-kisah patriot yang pernah dibacanya. Kisah kepahlawanan Che Guevara dalam bergerilya, kisah penderitaan Malcolm X yang hidupnya setiap hari mendapat ancaman pembunuhan, dan masih banyak lagi. Hatinya menjadi sedikit lebih tenang. “Orang-orang ini menyerahkan hidupnya demi kebenaran, dan mati demi kebenaran. Alangkah indah hidup mereka” ia membatin.

Kini ia berada di sebuah kamar kost yang sempit di sebuah daerah di pinggiran Jakarta. Boris, pemilik kamar kost yang merupakan teman sekampusnya itu tadi pagi baru saja pulang kampung ke Medan. “Ada urusan keluarga yang harus kuselesaikan” begitu katanya.

Reno kini sendirian di situ. Perutnya keroncongan karena hampir seharian belum diisi. Keuangannya sudah semakin menipis. Matanya berkeliaran disekeliling kamar mencoba mencari sesuatu yang bisa dimakan. Rasa lapar dan lemas bisa ditahannya, tapi perut yang kosong membuat otaknya tak bisa berpikir. Kamar ini sempit sekali, panas pula pikirnya. Hanya ada satu pintu dan dua buah jendela. Lemari pakaian, rak buku, sebuah meja dan seperangkat komputer diatasnya. Kasur tempatnya berbaring terasa tipis, rasanya tak jauh beda dengan tidur diatas karpet. Hmmm, tak ada yang bisa ku makan, pikirnya. Ia tidak terlalu menyalahkan Boris karena tak meninggalkan apapun yang bisa mengganjal perutnya. Diberi ‘penampungan’ seperti ini saja sudah merupakan berkah bagi Reno.

Ia mencoba mengalihkan pikiran dari rasa laparnya. Namun badannya terasa lemas sekali. “Beginikah nasib para gerilyawan di hutan?” pikirnya, “Hidup tak karuan makan tak tentu, meninggalkan kehidupan yang normal hanya untuk sesuatu yang tak pernah pasti”. Ia kini berbaring. Sunyi senyap di luar. Hanya bunyi sekumpulan nyamuk di dalam kamar ini yang menemaninya. Saat itu sudah jam 11 malam. “Orang-orang pasti sudah tidur” batinnya. Rasa lemas membuatnya mengantuk. Tak berapa lama ia pun tertidur. Bunyi nyamuk-nyamuk yang ganas sudah tak lagi dihiraukannya. “Semoga aku mendapat pahala karena menyumbangkan darah untuk makhluk-Mu yang kelaparan, Tuhan” begitu doanya dalam hati.

***

Reno tersentak kaget ketika suara pintu didobrak menyadarkannya dari lelap yang cuma sebentar. Beberapa orang bertopeng sudah ada di kamar itu. Menodongkan senjata, “Ayo menyerah!” kata mereka.

“Akhirnya kalian datang juga” kata Reno sambil tersenyum pahit, “Sudah lama dinanti. Susah gak pak nyari alamatku?” candanya. Sebuah tendangan dari kaki yang bersepatu lars menyantap wajahnya. “Diam kamu!” hardik pemilik kaki itu. Reno yang sedang berlutut saat itu terjungkal ke belakang. Ada rasa asin di mulutnya, bercampur panas dan sakit. Matanya pun mengabur, seribu kunang-kunang datang menyapa. Ia masih merasakan betapa mereka mengikat tangannya dengan kasar. Lalu setelah itu ia pingsan.

Reno terbangun ketika kepalanya diguyur seember air dingin. “Aku dimana? Di surga atau neraka?” pikirnya dalam hati. Kepalanya sakit sekali. Seluruh pandangannya kabur, namun tak berapa lama perlahan-lahan menerang. Matanya kini sudah mulai bisa menangkap bayangan, semakin lama semakin jelas. Lalu tampak padanya beberapa pria bertopeng yang berdiri di hadapannya. Ia kini berada di tengah sebuah ruangan sempit dan gelap. Hanya ada sebuah lampu ber-watt kecil yang menerangi ruangan itu. Ia duduk di kursi, sedang kedua tangannya terikat di sandaran kursi itu.

“Hey anjing, bangun kau” kata seorang di depannya.
“Ini dia jagoannya.” kata yang seorang lagi.
Reno tersenyum.

“Hebat kau bisa senyum, tapi gue pengen tau apa lu bisa senyum beberapa menit lagi” kata salah seorang yang lain.
“Hey anjing, gue pengen tanya, lu jawab dengan benar, mengerti?” kata salah seorang.
“Kalo benar hadiahnya apa pak?” tanya Reno sambil tersenyum lagi.
“Bangsat!” sebuah bogem mentah mendarat di wajahnya.
“Ya Allah!” Reno mengaduh dengan menyebut nama Tuhan.
“Hah! Lu sudah deket mati baru ingat Tuhan. Komunis macam kalian memang kayak anjing!” salah seorang menghardiknya.
“Saya bukan komunis pak” Reno membantah.
“Alah! Alasan! kalian itu pemberontak-pemberontak. Mau merusak negara. Lihat aja negeri ini kacau gara-gara kalian. Bisanya protes kesana kemari. Bikin rakyat resah. Memang dasar komunis bisanya bikin kacau” kata salah seorang.
Reno diam, berdebat dengan orang-orang ini seperti berdebat dengan kamar mandi. Tapi ia kemudian berkata, “Tidak semua yang suka protes itu komunis pak”
“Hah diem lu. Udah mau mati juga” bentak salah seorang.
“Hey anjing, siapa nama lengkap lu?” tanya salah seorang.
“Reno Wicaksono” jawabnya
“Umur?” tanya yang seorang itu.
“24 tahun”
“Kuliah dimana?”
“Universitas Pahlawan, jurusan kedokteran dan hukum”
“Nama orang tua?”
“Ayah saya namanya Rafael Wicaksono, ibu saya…”
“Sebentar!” potong si penanya “Rafael Wicaksono yang menteri itu?”
“Benar”
“Lu itu gila, bapak lu menteri, tapi lu jadi tukang protes di jalan-jalan” kata salah seorang.
“Wah gawat nih, kita lapor atasan dulu. Jangan sampai nanti dimarahin karena kesalahan tangan” kata yang seorang lagi.

Orang-orang itu lalu keluar ruangan, nampaknya untuk membahas sesuatu. Reno tersenyum pahit. Kali ini nama ayahnya akhirnya dipakai juga, padahal ia sudah berjanji untuk tidak pernah membawa-bawa nama ayahnya dalam urusan apapun. Teringat ia akan pertengkarannya dengan ayahnya itu. Sebagai orang pemerintahan ayahnya jelas tidak setuju dengan aktivitas Reno yang dianggap subversif. Namun Reno tetap bertahan dengan pendiriaannya. Baginya kebenaran adalah kebenaran, dan harus diperjuangkan. Pertengkaran ini membuat Reno diusir dari rumah. Sejak saat itu ia tak pernah lagi berurusan dengan keluarganya. Ia akhirnya membiayai hidup dengan mengajar les privat. Kebetulan sejak kecil Reno memang sudah belajar piano dan gitar klasik. Biaya kuliah pun tidak menjadi beban yang berat karena ia mendapat bantuan beasiswa ‘akibat’ otaknya yang cerdas. Hidup seperti itu membuat Reno semakin tegar dan mandiri. Ia tak pernah kehilangan semangat dan keceriaannya. Namun ia juga tak pernah melupakan ‘dendam’nya terhadap ayahnya yang dianggapnya sebagai antek-antek penindas. Ia pun sengaja memberitahu nama ayahnya kepada para penculik itu bukan untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi untuk membuat malu ayahnya!.

Rapat para penculik berlangsung lama. Mereka sepertinya bingung untuk melakukan tindakan. Reno pun dibiarkan sendirian di ruangan itu selama berhari-hari. Pada jam-jam tertentu salah seorang dari penculik datang untuk memberinya makan. Reno hanya bisa pasrah. Ia memang tak pernah berpikir bisa lolos dari penculikan dan pembunuhan ini. Karena ia sadar bahwa ia adalah salah satu target utama dari aksi berdarah ini. Namanya berada dalam urutan teratas organisasi. Ia pun aktif dalam penggalangan massa, dan pendampingan advokasi untuk rakyat kecil. Kegiatan semacam itu memang dianggap subversif oleh pemerintah, dan sudah pasti mereka gerah melihat tindak tanduknya.

Pada malam kelima para penculik memasuki ruangan. Reno sadar bahwa ini mungkin saat penentuan hidupnya. Ia mungkin dibebaskan mungkin juga dibunuh. Ia mengangkat kepala memandang mereka, lalu mengucapkan kata-kata dari Che Guevara, seorang tokoh yang sangat dikaguminya, “I know you are here to kill me. Shoot, coward, you are only going to kill a man”.
“Haha. Untuk orang yang sudah mau mati, lu termasuk orang yang berani” kata salah seorang.
Mereka lalu membuka ikatan tangannya, dan menyuruhnya jalan. Reno berjalan dengan tertatih-tatih karena sudah lima hari ia duduk terus. Ia berjalan di tengah para penculik bertopeng yang menodongkan pistol ke kepalanya. Seseorang menutup matanya dengan selembar kain.
Dalam kegelapan malam mereka berjalan menuju suatu tempat sepi. Banyak ilalang dan tumbuhan. Rupanya mereka berada di sebuah hutan yang sepi. Setelah tiba di tempat yang dituju, Reno merasa kaget karena ternyata ia tidak sendiri. Ada beberapa orang yang menjadi korban penculikan seperti dirinya. Ini diketahuinya dari suara-suara minta ampun yang menyedihkan.

“Ampun pak, ampun. Jangan bunuh saya. Saya hanya ikut-ikutan.” begitu suara yang didengar Reno.

“Iya pak, jangan bunuh kami pak, kami ndak tau apa-apa” kata yang lainnya.

Mendengar ini Reno marah sekali. Beginikah mental seorang pejuang kebenaran? Ia pun berteriak, “Hentikan kebodohan kalian. Nyawa kalian sudah terjual semenjak kalian memutuskan menjadi aktivis. Memohon-mohon ampun seperti ini hanyalah tindakan pengecut” bentaknya.
Lalu ramailah para korban penculikan itu bertengkar. Para penculik membiarkan pertengkaran ini, salah seorang dari mereka berseloroh, “Ya begini ini para aktivis, udah mau mati masih juga berdebat”.

Tapi perdebatan itu tidak berlangsung lama karena para korban sudah disuruh berbaris. Reno berada dalam urutan paling belakang. Lalu ia mendengar suara tembakan. Satu persatu tembakan itu mengambil nyawa para aktivis. Suara tembakan itu semakin dekat, sepertinya kematiannya sudah di depan mata. Suara itu semakin dekat. Dor, dor, dor, “Ya Tuhan ambillah nyawaku, dan catatlah aku sebagai orang yang memperjuangkan kebenaran” ia berdoa di dalam hati.

Dor, dor, dor, satu persatu suara tembakan, semakin dekat dan dekat. Bahkan Reno sudah mulai mencium bau amis dari darah korban depan yang bercipratan di wajahnya. Sudah ada beberapa korban yang mati, Reno menduganya dari suara gedebukan tubuh manusia yang roboh ke tanah. Tinggal sebentar lagi umurku, tinggal sebentar lagi aku bertemu Tuhanku, begitu batinnya.
Dan sebuah pistol akhirnya menempel di keningnya, “Inilah saatnya.., Ya Allah terimalah aku” Reno berdoa.

“Tunggu!” sebuah bentakan menghentikan jari yang hampir menarik pelatuk.
“Ada apa pak?” tanya sang eksekutor.
“Aku kenal dengan ayah orang ini. Dan aku punya dendam pribadi dengan keluarganya. Biar aku saja yang menyelesaikan anak ini.” Kata orang itu. “Urusan ini hanya bisa diselesaikan antara dua lelaki. Biar dia kubawa ke bagian dalam hutan. Kuhabisi dia disana.” Lanjutnya lagi.
“Terserah bapak, bapaklah komandan disini” jawab yang lainnya.
“Kalian masukkan mayat-mayat itu kedalam lubang yang sudah kita siapkan. Lalu tunggu Aku di mobil” kata sang ‘komandan’.
“Baik pak” jawab semua.

Reno pun dibawa masuk ke bagian hutan yang lebih dalam. Tangannya masih terikat. Setelah berjalan beberapa ratus meter jauhnya, mereka lalu berhenti. Tutup matanya dibuka. Dalam gelap samar-samar Reno sepertinya mengenal wajah orang ini.
“Kamu mungkin sudah lupa sama aku nak, waktu kamu kecil aku pernah jadi sopir bapakmu” kata orang di depannya itu.

“Iya, saya lupa-lupa ingat pak” jawab Reno.
“Bapakmu orang baik. Saya dulu ditolong, keluarga saya miskin. Bapakmu yang membiayai hidup saya. Sampai saya masuk militer dan dapat pangkat seperti sekarang, saya ndak lupa budi baik bapakmu” kata orang itu.
Reno terdiam, rupanya masih ada juga sisi baik ayahku, pikirnya.
“Sekarang kamu lari nak, jangan pernah muncul lagi. Larilah ke luar negeri. Negara ini ndak aman untuk orang-orang seperti kamu, nak”
“kalo saya lari nanti nasib bapak gimana? Kalo ketahuan bapak bisa dipecat” kata Reno.
“Gampang. Ini operasi siluman, seribu satu alasan siluman bisa dibuat. Yang penting kamu lari, selamatkan diri. Jangan pernah muncul lagi di sini” katanya.
“Baiklah, terima kasih pak. Sebelum saya pergi, ingatkanlah saya nama bapak, karena terus terang saya sudah lupa” kata Reno.

“Saya Ridwan Chaniago. Jangan lupa nama itu. Jangan lupa juga bahwa tidak semua orang militer itu jahat dan menindas nak, ada juga orang yang punya hati nurani” sambil berkata begitu, Ridwan menembakkan pistolnya enam kali ke atas. “Nah larilah, selamatkan dirimu, Ingat engkau sudah mati kena enam tembakanku” Ia berkata sambil tersenyum.

Reno pun tersenyum menciumi tangan orang itu. Ia lalu berlari menembus gelapnya malam.




No comments:

Post a Comment