IV. RENO: The Freedom Fighter
Suasana sekretariat Front Aksi
Kerakyatan (FAK) hari itu sungguh mencekam. Baru dua hari yang lalu mereka
menerima surat ancaman. Tadi malam, salah seorang anggota mereka ditemukan
tewas di kali Ciliwung. Ada bekas siksaan pada tubuhnya. Juga enam butir peluru
bersarang di dadanya. Para aktivis FAK yang mendengar hal ini kemudian
berkumpul di sekretariat untuk membahas kejadian ini.
“Ini jelas bukan kebetulan belaka.
Kematian Farhan pasti ada hubungannya dengan surat ancaman dua hari yang lalu.
Aku sudah bilang supaya kita menyingkir dulu, tapi kalian malah menganggap
surat itu hanya sebagai angin lalu. Beginilah jadinya” Andi Suleyman, kepala
divisi Litbang FAK, berbicara dengan berapi-api.
“Kita harus tenang. Langkah-langkah kita
harus taktis. Jangan karena ketakutan kita lari seperti ayam pengecut” Iksan
Valdanu, sekretaris FAK, menimpali.
“Apanya yang harus taktis jika
menyangkut nyawa?” nada suara Andi meninggi.” Yang harus kita lakukan adalah
menghilang secepatnya untuk sementara sampai suasana tenang kembali”
sambungnya.
“Kordinasi dengan kawan-kawan aktivis
dari organisasi lain harus secepatnya dilakukan sehingga kita bisa tahu sejauh
mana tingkat bahaya permasalahan ini” kali ini kepala divisi propaganda FAK,
Ruslan Andrika mencoba memberi usul.
“Temanmu sudah mati satu. Masih juga kau
pikir ini belum berbahaya?” nada suara Andi masih meninggi.
“Bukan itu maksudku…”
“Sudah teman-teman kini bukan saatnya
berdebat.” Reno memotong pertengkaran itu.
Rapat hari itu berlangsung sampai malam.
Keputusan yang diambil adalah bahwa semua
anggota harus bergerak terus menerus sambil tetap melakukan kontak antar
sesama. Untuk sementara kantor sekretariat ditutup sampai ada langkah-langkah
baru yang diambil. Suasana masih tegang.
***
Beberapa hari kemudian ditemukan lagi
mayat dipinggiran kota. Kali ini beserta sebuah surat ancaman di dalam saku
celananya. “UNTUK SEMUA ANGGOTA FAK, AMA, KOMA, DAN GEDOR: KALIAN TAK BISA LARI
DARI KEMATIAN. INI ADALAH BALASAN UNTUK KELANCANGAN KALIAN”.
Media massa mulai meliput kasus ini
besar-besaran. Kampus-kampus dimana organisasi-organisasi diatas bernanung
mulai terlihat tegang. Mahasiswa-mahasiswa memilih bungkam seribu bahasa ketika
ditanya wartawan tentang komentar mereka. Mungkin takut menjadi korban
berikutnya.
Korban pun semakin banyak yang
ditemukan. Andi Suleyman, Ruslan Andrika, dan beberapa orang lainnya ditemukan
tewas di tempat sepi dengan luka bekas siksaan dan luka tembak di dada. Banyak
spekulasi yang muncul mengenai siapa pelaku dari aksi berdarah ini. Banyak yang
bilang bahwa kaki tangan pemilik pabrik International Chemical Industry
lah pelakunya. Pabrik ini baru saja ditutup atas tuntutan aktivis dan
masyarakat karena dianggap sebagai penyebab pencemaran lingkungan yang
mengakibatkan musnahnya sebuah desa di daerah terpencil di jawa barat.
Ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa
aktivis-aktivis itu ‘dihabisi’ pemerintah karena pergerakan mereka dianggap
meresahkan. Spekulasi ini muncul karena di tubuh para korban ditemukan jenis
peluru yang hanya digunakan oleh aparat pemerintah.
Sedangkan sebagian kecil masyarakat
menganggap hal ini sama dengan kejadian ‘Petrus’ yang pernah terjadi di
Indonesia puluhan tahun yang lalu. Pada saat itu banyak preman yang dihabisi
secara misterius.
Namun dugaan bahwa korban-korban ini
dibunuh karena aktivitas politiknya mencuat sangat kuat. Hal ini dipertegas
dengan banyaknya bukti yang ditemukan serta keselarasan fakta-fakta yang ada.
Kenyataan ini membuat banyak organisasi ‘bertiarap’, mencoba untuk
menghindarkan diri dari pembunuhan-pembunuhan ini. Para aktivis yang dulu
santer berteriak-teriak, kini bagai hilang ditelan bumi. Mereka semua
menghilang, mencoba untuk menyelamatkan diri dari kekalutan ini, sambil
mengatur langkah dengan melihat situasi yang berkembang.
Reno adalah salah satunya. Ia kini hidup
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi Reno bukan tipe
pria penakut. Hidup berpindah-pindah baginya adalah bagai sebuah gerakan
gerilya Dari tempat kost teman yang satu ke teman yang lain. Ia sebisa mungkin
memilih teman yang tidak pernah terlibat langsung dengan aktivisme, sehingga
nama mereka tidak masuk dalam ‘daftar hitam’. Ada perasaan sungkan dalam
hatinya karena ia merasa menjadi beban bagi sahabat-sahabatnya itu. Untunglah
para sahabat yang disinggahinya satu persatu itu mampu mengerti kesulitannya.
Mereka pun dengan sukerela menyediakan tempat tinggal, makan dan minum, bahkan
juga uang saku untuk sekedar bertahan hidup sementara.
Dari tempat persembunyiannya, Reno
mencoba menyusun kekuatan para aktivis yang kini tercerai berai. Dikontaknya
satu persatu kawan-kawan seperjuangannya. Namun nomer telepon yang dihubungi
selalu tak pernah diangkat. Ia bingung harus melakukan apa. Apalagi ia kini tak
dapat bergerak bebas. Reno sengaja hanya bergerak di siang hari untuk
memperkecil kemungkinan buruk yang terjadi pada dirinya, karena dari kabar yang
didengarnya para korban hilang diculik pada malam hari. Ia pun sengaja memilih
melewati tempat-tempat ramai.
Hari demi hari berlalu, setiap hari
koran menulis tentang korban-korban baru yang berjatuhan. Membaca ini, hati
Reno bagai teriris-iris. Kawan-kawannya semakin banyak yang berguguran
sedangkan dia tak mampu melakukan apa-apa. Tetes airmata mengalir dari wajahnya
yang keras. Reno tak yakin apakah ini air mata kesedihan ataukah air mata
kemarahan. Ingin ia berbuat nekad, tapi berbuat nekad seperti apa?. Alangkah
percuma melakukan perbuatan nekad yang tak menghasilkan apa-apa, malah hanya
membuang nyawa dengan sia-sia.
Ia mencoba menguatkan hatinya bahwa ini
adalah konsekuensi logis dari pilihan hidupnya. Menjadi aktivis adalah menjadi
mayat hidup. Sudah ada kontrak mati yang ditekennya secara tidak langsung. Ia
memutuskan untuk bertahan. Menyerah berarti mati. Dicoba lagi untuk
mengingat-ingat kisah-kisah patriot yang pernah dibacanya. Kisah kepahlawanan
Che Guevara dalam bergerilya, kisah penderitaan Malcolm X yang hidupnya setiap
hari mendapat ancaman pembunuhan, dan masih banyak lagi. Hatinya menjadi
sedikit lebih tenang. “Orang-orang ini menyerahkan hidupnya demi kebenaran, dan
mati demi kebenaran. Alangkah indah hidup mereka” ia membatin.
Kini ia berada di sebuah kamar kost yang
sempit di sebuah daerah di pinggiran Jakarta. Boris, pemilik kamar kost yang
merupakan teman sekampusnya itu tadi pagi baru saja pulang kampung ke Medan.
“Ada urusan keluarga yang harus kuselesaikan” begitu katanya.
Reno kini sendirian di situ. Perutnya
keroncongan karena hampir seharian belum diisi. Keuangannya sudah semakin
menipis. Matanya berkeliaran disekeliling kamar mencoba mencari sesuatu yang
bisa dimakan. Rasa lapar dan lemas bisa ditahannya, tapi perut yang kosong
membuat otaknya tak bisa berpikir. Kamar ini sempit sekali, panas pula
pikirnya. Hanya ada satu pintu dan dua buah jendela. Lemari pakaian, rak buku,
sebuah meja dan seperangkat komputer diatasnya. Kasur tempatnya berbaring
terasa tipis, rasanya tak jauh beda dengan tidur diatas karpet. Hmmm, tak ada
yang bisa ku makan, pikirnya. Ia tidak terlalu menyalahkan Boris karena tak
meninggalkan apapun yang bisa mengganjal perutnya. Diberi ‘penampungan’ seperti
ini saja sudah merupakan berkah bagi Reno.
Ia mencoba mengalihkan pikiran dari rasa
laparnya. Namun badannya terasa lemas sekali. “Beginikah nasib para gerilyawan
di hutan?” pikirnya, “Hidup tak karuan makan tak tentu, meninggalkan kehidupan
yang normal hanya untuk sesuatu yang tak pernah pasti”. Ia kini berbaring.
Sunyi senyap di luar. Hanya bunyi sekumpulan nyamuk di dalam kamar ini yang
menemaninya. Saat itu sudah jam 11 malam. “Orang-orang pasti sudah tidur”
batinnya. Rasa lemas membuatnya mengantuk. Tak berapa lama ia pun tertidur.
Bunyi nyamuk-nyamuk yang ganas sudah tak lagi dihiraukannya. “Semoga aku
mendapat pahala karena menyumbangkan darah untuk makhluk-Mu yang kelaparan,
Tuhan” begitu doanya dalam hati.
***
Reno tersentak kaget ketika suara pintu
didobrak menyadarkannya dari lelap yang cuma sebentar. Beberapa orang bertopeng
sudah ada di kamar itu. Menodongkan senjata, “Ayo menyerah!” kata mereka.
“Akhirnya kalian datang juga” kata Reno
sambil tersenyum pahit, “Sudah lama dinanti. Susah gak pak nyari alamatku?”
candanya. Sebuah tendangan dari kaki yang bersepatu lars menyantap wajahnya. “Diam
kamu!” hardik pemilik kaki itu. Reno yang sedang berlutut saat itu terjungkal
ke belakang. Ada rasa asin di mulutnya, bercampur panas dan sakit. Matanya pun
mengabur, seribu kunang-kunang datang menyapa. Ia masih merasakan betapa mereka
mengikat tangannya dengan kasar. Lalu setelah itu ia pingsan.
Reno terbangun ketika kepalanya diguyur
seember air dingin. “Aku dimana? Di surga atau neraka?” pikirnya dalam hati.
Kepalanya sakit sekali. Seluruh pandangannya kabur, namun tak berapa lama
perlahan-lahan menerang. Matanya kini sudah mulai bisa menangkap bayangan,
semakin lama semakin jelas. Lalu tampak padanya beberapa pria bertopeng yang
berdiri di hadapannya. Ia kini berada di tengah sebuah ruangan sempit dan
gelap. Hanya ada sebuah lampu ber-watt kecil yang menerangi ruangan itu. Ia
duduk di kursi, sedang kedua tangannya terikat di sandaran kursi itu.
“Hey anjing, bangun kau” kata seorang di
depannya.
“Ini dia jagoannya.” kata yang seorang
lagi.
Reno tersenyum.
“Hebat kau bisa senyum, tapi gue pengen
tau apa lu bisa senyum beberapa menit lagi” kata salah seorang yang lain.
“Hey anjing, gue pengen tanya, lu jawab
dengan benar, mengerti?” kata salah seorang.
“Kalo benar hadiahnya apa pak?” tanya
Reno sambil tersenyum lagi.
“Bangsat!” sebuah bogem mentah mendarat
di wajahnya.
“Ya Allah!” Reno mengaduh dengan
menyebut nama Tuhan.
“Hah! Lu sudah deket mati baru ingat
Tuhan. Komunis macam kalian memang kayak anjing!” salah seorang menghardiknya.
“Saya bukan komunis pak” Reno membantah.
“Alah! Alasan! kalian itu pemberontak-pemberontak.
Mau merusak negara. Lihat aja negeri ini kacau gara-gara kalian. Bisanya protes
kesana kemari. Bikin rakyat resah. Memang dasar komunis bisanya bikin kacau”
kata salah seorang.
Reno diam, berdebat dengan orang-orang
ini seperti berdebat dengan kamar mandi. Tapi ia kemudian berkata, “Tidak semua
yang suka protes itu komunis pak”
“Hah diem lu. Udah mau mati juga” bentak
salah seorang.
“Hey anjing, siapa nama lengkap lu?”
tanya salah seorang.
“Reno Wicaksono” jawabnya
“Umur?” tanya yang seorang itu.
“24 tahun”
“Kuliah dimana?”
“Universitas Pahlawan, jurusan
kedokteran dan hukum”
“Nama orang tua?”
“Ayah saya namanya Rafael Wicaksono, ibu
saya…”
“Sebentar!” potong si penanya “Rafael
Wicaksono yang menteri itu?”
“Benar”
“Lu itu gila, bapak lu menteri, tapi lu
jadi tukang protes di jalan-jalan” kata salah seorang.
“Wah gawat nih, kita lapor atasan dulu.
Jangan sampai nanti dimarahin karena kesalahan tangan” kata yang seorang lagi.
Orang-orang itu lalu keluar ruangan,
nampaknya untuk membahas sesuatu. Reno tersenyum pahit. Kali ini nama ayahnya
akhirnya dipakai juga, padahal ia sudah berjanji untuk tidak pernah
membawa-bawa nama ayahnya dalam urusan apapun. Teringat ia akan pertengkarannya
dengan ayahnya itu. Sebagai orang pemerintahan ayahnya jelas tidak setuju
dengan aktivitas Reno yang dianggap subversif. Namun Reno tetap bertahan dengan
pendiriaannya. Baginya kebenaran adalah kebenaran, dan harus diperjuangkan.
Pertengkaran ini membuat Reno diusir dari rumah. Sejak saat itu ia tak pernah
lagi berurusan dengan keluarganya. Ia akhirnya membiayai hidup dengan mengajar
les privat. Kebetulan sejak kecil Reno memang sudah belajar piano dan gitar
klasik. Biaya kuliah pun tidak menjadi beban yang berat karena ia mendapat
bantuan beasiswa ‘akibat’ otaknya yang cerdas. Hidup seperti itu membuat Reno
semakin tegar dan mandiri. Ia tak pernah kehilangan semangat dan keceriaannya.
Namun ia juga tak pernah melupakan ‘dendam’nya terhadap ayahnya yang
dianggapnya sebagai antek-antek penindas. Ia pun sengaja memberitahu nama
ayahnya kepada para penculik itu bukan untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi
untuk membuat malu ayahnya!.
Rapat para penculik berlangsung lama.
Mereka sepertinya bingung untuk melakukan tindakan. Reno pun dibiarkan sendirian
di ruangan itu selama berhari-hari. Pada jam-jam tertentu salah seorang dari
penculik datang untuk memberinya makan. Reno hanya bisa pasrah. Ia memang tak
pernah berpikir bisa lolos dari penculikan dan pembunuhan ini. Karena ia sadar
bahwa ia adalah salah satu target utama dari aksi berdarah ini. Namanya berada
dalam urutan teratas organisasi. Ia pun aktif dalam penggalangan massa, dan
pendampingan advokasi untuk rakyat kecil. Kegiatan semacam itu memang dianggap
subversif oleh pemerintah, dan sudah pasti mereka gerah melihat tindak
tanduknya.
Pada malam kelima para penculik memasuki
ruangan. Reno sadar bahwa ini mungkin saat penentuan hidupnya. Ia mungkin
dibebaskan mungkin juga dibunuh. Ia mengangkat kepala memandang mereka, lalu
mengucapkan kata-kata dari Che Guevara, seorang tokoh yang sangat dikaguminya,
“I know you are here to kill me. Shoot, coward, you are
only going to kill a man”.
“Haha. Untuk
orang yang sudah mau mati, lu termasuk orang yang berani” kata salah seorang.
Mereka lalu
membuka ikatan tangannya, dan menyuruhnya jalan. Reno berjalan dengan
tertatih-tatih karena sudah lima hari ia duduk terus. Ia berjalan di tengah
para penculik bertopeng yang menodongkan pistol ke kepalanya. Seseorang menutup
matanya dengan selembar kain.
Dalam
kegelapan malam mereka berjalan menuju suatu tempat sepi. Banyak ilalang dan
tumbuhan. Rupanya mereka berada di sebuah hutan yang sepi. Setelah tiba di
tempat yang dituju, Reno merasa kaget karena ternyata ia tidak sendiri. Ada
beberapa orang yang menjadi korban penculikan seperti dirinya. Ini diketahuinya
dari suara-suara minta ampun yang menyedihkan.
“Ampun pak,
ampun. Jangan bunuh saya. Saya hanya ikut-ikutan.” begitu suara yang didengar
Reno.
“Iya pak,
jangan bunuh kami pak, kami ndak tau apa-apa” kata yang lainnya.
Mendengar
ini Reno marah sekali. Beginikah mental seorang pejuang kebenaran? Ia
pun berteriak, “Hentikan kebodohan kalian. Nyawa kalian sudah terjual semenjak
kalian memutuskan menjadi aktivis. Memohon-mohon ampun seperti ini hanyalah
tindakan pengecut” bentaknya.
Lalu
ramailah para korban penculikan itu bertengkar. Para penculik membiarkan
pertengkaran ini, salah seorang dari mereka berseloroh, “Ya begini ini para
aktivis, udah mau mati masih juga berdebat”.
Tapi
perdebatan itu tidak berlangsung lama karena para korban sudah disuruh
berbaris. Reno berada dalam urutan paling belakang. Lalu ia mendengar suara
tembakan. Satu persatu tembakan itu mengambil nyawa para aktivis. Suara
tembakan itu semakin dekat, sepertinya kematiannya sudah di depan mata. Suara
itu semakin dekat. Dor, dor, dor, “Ya Tuhan ambillah nyawaku, dan catatlah aku
sebagai orang yang memperjuangkan kebenaran” ia berdoa di dalam hati.
Dor, dor,
dor, satu persatu suara tembakan, semakin dekat dan dekat. Bahkan Reno sudah
mulai mencium bau amis dari darah korban depan yang bercipratan di wajahnya.
Sudah ada beberapa korban yang mati, Reno menduganya dari suara gedebukan tubuh
manusia yang roboh ke tanah. Tinggal sebentar lagi umurku, tinggal sebentar
lagi aku bertemu Tuhanku, begitu batinnya.
Dan sebuah
pistol akhirnya menempel di keningnya, “Inilah saatnya.., Ya Allah terimalah
aku” Reno berdoa.
“Tunggu!”
sebuah bentakan menghentikan jari yang hampir menarik pelatuk.
“Ada apa
pak?” tanya sang eksekutor.
“Aku kenal
dengan ayah orang ini. Dan aku punya dendam pribadi dengan keluarganya. Biar
aku saja yang menyelesaikan anak ini.” Kata orang itu. “Urusan ini hanya bisa
diselesaikan antara dua lelaki. Biar dia kubawa ke bagian dalam hutan. Kuhabisi
dia disana.” Lanjutnya lagi.
“Terserah
bapak, bapaklah komandan disini” jawab yang lainnya.
“Kalian
masukkan mayat-mayat itu kedalam lubang yang sudah kita siapkan. Lalu tunggu
Aku di mobil” kata sang ‘komandan’.
“Baik pak”
jawab semua.
Reno pun
dibawa masuk ke bagian hutan yang lebih dalam. Tangannya masih terikat. Setelah
berjalan beberapa ratus meter jauhnya, mereka lalu berhenti. Tutup matanya
dibuka. Dalam gelap samar-samar Reno sepertinya mengenal wajah orang ini.
“Kamu
mungkin sudah lupa sama aku nak, waktu kamu kecil aku pernah jadi sopir
bapakmu” kata orang di depannya itu.
“Iya, saya
lupa-lupa ingat pak” jawab Reno.
“Bapakmu
orang baik. Saya dulu ditolong, keluarga saya miskin. Bapakmu yang membiayai
hidup saya. Sampai saya masuk militer dan dapat pangkat seperti sekarang, saya ndak
lupa budi baik bapakmu” kata orang itu.
Reno
terdiam, rupanya masih ada juga sisi baik ayahku, pikirnya.
“Sekarang
kamu lari nak, jangan pernah muncul lagi. Larilah ke luar negeri. Negara ini ndak
aman untuk orang-orang seperti kamu, nak”
“kalo saya
lari nanti nasib bapak gimana? Kalo ketahuan bapak bisa dipecat” kata Reno.
“Gampang.
Ini operasi siluman, seribu satu alasan siluman bisa dibuat. Yang penting kamu
lari, selamatkan diri. Jangan pernah muncul lagi di sini” katanya.
“Baiklah,
terima kasih pak. Sebelum saya pergi, ingatkanlah saya nama bapak, karena terus
terang saya sudah lupa” kata Reno.
“Saya Ridwan
Chaniago. Jangan lupa nama itu. Jangan lupa juga bahwa tidak semua orang
militer itu jahat dan menindas nak, ada juga orang yang punya hati nurani”
sambil berkata begitu, Ridwan menembakkan pistolnya enam kali ke atas. “Nah
larilah, selamatkan dirimu, Ingat engkau sudah mati kena enam tembakanku” Ia
berkata sambil tersenyum.
Reno pun
tersenyum menciumi tangan orang itu. Ia lalu berlari menembus gelapnya malam.
No comments:
Post a Comment